Sunday, March 24, 2019

Politik Uang Vol. 02 : Efek Samping

with 0 Comment
Preambule : Politik uang Vol. 01 , tentang contoh kasus politik uang di suatu kampung di galaxy far.. far away.. in a parallel universe as well.

Efek samping politik uang

Namanya juga uang haram, ya kan? Dijamin banyak efeknya.

Anyway.. setelah uang cair, lalu ramai dibentuk susunan panitia untuk mengelola dana haram itu. Efeknya, beberapa orang mendadak kehilangan akal sehat, bahkan kehilangan nurani. 

"Dana ini akan kita manfaatkan untuk mencari sumber air" Begitu kira-kira ide dari salah satu tokoh masyarakat yang dikenal bijak di kampung ini.

Walaupun sama sekali tak masuk akal, but somehow.. kebanyakan orang setuju. 

Ini adalah kedunguan luar biasa. Setelah kebodohan pertama yaitu menerima uang haram dari timses, lanjut kedunguan kedua adalah.. mereka berencana menggunakan uang itu untuk melakukan pengeboran tanah untuk mencari sumber air. 

Bukan sumur kek biasanya (air tanah dangkal), tapi ini mau ngebor tanah biar mencapai air tanah dalam.

Kenapa dungu?

I tell you.. this is so damn crazy..

Gimana kalau ternyata.. kampung ini udah dikenal luas, bahkan udah terlanjur populer memiliki banyak mata air di beberapa titik (lokasi) di penjuru kampung. 

Air bersih melimpah ruah di kampung ini.

Bahkan salah satu mata airnya diambil alih pemerintah (PDAM) untuk disalurkan ke seluruh penjuru kota. Sejak jaman Belanda. Saya ulangi.. SEJAK JAMAN BELANDA. Artinya, ini bukan mata air minimalis. Debit airnya besar, jernih dan sehat pula untuk konsumsi.

Begitu pula dengan mata air lainnya yang memang digunakan untuk kepentingan publik di kampung ini sejak dulu kala. Masih ada beberapa mata air besar dengan volume raksasa, yang 100% dimanfaatkan kampung ini, alias tidak diambil alih pemerintah.

Botton line, kampung ini adalah surganya air.



Greedy alias Serakah

Udah banyak tersedia mata air, you know like.. untuk mandi, bahkan aman untuk cuci-mencuci, belum lagi banyak juga warga yang memanfaatkan sumber air ini untuk perikanan dan pertanian, dsb.. ehhh ternyata masih aja merasa kurang. 

Bahkan semua warga juga udah punya ledeng PAM di masing-masing rumah untuk kebutuhan rumah tangga. Kurang serakah gimana lagi cobak.

Next point?

Nah pertimbangannya, di bagian utara kampung ini belum ada mata air yang dianggap mumpuni. Ada sih, tapi nggak nonstop 24/7 ngalir. Jadi cuma nyala sekitar 6 bulan (dalam setahun). 

Mereka ingin membuat satu lagi sumber air di sebelah utara kampung. Caranya? Dengan pengeboran tadi.

Pengeboran (air dalam) butuh dana besar, butuh waktu lama, dan bener-bener membutuhkan upaya yang luar biasa.

What a stupid idea!

Kenapa stupid? 

Karena semua mata air lain yang ada di kampung ini, yang jumlahnya nggak cuma satu atau dua lokasi, yang airnya nyala nonstop sepanjang tahun sejak jaman baheulak, SEMUA BERADA DI PERMUKAAN TANAH.

Tapi ini kenapa harus ngebor dulu? Ngapain repot? Kenapa nggak beli pompa dan dialirkan ke sebelah utara?

Bentar-bentar.. jelasnya ada di bawah.

Pertama, penentuan lokasi yang serampangan. Entah dapat wangsit dari mana, lokasi pengeboran dilakukan di atas bukit. 

Yes, bukan di lembah, bukan di sekitar area sungai, tapi di atas bukit tegalan.

Padahal semua mata air di kampung ini berlokasi di landscape rendah. Ini malah memilih di atas bukit bebatuan.

Apa mungkin penentuan titik ini menggunakan teknologi modern? Atau hanya saran dukun atau trik-trik tradisional lainnya. Who knows? Cuma panitia yang tau faktanya.

Alhasil, pada prosesnya, banyak mata bor hancur.

Untuk mencapai air dalam, harus menembus batu granit yang tebalnya wallahu a'lam.

You know what, padahal semua orang tau, bukit ini adalah bukit batu. Bahkan beberapa meter dari lokasi pengeboran, ada tambang batu.

So apakah penentuan lokasi pengeboran ini lantaran di tambang batu pernah dijumpai air tanah dalam? Of course not.

Lalu kenapa mereka menentukan titik pengeboran di bukit batu? Well.. efek samping politik uang.

"FYI.. sumber air tanah itu ada 2, yaitu air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air dangkal adalah tampungan air resapan hujan, dll di dalam tanah, ini yang biasanaya dijadiin sumur oleh warga. Sedangkan air tanah dalam adalah tampungan air yang berada di bawah lapisan batu. Lokasinya bisa puluhan sampai ratusan meter di dalam tanah."



So.. mungkin mereka pikir abis nembus bukit batu langsung mencapai air tanah dalam. Bisa jadi.

Pertanyaannya, berapa meter lapisan batuan ini harus ditembus?

Jawabannya : 100 meter. How dumb is it?

But, hey... mereka punya dana haram dari timses. Siap untuk buang-buang uang.

Apakah cuma butuh uang? BIG NO. Selain udah pasti butuh waktu berbulan-bulan, juga terjadi banyak drama.




To be continue..

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Channelku

Artikel Acak

Lagi Trending