Saturday, March 23, 2019

Politik Uang

with 0 Comment
Dasar Hukum politik uang :

Pasal 73 ayat 3 Undang Undang No. 3 tahun 1999 berbunyi:

"Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu."

Ini marmut, bukan tikus pengerat

Well.. misalnya ada satu kampung menerima politik uang dari timses, apa trus orang sekampung itu harus diancam penjara? Tua-muda, laki-perempuan.. dari seluruh RT, semuanya dipidana 3 tahun? 

Atau hanya tokoh-tokohnya aja? Semacam sesepuh atau perangkat desa yang secara simbolis menerima uang haram itu (yang harus bertanggung jawab)? 

Soalnya, di dalam satu kampung pasti ada sebagian orang yang menolak (bahkan antipati) sama politik uang itu. 

Masak iya suruh ikut tanggung jawab juga?

Ini contoh aja :

Jadi, misal ada timses ngasih dana bantuan (baca : uang haram), dan ternyata memang benar-benar cair sebelum masa pemilihan. Dan uang haram ini diberikan atas nama kampung (bukan personal). Artinya dana akan dialokasikan untuk kepentingan kampung. 

Apa semua (warga kampung) ikut tanggung jawab?

"Sekali lagi, ini di kampung, kalau ada warga nggak ikut andil, banyak hukuman sosial yang bakalan dihadapi"

Taruhlah memang sebagian besar orang menerima dengan bahagia, sedangkan sebagian kecil warga antipati. Sayangnya warga minoritas ini tak kuasa melawan mayoritas orang-orang mata duitan itu, sehingga (mau nggak mau) melakukan pembiaran. 

Cuma bisa membatin "nggak ikut-ikut deh, ya Allah saya berlepas diri dari uang haram itu.

Tapi memang (walau udah jijik duluan), namun pasti ada sebagian lagi TERPAKSA ikut mengelola dana haram itu.


Ini gimana urusannya?

Definisi Politik uang

Politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum.  (Wikipedia)

Politik uang biasanya dilakukan simpatisan, kader, tim sukses atau bahkan pengurus partai politik menjelang hari H pemilihan umum. 

Praktik politik uang bertujuan untuk menarik simpati masyarakat agar mereka memberikan suaranya untuk partai (atau calon peserta pemilu) yang bersangkutan.

Kek contoh kasus di atas :

Pada masa kampanye, ada tim sukses mendatangi suatu kampung. Bisa secara diam-diam, bahkan terang-terangan. Mereka menemui tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap vocal, diharapkan tokoh-tokoh ini bisa menggiring warganya.

Tim sukses menjanjikan donasi untuk kepentingan kampung. Kali ini bukan hanya donasi kaos partai ataupun kaos tim sepak bola, tapi donasi berupa sejumah uang yang nominalnya luar biasa (untuk ukuran kampung). 

Syaratnya cuma satu.. kampung ini memenangkan calon tertentu dari timses tersebut.

Bahkan tim sukses ini mengabarkan.. seandainya calon mereka kalah (dalam pemilihan) pun, donasi nggak bakal ditarik.

"Wah.. nothing to lose" alias bener-bener nggak ada ruginya, begitu gumam para tokoh masyarakat.

Lalu diadakan rapat dadakan, pertemuan warga. Tokoh masyarakat menyampaikan kepada warga bahwa ada timses pemilu akan memberikan bantuan dana, dst, dst dengan syarat seperti di atas.

Memang tidak semua warga hadir, mau ditaruh dimana, ya kan?

Belum lagi, pasti ada warga yang sibuk, berhalangan, atau bahkan malas datang ke pertemuan itu.

Lingkaran setan

Hampir berlaku di semua organisasi.. orang yang tidak hadir dalam rapat, maka artinya sepakat, atau menyetujui apapun hasil rapat. Ini lingkaran setan.

Begitupun contoh kasus ini, tokoh masyarakat yang memang dikaruniai kemampuan persuasif yang tinggi (baca : manipulatif), mereka berhasil mengajak warga untuk menyetujui penawaran timses. Menerima dana haram dari timses untuk kepentingan kampung (baca : kepentingan partai).

Seluruh peserta rapat akhirnya tersihir, mengamini saran tokoh masyarakat.  Sedangkan warga yang tidak hadir, wajib menyetujui keputusan laknat itu.


To be continue..

Wednesday, March 20, 2019

Manusia Pusat Alam Semesta

with 0 Comment
Namanya juga manusia, macem-macem bentuknya, macem-macem sifatnya. I know that. 

Beda lingkungan, beda pengalaman, beda pemikiran, beda bacaan, beda tontonan, beda umur, beda pendidikan, beda semuanya.. Akhirnya menghasilkan karakter manusia yang berbeda-beda. Ini yang bikin dinamis, bikin hidup meriah nggak monoton.



Tapi.. paling ngeselin kalau ketemu orang yang merasa dirinya adalah pusat alam semesta. Segalanya tentang dia, semua orang harus memperhatikannya,  melayaninya, menuruti kemauannya, memujinya, mengaguminya, bahkan wajib mendukung pendapatnya. 

Well.. mungkin dia menderita Gangguan Keprbadian Narsistik, atau ilmiahnya Narcissistic Personality Disorder (NPD). Egosentris setinggi langit. Ini susah.

Eh tapi sebenernya gampang deng, tinggal jauhin aja manusia model begini. Biar hidup lebih tenang. 

Cuma masalahnya, kadang-kadang terjebak di situasi yang nggak bisa dihindari, jadi terpaksa meladeni. Gile.. serasa waktu berjalan lama. 

Thursday, March 14, 2019

Bukalapak lagi Mabuk

with 0 Comment



Jumat pagi, 15 Maret 2019 pengen belanja di Bukalapak. Sesuai yang tertera di email masuk di atas, total biaya direkap jam 9.40 AM. Rencananya sih ntar dibayar abis Jumatan lah.

Lhakok batas pembayaran malah kurang dari sejam. 
"Hai ADMANDA,
Terima kasih atas kepercayaanmu telah berbelanja di Bukalapak.com.
 
Mohon segera lakukan pembayaran sebelum:
Jum’at, 15 Maret 2019 Pukul 10:32 WIB (1 x 0.9986111111111111 jam)"
Hehe.. lucu sekali, Bukalapak! Apa maksudnya 1 x 0.9986111111111111 jam?

Jadi saya cuma dikasih waktu berapa menit? Oke ane screenshot.


44 menit aja? 

Pak.. Bukalapak, nggak ada satupun masusia di dunia ini yang suka diburu-buru. Kecuali atlit sprinter kali ya. 

Mudah-mudahan ntar ada perpanjangan waktu. Biasanya sih gitu.

Sunday, March 10, 2019

Sh!t Happen

with 0 Comment
Semalam tadi, pergi ke Indomaret. Sebenernya udah dini hari sih. Anyway, rencananya mau beli telur ayam. 

I know, walau lebih mahal dibanding beli di warung, tapi yang penting udah melewati kualiti kontrol, ya kan?

Minimal, beli telur ayam 'nusantara' di Indomaret itu secara fisik, bersih (cangkangnya). 

Beberapa kali pengalaman beli telur ayam di warung bentuknya jorok sekali. Jadi males, gimana kalau gueh kena bakteri salmonela? Kan kacau masa depan, hehe..


Itu adalah penampakan telur ayam yang terakhir kali kubeli di warung. Yuck..

Sebagian cangkang telur masih terlihat indah dibalut kotoran ayam mengering. Belepotan nggak jelas, kan jadi nggak nafsu makan.

This might be how the world works

Ada kemungkinan penjual emang sengaja milih telur yang jelek-jelek duluan. Bungkus telur dan timbang di dalam warung, sehingga pembeli nggak liat, nggak bisa milih, apalagi protes.

"Hmm.. nih yang banyak lapisan telek, buat eluh.." Guman si penjual.

Sisain telur yang bagus buat pembeli emak-emak besok, jadi minimalisir resiko kena omel.

Well ini cuma imajiner, nyatanya mana tau lah. Tapi jika emang bener si penjual sengaja milih telur yang jelek duluan buatku, terkutuklah. 

Yang jelas, mau sengaja atau enggak.. udah kuputuskan, kapok beli di warung situ. He has no respect for his buyer, that's the point.

Tapi mungkin (bisa jadi) gitu cara kerjanya.. sering kan ada penjual ngasih bungkusan dagangan, yang busuk taruh bawah biar nggak kelihatan, yang bagus taruh paling atas biar nyolok mata. Seolah representatif, padahal scam.

Penjual model begini, dia nggak butuh pelanggan jangka panjang. Dia cuma mikir pendek. Good luck deh..

Sh!t happen..

Back to the topic, dini hari, dingin, keluar cuma pengen beli telur di Indomaret. Abis nyampe indomaret, malah stok telur abis. Yada.. yada.. kesialan pertama.

Pulang dengan tangan hampa.. nggak jadi sarapan telur ayam disambelin dueh... Mau pergi ke indomaret lain, males ah.. soalnya Indomaret (24 jam) berikutnya itu lokasinya lumayan jauh.

Anyway, yaudah pulang aja. Eh tapi perjalanan pulang, mendadak kepikiran pulsa mepet. Yowes mampir ke ATM (BNI) dulu, itung-itung udah terlanjur keluar, biar ada hasilnya. So.. lanjut isi pulsa di ATM.

Di depan ATM, muncul ide brilian. Gimana kalau sekalian bikin video, lumayan buat nambah materi YouTube.

"Tutorial Cara Isi Pulsa Telkomsel Via ATM BNI"

Wuih, iya lumayan. Walau kemungkinan sepi penonton (karena tutorial ini udah basi sekali), tapi minimal trus bisa update channel, ya kan?

FYI, ada peraturan baru Youtube : Channel nganggur beberapa waktu, bisa kena demonetized, atau dismonetisasi.

Walaupun nggak jelas juga aturannya, nganggur berapa lama? Nggak ada lanjutannya. Yang pasti, ada satu channelku yang hangus gara-gara dianggurin. Lama nggak dibuka, malah monetisasinya dicabut. Dipecat dari YPP (YouTube Partner Program). Yowes! Ini mah bukan kesialan, tapi udah level apes.

