Saturday, March 9, 2019

Hipnotis atau Hipnosis

with 0 Comment
Menurut KBBI, hipnotis artinya dalam keadaan hipnosis; atau berhubungan dengan hipnosis.

Sedangkan hipnosis artinya keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Ah mosok toh??

Menurut Wikipedia (yang entah siapa penulisnya), ilmu hipnosis udah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Awalnya hanya istilah, walau bisa dibilang  hipnosis sama aja artinya memang cuma sugesti. Indeed, sekedar sugesti.

Kemudian ilmu hipnosis ini berkembang, menjadi hipnoterapi (baca : takhayul). Menurutku sih ini justru kemunduran, karena prakteknya disertai mantra-mantra dan terapi (baca : ritual-ritual pagan). Mungkin biar lebih meyakinkan pasiennya (baca : mangsa korbannya).

Jadi ahli hipnosis ini membuka praktek seperti dukun (baca : pengobatan alternatif). Yep, mereka bukan hanya mengklaim bisa hipnosis, tapi juga merangkap sebagai psikiater dan dokter sekaligus. 

Lalu ketika agama lagi trending pada jamannya, para dukun ini berusaha mengikuti pop culture. Alhasil, yang tadinya mantra-mantra, diganti menjadi doa-doa. Walaupun ritualnya masih sama, intinya sih cuma cari duit dengan membuka praktek penyembuhan penyakit dan konsuling.

Udahlah abis itu ilmu hipnosis ini semakin ngaco. Isinya cuma orang yang mengaku-ngaku bisa ini dan itu. Cuma klaim pribadi, yang nggak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Ada yang mengaku bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan menyentuh, menepuk, bahkan cuma bertatap muka. 

Biasalah, kalau jaman sekarang sering denger dukun ngaku punya kekuatan gaib. Kadang-kadang untuk nipu orang kampung(an), dengan kata-kata yang seolah ilmiah, seperti gelombang elektromagnetik, pancaran energi, aura, dll atau dibungkus dengan istilah-istilah keagamaan, biar orang kampung(an) yang religius, langsung tercuci otaknya.

Bottom line

Hipnostis, hipnosis, maupun hipnoterapi sama aja nggak bisa diukur, maupun dibuktikan.

Jika ada orang mengaku sebagai ahli hipnotis, maka orang itu adalah pendusta.

Jika ada orang mengaku menjadi korban hipnotis, maka itu cuma pembodohan alibi. Yes, karena nggak bisa dibuktikan sama sekali.



Kadang denger ada orang ngaku sebagai korban hipnotis di jalan. Dompet ilang, tas ilang, bahkan kendaraan ilang.

Plis lah, biasanya orang yang mengklaim dirinya menjadi korban hipnotis, alasannya cuma karena malu, nggak sanggup ngomong kejadian yang sebenarnya.

Bisa jadi karena keluguan maupun kedunguan, kena tipu orang di jalan, endingnya cerita jadi korban hipnotis. Malu lah kalau cerita abis dibegoin.

Kena bius, ngakunya terhipnotis. Takut karena diancam pelaku kriminal, diperas orang, dipalak, atau cuma diintimidasi penjahat, ngakunya kena hipnotis.

Atau emang ada orang yang punya kemampuan persuasif tinggi, kek salesman door to door jaman dulu, akhirnya entah karena perasaan nggak enak atau gimana, nurut aja diminta ini dan itu. Begitu pulang, daripada dimarahin orang rumah, ngakunya kena hipnotis untuk menjaga reputasi.

Atau misal di dalam bus ketemu penjahat yang pintar beracting, pura-pura miskin, ekting memelas, nangis minta tolong, dsb. Karena kasihan akhirnya berusaha ngasih bantuan. Begitu penjahatnya turun dari bus, baru sadar kalau barusan kena tipu pengemis. Yowes daripada malu keliatan bodohnya, akhirnya ngakunya terhipnotis. As simple as that.

In the real world, misal diproses secara hukum sebagai korban hipnotis, mau sampai mahkamah tertinggi juga pasti bakalan ditolak dan diketawain doang.

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending