Thursday, February 7, 2019

Nyampah!

with 0 Comment
Update pertama di bulan Februari, R dibaca samar, Febuari 2019.

Anyway, kemarin sekitar jam 11-12 malam beli nasi goreng kaki lima, tepatnya di pinggiran pasar Wonosobo, nama lapaknya (kalau nggak salah) "Mas Bowo". 

Walau sebelumnya udah beli nasi padang di dekat Plaza, tapi beli nasgor juga. Bukannya rakus, tapi rencananya cuma untuk sarapan esok pagi. Kalau dingin tinggal diangetin aja kan. 

Enak kali sarapan nasgor..

Sampai di lapak Mas Bowo, tiba-tiba dapat wangsit untuk beli bakmi  ayam juga (selain nasgor). Singkat kata, ternyata rasa bakminya luar biasa enak. Nasi gorengnya malah biasa aja, standar kek yang lain. Tapi bakminya, wuih.. mancing mania.. mantap!

Mudah-mudahan besok kalau beli lagi rasanya nggak berubah. Jikapun berubah juga maklum aja sih, namanya kaki lima, ukuran bumbu juga pakai metode estimasi, alias kira-kira belaka, hhe.

Sebungkus nasi goreng ayam dan sebungkus bakmi ayam, cuma 22 ribu rupiah. Murah meriah. 

Mudah-mudahan harga ini memang harga wajar, bukan harga kasihan karena melas liat saya jalan kaki ngos-ngosan, pake kaos compang camping (baca : parkir mobil jauh di ujung jalan, dan emang lagi sengaja jalan-jalan agak jauh untuk liat-liat menu kaki lima apa aja). Bahkan (walau cuaca dingin) kemarin itu cuma pake celana pendek. 

Tepatnya adalah celana bola, beli di Toko Priuk seharga 25 ribu. Beberapa waktu lalu, pagi-pagi setelah lari-lari di alun-alun mendadak pengen berenang di Kolam Pemandian Mangli. Jadi beli celana pendek dadakan.

Intinya, penampilanku mirip anak kosan lagi kelaparan tengah malam.

Skip skip.. balik ke topik sampah

Nah.. dalam masa menunggu nasgor (dan bakmi) dibikin, saya nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, liat kanan-kiri, liat kendaraan lalu lalang, dst.

Tiba-tiba mata tertuju di satu lapak. Saya liatin dari kejauhan (jarak sekitar 10 meter), ada lapak martabak (kaki lima juga). Penjualnya bapak-bapak yang lagi beberes, lagi packing-packing, saatnya pulang.

Biasa, dia jualan menggunakan gerobak dorong. Semua alat udah dinaikkan ke atas gerobak (yaiya dong, mosok dinaikkan ke bawah). Maksudnya semua peralatan kek terpal, kursi, kompor udah di atas gerobak. Tinggal jalan. 

Oh.. Kecuali ada satu keranjang sampah yang masih ada di bawah, di sebelah gerobak.

Saya liat di dalam keranjang sampah itu banyak cangkang telur, karena objek itu paling mencolok. Asumsinya, itu adalah keranjang pribadi dan sampah dia sendiri hasil sisa-sisa (limbah) jualan martabak.

Nah sebelum pulang, bapak-bapak penjual martabak ini kliatan lagi bersih-bersih dulu, nyapu area di sekitar gerobak. Karena memang di sekitar gerobaknya itu kotor sekali, masih banyak cangkang telur berserakan, banyak juga sampah kertas, plastik, dll.

Shocking moment-nya adalah.. 

Bapak ini menggiring semua sampah tadi (dengan sapu lidinya) dijadiin satu, dikumpulkan di satu titik. 

Tiba-tiba dia mendorong semua sampah itu KE DALAM LUBANG SELOKAN. Wathevak!!

Saya ulangi, bapak ini.. dengan tanpa dosa.. dia membuang semua sampah yang udah dia kumpulkan.. KE DALAM SELOKAN.. into a f"kin sewer hole!!

Ini contoh orang berakal sehat tapi super idiot. 

Jadi, selokan itu ada semacam lubang cukup lebar (mungkin lubang kontrol),  semacam lubang di bawah trotoar seperti di film IT tempat badut mengintip itu loh.

Nah bapak ini memasukkan setumpukan sampah tadi lewat lubang ini.

Kek orang sakit mental kan? Contoh kongkret ya bapak-bapak penjual martabak ini. Bersihin sampah di jalan tapi mengotori selokan.

Pop.. pop.. pop..

Awalnya kukira bakal dapat pencerahan jiwa dari seorang penjual martabak, restorasi moralku yang lagi bobrok. Bapak-bapak pencari rezeki yang sadar lingkungan.

Nyatanya malah twisted ending, justru pengen menampar bapak-bapak sialan ini.

Lagian kenapa dia nggak bawa sorokan?

Kenapa nggak dia angkat sampah yang udah dia kumpulkan, lalu masukkan ke dalam keranjang yang udah dia siapin. Untung aja sampah yang ada di keranjang nggak sekalian dibuang ke selokan.

Padahal kalau emang dia pemalas, tinggal biarin sampahnya berserakan di atas jalan, biarin disapu pasukan orange besok pagi. Lebih gampang gitu.

Kalau udah masuk selokan malah lebih merepotkan, susah dibersihkan, ujungnya menyusahkan banyak orang. Resiko bikin mampet, resiko banjir, dst. 

Dasar manusia jahanam

Cangkang telur itu susah terurai, nggak bisa membusuk. Ngapain dibuang ke selokan. Belum lagi plastiknya dan beberapa jenis sampah lain. 

Bayangkan jika kegiatan nyampah ini dilakukan setiap hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kan b!adap namanya. 

Etapi parahnya lagi, saya pribadi cuma diam aja, ngedumel sendiri, nggak berani negur. Malas aja sih pake jalan 10 meter, udah capek jalan jauh, belum lagi balik ke parkiran, haha.. lagian masih ada resiko diamuk massa. Atas nama solidaritas perkumpulan pedagang kaki lima, bisa aja kan. 

Misal sampai adu mulut, trus bapak penjual martabak ini terbersit ide untuk teriak "TOLOOONG!!" atau bahkan lebih ekstrim "MALIIIING!!" kan runyam urusannya..

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending