Thursday, April 11, 2019

Sosial Media Update

with 0 Comment
Twitter


Terakhir buka akun twitter ini cuma buat hapus-hapusin twit. Banyak hal memalukan di sana, jadi kudu dibumihanguskan biar nggak ada jejak. Lalu gembok akun biar nggak semua orang bisa buka profil.

Abis itu udah nggak pernah dibuka lagi dan sekarang malah lupa passwordnya. Bahkan lupa pake email yang mana. Jadi butuh waktu kalau mau dibangkitkan lagi buat reset password. Tapi yaudahlah nggak penting pula. Nggak ada niat sedikitpun buat reset, mending bikin akun twitter baru.

Lagian kalau lagi pengen ngecek info-info terbaru di twitter juga nggak perlu punya akun nggak masalah.

Instagram


Akun Instagram ini juga udah nggak pernah dibuka, mungkin udah jutaan tahun lupa password. Kecuali beberapa bulan lalu sempat coba reset karena ada notifikasi aneh. Itupun cuma sekali dan udah nggak pernah dibuka lagi.

Sekarang udah lupa lagi password terakhirnya apa. Lagian juga udah punya akun yang baru. Walaupun sama sekali nggak pernah update, bahkan nggak punya folower.

Jadi akun Instagram yang baru cuma dijadiin hiburan kalau lagi pengen liat-liat foto/video meme lucuk.

Pengen banget hapus akun lama, tapi masih malas meluangkan waktu buat reset password lagi, karena udah lupa juga pake email yang mana.


Facebook


Udah nggak kedetek sama sekali. Bahkan nggak bisa dicari pake nama asli.

Ada akun Facebook baru, cuma untuk jual beli. Friendlist nggak ada satupun orang yang kenal personal. Dibuka paling seminggu sekali buat ngecek grup, itupun cuma beberapa menit selesai. Sengaja nggak mau berlama-lama biar nggak keracunan.

Monday, April 8, 2019

Pembeli Bukalapak Lama Konfirmasi Terima Barang

with 0 Comment
"Catetan ini cuma untuk jaga-jaga, kali besok ada masalah."


Jualan kamera di Bukalapak. Dapat order hari sabtu. Dari orang Gresik, Jatim

Hari Senin, paketan udah nyampai ke alamat tujuan. Input data JNT jam 18:11. 

Jika sprinter berangkat dari konter JNT kecamatan Driyorejo jam 09:26, maka kemungkinan (logikanya) barang sampai pada siang hari jam kerja. Maksimal sore hari lah, walau ini agak aneh, soalnya alamat tujuan berlokasi di depan Balai Desa Driyorejo, tapi oke.. ada kemungkinan lah. Plus, lagian ini layanan reguler, bukan layanan kilat 'sehari sampai' di mana kadang malam hari baru terkirim. 

Intinya, jam 18:11 cuma sekedar JNT input data, nyatanya paketan pasti udah nyampe sebelum jam itu.

Kronologi tambahan :

Order diterima tanggal 6, hari Sabtu pada waktu subuh. Kemudian barang dikirim di hari yang sama (Sabtu) sekitar jam 10 pagi dari Konter JNT Wonosobo di Sapen. Lalu tanggal 8, hari Senin paketan udah sampai alamat tujuan.

Menurutku ini udah luar biasa cepat, ekspedisi dari Wonosobo Jateng ke Gresik Jatim hanya 2 hari udah sampai. Berdasarkan pengalaman, ini udah lumayan spektakuler.

Unfortunately..

Sayangnya, respon pembeli malah sebaliknya. Sampai hari ini, Selasa tanggal 9  April 2019 waktu dzuhur, buyer belum melakukan konfirmasi terima barang sama sekali.

Padahal saya sebagai seller udah mendapat notifikasi barang terkirim dari JNT maupun Bukalapak via email, no Hp, notif aplikasi HP, bahkan di web bukalapak juga udah ada notifikasi barang sampai SEjAK KEMARIN.

Artinya, paketan udah 100% sampai alamat tujuan, TAPI dana belum bisa cair kalau belum ada konfirmasi dari pembeli.


Di sini daku nunguin duit cair, lhakok dikau malah mendadak ngilang. Waktu order rajin ngechat, waktu terima barang malah jadi pemalas. Nggak mau konfirmasi terima barang. 

Bahkan dichat untuk segera konfirmasi terima barang (sejak tadi malam), nggak ada respon. PADAHAL berkali-kali ONLINE. Buyer model begini yang bikin gregetan..


Cuma ada balasan pesan bot cobak!

Statusnya Pelapak Premium, Foto profilnya memakai kaligrafi ALLAH, cover lapaknya menggunakan kaligrafi Bismillah, tapi kelakuannya antagonis.


Mungkin karena dia juga jualan di Bukalapak, jadi MUNGKIN kaligrafi ini agar menarik pembeli. Biar calon pembelinya berfikir "Wah ini seller relijius, pasti jujur". Mungkin loh ya.. nyatanya mah gatau, mungkin beneran relijius.


Tapi kok giliran jadi pembeli... nggak mau konfirmasi barang sampai? Malah menahan dana.

Lucky me..

Untungnya, ada kebijakan Bukalapak kurang lebih gini :

Jika pembeli tidak melakukan konfirmasi barang sampai, maka dana akan ditransfer otomatis setelah 2 hari kepada penjual dan penjual akan mendapat feedback positif dari Bukalapak. Tunggu aja besok.

Eh tapi khusnudzon aja deh.. siapa tau buyer nggak konfirmasi karena emang nggak bisa konfirmasi. Bisa jadi emang lagi pingsan dari kemarin.. atau abis terima barang lalu mendadak amnesia.. oh atau tangannya mendadak lumpuh jadi nggak mampu ngeklik sekali aja... atau jangan2.. mati.

Iya.. bisa jadi dia mati.. Innalilahi..

Gaya Hidup Minimalis Level Ekstrim

with 0 Comment
Nyari ide nonton- nonton video YouTube, cuma liat-liat orang bule membangun rumah tipe minimalis. Model rumah simpel, nggak terlalu banyak ornamen. Fungsional dan mudah maintain. Soalnya lagi tertarik banget tentang ini.

Karena banyak juga orang yang hidupnya "sia-sia" diperbudak rumah. 

Udah rumahnya luas, banyak ruangan, banyak perabotan, banyak hiasan, dst.. akhirnya ribet dalam hal perawatan. Banyak waktu dihabiskan cuma untuk bersih-bersih, banyak energi dikeluarkan cuma untuk perawatan.

Tapi mau gimana lagi, sebagian orang lebih suka hidup model begitu.

Well.. awalnya cuma iseng nyari inspirasi dan tutorial-tutorial membangun rumah tipe minimalis, malah akhirnya terjerumus ke dalam dunia gelap (e.g. lifestyle video) gaya hidup aliran minimalis.

Dari sekian video yang saya tonton, ternyata ada beberapa level minimalisme.



Minimalisme level ekstrim

- Punya barang 3 bulan nggak dipakai, bakar. 

Bahkan nggak kenal opsi dibuang, karena dianggap hanya akan menimbulkan masalah baru, yaitu sampah.

Alternatif lain, dijual. Akan jauh lebih bermanfaat dalam bentuk uang. Jual semua barang yang bisa dijadiin duit.

Masalahnya.. nggak semua barang bisa dijual. Nggak semua barang itu bernilai di mata orang lain.

Contoh paling gampang, baju bekas. Normalnya orang sehari-hari hanya mengenakan beberapa lembar baju. Tapi liat aja di dalam lemari, pasti udah penuh pakaian. Dan ini dianggap sia-sia, karena banyak pakaian yang bahkan bertahun-tahun tak tersentuh.

Sayangnya, dijualpun nggak laku. Solusinya.. bakar.

Kalau donasi? Mereka anggap ini hanya mengoper sampah. 

Kecuali ada peristiwa khusus, misalnya bencana besar di suatu tempat. Maka donasi pakaian bekas akan sangat bermanfaat bagi penerima (korban bencana). Namun tidak setiap hari ada bencana alam, bukan?

Jadi mereka pikir, sumbangan pakaian bekas hanya sekedar memindahkan sampah, di mana penerima donasi (kemungkinan besar) juga sudah punya  (satu atau lebih) lemari penuh dengan pakaian. Hingga pakaian itu sama-sama hanya akan menjadi tumpukan sampah yang berpindah tempat.

Jadi, untuk barang yang bisa terbakar, mereka akan bakar, untuk barang yang tak bisa terbakar, mereka akan recycle, atau semacam daur ulang, membuat barang baru yang fungsional dan bermanfaat sehari-hari.

Nah, setelah berhasil menyingkirkan barang-barang mubazir, tahap selanjutnya adalah :

- Hindari segala bentuk koleksi, kecuali aset

Aset adalah simpanan barang yang seiring waktu nilainya akan bertambah. Setiap tahun harganya naik. Misalnya tanah dan properti. Inipun 'haram' hukumnya untuk ditahan. Jika kondisi membutuhkan, maka bebas dijual, tak boleh ada sentimen sedikitpun.

Sedangkan liabilitas adalah simpanan barang yang seiring waktu terjadi penyusutan, alias nilainya turun. Misalnya kendaraan, gadget, perabotan, dll. Bagi mereka yang berfaham minimalis level ekstrim, mengoleksi liabilitas adalah bunuh diri. Punya satu aja udah cukup.

Dan mereka tidak akan pelit soal ini, walau punya satu, mereka tak ragu untuk membeli barang yang mahal dan berkualitas tinggi.


OPINION :

Mungkin akan ada perasaan lega bukan main ketika berhasil menyingkirkan barang-barang mubazir. Apalagi kalau berhasil dijual, jadi banyak duit, mulai dari nol. Kayaknya seru nih.

Tapi kalau dibakar, sayang ya.. mudah-mudahan nggak sampai terpengaruh faham minimalis garis keras model ini.

Wednesday, April 3, 2019

Udah sukses sekarang, pinjam duit dong!

with 0 Comment
"P"

Adalah singkatan dari 'PING'. Sebuah pembuka percakapan dari orang yang gagal move on dari aplikasi chat zaman prasejarah, BBM. Kukira udah punah sama sekali, ternyata masih aja orang bernostalgia.

Intinya, udah bisa dipastikan, orang yang memulai chat dengan "P" mustahil ane gubris.

"Apa kabar?"

Adalah sebuah frasa lanjutan, biasanya kalimat ini keluar dari jempol kawan yang udah lama nggak ketemu, bahkan lama nggak kontak.

Lagi-lagi, nggak bakal ane hiraukan. Kenapa tanyamu? Because i hate talking bullsh!t, ane nggak suka basa basi model ini.

"Wah sombong"

Ini adalah tuduhan ngasal. Desperate nggak ada chat balasan, lalu dia melakukan konfrontasi. Berharap akan ada respon.

Well.. kalau sombong atau tidaknya orang diukur dari balesin chat, maka yes.. saya adalah orang paling sombong sedunia.

"Udah sukses trus sombong"

Lagi-lagi.. ini tuduhan berat. Sukses atau enggak, diukur dari mana? Lagian kalau ane udah sukses mah pasti udah kabur dari Indonesia. Minimal bakal hijrah ke Canada, tinggal dan menetap di sana.



"Pel.."

Adalah nickname, alias nama panggilanku. 

Here is the thing..

Memang benar, namanya adalah aplikasi chat instan. Maksudnya bukan seperti berkirim surat yang butuh waktu ekpedisi. Dengan menggunakan aplikasi instant text messaging (misalnya WA), apa yang ditulis bisa langsung nyampe, secara instan. Namun bukan berarti harus dibalas instan jugak. Ok?

Bisa jadi orang ybs lagi tidur, yang mana mustahil balesin chat (yaiyadong), 

Mosok orang lagi tidur dibilang sombong?

Atau mungkin nggak bisa bales chat karena masih sibuk. 

Nggak lucu kan kalau lagi nyetir disuruh bales chat, misalnya. Sombong gitu? nggak ah.

ATAU... emang ogah menanggapi, emang sengaja mengabaikan chat nggak penting. Bisa jadi kan?

Hmmmm...

Apa susahnya sekedar menanggapi "Oh hey.. kabarku masih normal, ada apakah gerangan?" Gampang kan?

Gini loh, jutaan tahun yang lalu, beberapa kali pernah terjadi fenomena serupa, dan semuanya berakhir buruk.

Sebagian menciptakan permusuhan, sebagian lagi mengakibatkan kerugian materi salah satu pihak.

Katanya "Pengalaman adalah guru terbaik" atau "Jangan jatuh di lubang yang sama". So daripada resiko, iya kan?

Lagipula saya adalah tipe manusia introvert garis keras dan sosiopat level 4, jadi yah.. everything is good for me.

Old friends stay friends, i don't wanna make enemies.

Lagipula, nggak ada kewajiban membalas chat. Dicuekin juga nggak dosa.

"Ada duit nggak?"

Finally, apa yang sebelumnya hanya suudzon, akhirnya terbukti. Tujuan dia (seorang kawan lama, btw) tumben-tumbenan ngechat adalah untuk cari duit.

Saya ini tipe makhluk yang susah membedakan antara orang cari duit atau cari mangsa. 

Yes, karena beberapa kali pengalaman dijadiin mangsa. Ada sebagian orang yang awalnya kuanggap teman, justru dengan brutal memangsa. Ternyata mereka menganggap dirinya adalah predator. Semacam macan atau singa, dan saya adalah babi hutan.

It broke my heart you know.. I thought we were friends, i thought we were equal.

Ternyata mereka dengan kejam meminjam uang tanpa ada hati untuk mengembalikan.

Hard to trust people these days.

"Pinjem dong"

"Bos"

"P"

"P"

"Yang udah sukses, sombong sekarang"

By the way, jadi mendadak mual kalau ada orang manggil dengan sebutan 'Bos'. 

Entahlah setiap kali ada orang memanggil "Bos", insting primitif untuk bertahan hidup langsung mengambil alih. Seolah ada teriakan di dalam hati "Orang ini ada maunya!", "Orang ini pendusta!", "Orang ini pengkhianat nggak bisa dipercaya!" udah otomatis aja gitu.

Lagi-lagi dia memakai "P", lagi-lagi dia menuduhku dengan gelar sukses, plus sombong.

"Well.. kan saya sombong, jadi maklum aja kalau chat kamu kuabaikan, ngapain pula harus minjemin duit"

Tapi berhubung ini kawan lama, yang sejujurnya.. belakangan ini udah lupa. Jadi penasaran lagi sama ini orang. Saya coba cari Instagramnya.

Dan.. yes! Seperti halnya generasi milenial pada umumnya.

Di IG penuh dengan foto-foto traveling, wisata kuliner dan berbagai gaya hedon lainnya.

Sebelum salah sangka, saya sendiri nggak ada masalah sama orang yang bergaya mewah di social media, asal dia punya duit, ya kan? Semua orang berhak bahagia dengan caranya masing-masing. Jika dengan pamer ini dan itu bisa bikin bahagia, yah silahkan. Hidup cuma sekali, wajib dinikmati, resiko tanggung sendiri.

Apalagi kalau ada endorsemen, malah bisa jadi kerjaan yang menghasilkan.

Tapi.. kalau nggak ada duit memaksakan diri bertingkah mewah, yah gimana..

Masak mau jalan-jalan pake duit temen? Masak mau wisata kuliner minta dibiayai temen.

Cuma atas nama gengsi, temen sendiri dimangsa.



Bro.. ane traveling sehari-hari cuma ke kolam atau ke kebun doang, kok dituduh sukses. Sedangkan kamu hobi traveling ke berbagai penjuru propinsi, kok malah mau minjem duit.

Ane kalau beli barang di Bukalapak masih pake filter relevansi 'TERMURAH'. Nyari barang diurut dari harga termurah, lokasi terdekat biar irit ongkir, dst.. kok ya dikatain sombong.

Masak iya kamu hobi wisata kuliner kok mau minjem duit sama orang yang sehari-hari sarapan megono dan makan nasi rames? 

Kamu udah punya anak istri, hobi pamer foto-foto 'harmonis', berharap dicap sebagai keluarga idaman. Lhakok berani-beraninya nekat minjem uang ke orang yang baru cerai. Well.. F'CK YOU!!

Diterawang dari profil IG, kamu jauh lebih sukses dariku.. so..

Lain kali, kalau mau pinjem duit, hapus dulu profil instagram kamu, okay? Itu semacam portofolio pribadi, representasi diri. Biar lebih terpercaya gitu, he he.. jadi nggak bikin sakit hati calon mangsamu.
ADMANDA. Powered by Blogger.

Channelku

Artikel Acak

Lagi Trending