Monday, April 8, 2019

Gaya Hidup Minimalis Level Ekstrim

with 0 Comment
Nyari ide nonton- nonton video YouTube, cuma liat-liat orang bule membangun rumah tipe minimalis. Model rumah simpel, nggak terlalu banyak ornamen. Fungsional dan mudah maintain. Soalnya lagi tertarik banget tentang ini.

Karena banyak juga orang yang hidupnya "sia-sia" diperbudak rumah. 

Udah rumahnya luas, banyak ruangan, banyak perabotan, banyak hiasan, dst.. akhirnya ribet dalam hal perawatan. Banyak waktu dihabiskan cuma untuk bersih-bersih, banyak energi dikeluarkan cuma untuk perawatan.

Tapi mau gimana lagi, sebagian orang lebih suka hidup model begitu.

Well.. awalnya cuma iseng nyari inspirasi dan tutorial-tutorial membangun rumah tipe minimalis, malah akhirnya terjerumus ke dalam dunia gelap (e.g. lifestyle video) gaya hidup aliran minimalis.

Dari sekian video yang saya tonton, ternyata ada beberapa level minimalisme.



Minimalisme level ekstrim

- Punya barang 3 bulan nggak dipakai, bakar. 

Bahkan nggak kenal opsi dibuang, karena dianggap hanya akan menimbulkan masalah baru, yaitu sampah.

Alternatif lain, dijual. Akan jauh lebih bermanfaat dalam bentuk uang. Jual semua barang yang bisa dijadiin duit.

Masalahnya.. nggak semua barang bisa dijual. Nggak semua barang itu bernilai di mata orang lain.

Contoh paling gampang, baju bekas. Normalnya orang sehari-hari hanya mengenakan beberapa lembar baju. Tapi liat aja di dalam lemari, pasti udah penuh pakaian. Dan ini dianggap sia-sia, karena banyak pakaian yang bahkan bertahun-tahun tak tersentuh.

Sayangnya, dijualpun nggak laku. Solusinya.. bakar.

Kalau donasi? Mereka anggap ini hanya mengoper sampah. 

Kecuali ada peristiwa khusus, misalnya bencana besar di suatu tempat. Maka donasi pakaian bekas akan sangat bermanfaat bagi penerima (korban bencana). Namun tidak setiap hari ada bencana alam, bukan?

Jadi mereka pikir, sumbangan pakaian bekas hanya sekedar memindahkan sampah, di mana penerima donasi (kemungkinan besar) juga sudah punya  (satu atau lebih) lemari penuh dengan pakaian. Hingga pakaian itu sama-sama hanya akan menjadi tumpukan sampah yang berpindah tempat.

Jadi, untuk barang yang bisa terbakar, mereka akan bakar, untuk barang yang tak bisa terbakar, mereka akan recycle, atau semacam daur ulang, membuat barang baru yang fungsional dan bermanfaat sehari-hari.

Nah, setelah berhasil menyingkirkan barang-barang mubazir, tahap selanjutnya adalah :

- Hindari segala bentuk koleksi, kecuali aset

Aset adalah simpanan barang yang seiring waktu nilainya akan bertambah. Setiap tahun harganya naik. Misalnya tanah dan properti. Inipun 'haram' hukumnya untuk ditahan. Jika kondisi membutuhkan, maka bebas dijual, tak boleh ada sentimen sedikitpun.

Sedangkan liabilitas adalah simpanan barang yang seiring waktu terjadi penyusutan, alias nilainya turun. Misalnya kendaraan, gadget, perabotan, dll. Bagi mereka yang berfaham minimalis level ekstrim, mengoleksi liabilitas adalah bunuh diri. Punya satu aja udah cukup.

Dan mereka tidak akan pelit soal ini, walau punya satu, mereka tak ragu untuk membeli barang yang mahal dan berkualitas tinggi.


OPINION :

Mungkin akan ada perasaan lega bukan main ketika berhasil menyingkirkan barang-barang mubazir. Apalagi kalau berhasil dijual, jadi banyak duit, mulai dari nol. Kayaknya seru nih.

Tapi kalau dibakar, sayang ya.. mudah-mudahan nggak sampai terpengaruh faham minimalis garis keras model ini.

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Channelku

Artikel Acak

Lagi Trending