Tuesday, January 1, 2019

This is Funny!

with 0 Comment
But also sad at once.

Overproud 

Terlalu bangga sama sesuatu yang absurd.

Misal ada bule ngomong bahasa Indonesia, pasti banyak orang Indonesia mendadak bangga nggak jelas. Langsung pada heboh, seperti kawanan monyet dilemparin pisang. Tak jarang langsung viral di social media, bahkan kadang sampai trending di semua platform. 

Kalau ada berita dari luar negeri menyebut tentang Indonesia atau ada seleb luar negeri yang mention Indonesia, langsung heboh juga. Gempar dimana-mana. Seolah ini adalah pencapaian Bangsa Indonesia yang sungguh luar biasa. Go Internasional.. dikenal manca negara.

Selugu itukah orang Indonesia?

Masih belum cukup. Misal ada orang populer (atau orang yang berhasil memetik kesuksesan) di luar negeri dan ternyata orang ini mempunyai garis keturunan orang Indonesia (baca : mempunyai leluhur orang Indonesia). Lagi-lagi heboh. Seolah Indonesia adalah ras tertinggi di seluruh dunia. 

Kebanggaan semu. Apakah orang Indonesia lainnya ikut andil membantu kesuksesan orang itu? Tentu tidak. Yang jelas, untuk kasus ini bukan hanya dijadiin headline berita nasional, tapi seringkali sampai masuk dijadikan bintang tamu maupun narasumber acara talk show di TV Nasional.

Kontradiktif

Lain halnya kalau ada orang Indonesia ngomong bahasa Inggris, salah dikit aja langsung dibully, diketawain, direndahin. Padahal (bisa jadi) dirinya sendiri nggak jago Bahasa Inggris. 

Ya kali kalau Bahasa Indonesia adalah Bahasa Internasional. Ya kan? Masih maklum. Lah ini...

Contoh lain, ada orang Indonesia sedang berbicara (atau menulis) menggunakan bahasa Arab. Dimana seharusnya ini lumrah dikarenakan 85% penduduk Indonesia adalah Muslim. Ya kan? Harusnya.

Namun apa responnya? 

"Ini Indonesia, Bung! Bukan Arab!"

Dasar Islamophobic. Ya kali nanti ada orang nyanyi bahasa Inggris aksen British, trus coba bilang "Ini Indonesia, Bung! Bukan London!".

Entahlah.. kenapa seringkali ada orang Indonesia yang ngomong bahasa Inggris itu suka dianggap sok-sokan. Sok pinter, sok jago, keminggris, pamer, dsb. Padahal (sekali lagi) orang yang nge-judge itu, kadang bahasa Inggrisnya sendiri juga masih terbata-bata. 

Mungkin ada semacam perasaan unggul, jika ada orang lain melakukan kesalahan, dia merasa mempunyai kasta lebih tinggi karena dia pikir udah menang poin. Merasa diri lebih baik.



Jadi seperti tak sadar diri aja sih jatuhnya. Harusnya ketika sadar ada orang lain salah dan butuh perbaikan, ya justru hal semacam itu menjadi sarana ybs memberanikan diri untuk mencontohkan praktik berbahasa Inggris yang baik dan benar. 

But hell.. yang terjadi justru sebaliknya. Orang salah wajib dipermalukan dulu. Urusan bantu meralat, ngasih tau salah dan benarnya itu nomor 17 sekian. 

Yang paling penting adalah membikin trauma dulu, biar orang yang salah itu kapok dan malu, trus akhirnya meninggalkan kebiasaan kemiggrisnya. 

Ingat waktu Pak Jusuf Kalla setelah memberi pidato di Asian Games? Beliau pidato menggunakan bahasa inggris dengan aksen indonesia yang kental. Yaudah wasalam, abis itu banyak netizen yang bully, bahkan sampai membelah portal berita nasional. Gimana perasaan Pak JK waktu itu, wallahu a'lam.

Nah, yang bikin penasaran disini, apakah netizen yang nge-bully itu memiliki British atau American accent, atau justru juga sama-sama memiliki Indonesian accent. Atau jangan-jangan malah nggak bisa bahasa inggris sama sekali, hanya sok-sok komen biar dikira pandai. 

Masalahnya, apa Pak JK trus jadi trauma berbicara bahasa Inggris?

Okelah lupakan soal Pak JK..

Di satu sisi, sebagian orang memang hobi mem-bully jika ada orang lain salah. 

Namun di sisi lain, ada juga sebagian orang baik hati yang memang ingin membantu. Memberikan masukan untuk perbaikan. 

Eh apa yang terjadi? Kadang malah dianggap Grammar Nazi, malah dengan arogan membalas "Hadeehh.. salah gitu aja, yang penting kamu paham maksudnya kan?".

Dikasih tau malah tersinggung. Okesip.. lain kali mending diam sajalah.

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending