Wednesday, April 3, 2019

Udah sukses sekarang, pinjam duit dong!

with 0 Comment
"P"

Adalah singkatan dari 'PING'. Sebuah pembuka percakapan dari orang yang gagal move on dari aplikasi chat zaman prasejarah, BBM. Kukira udah punah sama sekali, ternyata masih aja orang bernostalgia.

Intinya, udah bisa dipastikan, orang yang memulai chat dengan "P" mustahil ane gubris.

"Apa kabar?"

Adalah sebuah frasa lanjutan, biasanya kalimat ini keluar dari jempol kawan yang udah lama nggak ketemu, bahkan lama nggak kontak.

Lagi-lagi, nggak bakal ane hiraukan. Kenapa tanyamu? Because i hate talking bullsh!t, ane nggak suka basa basi model ini.

"Wah sombong"

Ini adalah tuduhan ngasal. Desperate nggak ada chat balasan, lalu dia melakukan konfrontasi. Berharap akan ada respon.

Well.. kalau sombong atau tidaknya orang diukur dari balesin chat, maka yes.. saya adalah orang paling sombong sedunia.

"Udah sukses trus sombong"

Lagi-lagi.. ini tuduhan berat. Sukses atau enggak, diukur dari mana? Lagian kalau ane udah sukses mah pasti udah kabur dari Indonesia. Minimal bakal hijrah ke Canada, tinggal dan menetap di sana.



"Pel.."

Adalah nickname, alias nama panggilanku. 

Here is the thing..

Memang benar, namanya adalah aplikasi chat instan. Maksudnya bukan seperti berkirim surat yang butuh waktu ekpedisi. Dengan menggunakan aplikasi instant text messaging (misalnya WA), apa yang ditulis bisa langsung nyampe, secara instan. Namun bukan berarti harus dibalas instan jugak. Ok?

Bisa jadi orang ybs lagi tidur, yang mana mustahil balesin chat (yaiyadong), 

Mosok orang lagi tidur dibilang sombong?

Atau mungkin nggak bisa bales chat karena masih sibuk. 

Nggak lucu kan kalau lagi nyetir disuruh bales chat, misalnya. Sombong gitu? nggak ah.

ATAU... emang ogah menanggapi, emang sengaja mengabaikan chat nggak penting. Bisa jadi kan?

Hmmmm...

Apa susahnya sekedar menanggapi "Oh hey.. kabarku masih normal, ada apakah gerangan?" Gampang kan?

Gini loh, jutaan tahun yang lalu, beberapa kali pernah terjadi fenomena serupa, dan semuanya berakhir buruk.

Sebagian menciptakan permusuhan, sebagian lagi mengakibatkan kerugian materi salah satu pihak.

Katanya "Pengalaman adalah guru terbaik" atau "Jangan jatuh di lubang yang sama". So daripada resiko, iya kan?

Lagipula saya adalah tipe manusia introvert garis keras dan sosiopat level 4, jadi yah.. everything is good for me.

Old friends stay friends, i don't wanna make enemies.

Lagipula, nggak ada kewajiban membalas chat. Dicuekin juga nggak dosa.

"Ada duit nggak?"

Finally, apa yang sebelumnya hanya suudzon, akhirnya terbukti. Tujuan dia (seorang kawan lama, btw) tumben-tumbenan ngechat adalah untuk cari duit.

Saya ini tipe makhluk yang susah membedakan antara orang cari duit atau cari mangsa. 

Yes, karena beberapa kali pengalaman dijadiin mangsa. Ada sebagian orang yang awalnya kuanggap teman, justru dengan brutal memangsa. Ternyata mereka menganggap dirinya adalah predator. Semacam macan atau singa, dan saya adalah babi hutan.

It broke my heart you know.. I thought we were friends, i thought we were equal.

Ternyata mereka dengan kejam meminjam uang tanpa ada hati untuk mengembalikan.

Hard to trust people these days.

"Pinjem dong"

"Bos"

"P"

"P"

"Yang udah sukses, sombong sekarang"

By the way, jadi mendadak mual kalau ada orang manggil dengan sebutan 'Bos'. 

Entahlah setiap kali ada orang memanggil "Bos", insting primitif untuk bertahan hidup langsung mengambil alih. Seolah ada teriakan di dalam hati "Orang ini ada maunya!", "Orang ini pendusta!", "Orang ini pengkhianat nggak bisa dipercaya!" udah otomatis aja gitu.

Lagi-lagi dia memakai "P", lagi-lagi dia menuduhku dengan gelar sukses, plus sombong.

"Well.. kan saya sombong, jadi maklum aja kalau chat kamu kuabaikan, ngapain pula harus minjemin duit"

Tapi berhubung ini kawan lama, yang sejujurnya.. belakangan ini udah lupa. Jadi penasaran lagi sama ini orang. Saya coba cari Instagramnya.

Dan.. yes! Seperti halnya generasi milenial pada umumnya.

Di IG penuh dengan foto-foto traveling, wisata kuliner dan berbagai gaya hedon lainnya.

Sebelum salah sangka, saya sendiri nggak ada masalah sama orang yang bergaya mewah di social media, asal dia punya duit, ya kan? Semua orang berhak bahagia dengan caranya masing-masing. Jika dengan pamer ini dan itu bisa bikin bahagia, yah silahkan. Hidup cuma sekali, wajib dinikmati, resiko tanggung sendiri.

Apalagi kalau ada endorsemen, malah bisa jadi kerjaan yang menghasilkan.

Tapi.. kalau nggak ada duit memaksakan diri bertingkah mewah, yah gimana..

Masak mau jalan-jalan pake duit temen? Masak mau wisata kuliner minta dibiayai temen.

Cuma atas nama gengsi, temen sendiri dimangsa.



Bro.. ane traveling sehari-hari cuma ke kolam atau ke kebun doang, kok dituduh sukses. Sedangkan kamu hobi traveling ke berbagai penjuru propinsi, kok malah mau minjem duit.

Ane kalau beli barang di Bukalapak masih pake filter relevansi 'TERMURAH'. Nyari barang diurut dari harga termurah, lokasi terdekat biar irit ongkir, dst.. kok ya dikatain sombong.

Masak iya kamu hobi wisata kuliner kok mau minjem duit sama orang yang sehari-hari sarapan megono dan makan nasi rames? 

Kamu udah punya anak istri, hobi pamer foto-foto 'harmonis', berharap dicap sebagai keluarga idaman. Lhakok berani-beraninya nekat minjem uang ke orang yang baru cerai. Well.. F'CK YOU!!

Diterawang dari profil IG, kamu jauh lebih sukses dariku.. so..

Lain kali, kalau mau pinjem duit, hapus dulu profil instagram kamu, okay? Itu semacam portofolio pribadi, representasi diri. Biar lebih terpercaya gitu, he he.. jadi nggak bikin sakit hati calon mangsamu.

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Channelku

Artikel Acak

Lagi Trending