Padahal channel itu udah ditawar orang (viewer video) seharga 6 juta, sekarang malah udah nggak ada nilainya.

"Kenapa nggak dijual aja 6 Juta?"

Pertama, emang nggak ada rencana untuk dijual. Kedua, harga pasarannya 15 juta, Buos! Walau channel sepi bukan main nggak ketulungan, asal udah monetisasi, harganya minimal 15 juta. Ini nawar 6 juta yah mending nyebur laut aja sana.

Sebenarnya ini udah lumayan sih ditawar 6 juta, ada juga yang cuma mau gantiin pulsa malah. Yes, nggak salah baca. Channelku yang udah termonetisasi.. mau ditukar pulsa. How the fak!

Bayangin kita misal lagi jual emas sekilo, tiba-tiba ada orang bilang "emasnya tuker pulsa mau nggak?" 

Wait.. what? Situ sehat mas? 

"Hehe seriusan, saya gantiin pulsa 100 ribu boleh nggak?"

Wahahahahahahahahahaha very funny, Gunawan!

OK, back to the topic, nyampe ATM, ngisi pulsa 100 ribu, sekalian rekam psemuanya (bikin video step by step tentang cara isi pulsa via ATM). Dari awal masuk ATM, masukin kartu, masukin pin, pencet ini, pencet itu, dst..

Ternyata tinggal final take, alias final result mau nunjukin pulsanya udah masuk atau belum, malah sh!t happen, yap.. pulsa nggak masuk-masuk.

Sampai ditungguin beberapa menit di depan ATM, pulsa tetep belum masuk.

Well, aneh sekali..

Biasanya cuma butuh hitungan detik, nggak pernah trouble (mau isi jam berapapun) pulsa langsung masuk. Ini kok lama..

Yoweslah lanjut pulang, mungkin nanti pulsa masuk pas udah di rumah. "No big deal" batinku.

Nyampai rumah, nyalain laptop sambil refresh berkali-kali aplikasi Telkomsel di HP, tetep aja pulsa nggak masuk-masuk.

Tiba-tiba firasat buruk menguasai otak "Jangan-jangan salah nomor, pulsa nyasar".

Cek struk. Daaaaaaaaaaaan.. Yes! Ternyata salah nomor! Hore.. 100 ribu hilang sia-sia.


Itu di atas 081228343100, bukan nomorku. FFFFFUUUUUUU....!!!! Ada nomor yang kebalik.

Masih belum putus asa, coba hubungi nomor itu, siapa tau pemilik nomor itu mau berbaik hati mengembalikan pulsaku yang nyasar, bahkan dalam hati 50:50 nggak masalah deh. 

Eh ternyata ditelfon nggak nyambung, alias nomor nggak aktif. Oh mungkin HP nya mati, orangnya masih tidur. Coba add WA, nggak masuk juga, nomornya tidak terdaftar di WA.
.
Coba hubungi lagi, ternyata nomornya emang nggak terdaftar sama sekali. Di sms pun gagal. Yowes lah, kesialan lagi. Duit 100 ribu hangus.

Kesialan selanjutnya..

Tadi kan di ATM sempat bikin video (pake kamera HP). Pikirku, walau pulsa nggak masuk, tapi minimal udah mencakup semua proses, alias tutorial cara isi pulsa via ATM. Tinggal kasih tulisan.. pastikan jangan sampai salah nomor, dst. Intinya file video udah cukup lengkap untuk diedit-edit.

Nah pas mau mindah data dari HP ke laptop, ((((jeng.. jeng.. jeng..))) mendadak SD Card ngambek. Nggak kedetek. 

Coba restart HP sekali - dua kali, masih aja Micro SD tetap nggak mau terbaca di laptop. 

Restart HP sekali lagi, malah lebih parah. SD card nggak mau terbaca di HP. Pas dicek file videonya di galeri, malah hilang semua, nggak ada jejaknya (yaiyalah orang SD card nggak terbaca). 

Jadi di dalam galeri cuma ada foto-foto yang tersimpan di memory internal HP aja.

Great!!! Just... great!!!

Coba copot SD card, trus pake adapter biar bisa colokin ke laptop langsung.. tetap nggak terbaca. Sama sekali nggak kedetek.


Yasudahlah emang dasar lagi sial. Mungkin tadi malam emang bener-bener lagi kena azab. Yah mudah-mudahan gara-gara semua kesialan (dan keapesan) tadi, dosa-dosaku gugur semuanya.

No problem, nggak jadi sarapan telur disambelin, nggak dapat pulsa, video ilang sia-sia, no problem at all.. ASAL..... itu tadi.

Saturday, March 9, 2019

Hipnotis atau Hipnosis

with 0 Comment
Menurut KBBI, hipnotis artinya dalam keadaan hipnosis; atau berhubungan dengan hipnosis.

Sedangkan hipnosis artinya keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Ah mosok toh??

Menurut Wikipedia (yang entah siapa penulisnya), ilmu hipnosis udah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Awalnya hanya istilah, walau bisa dibilang  hipnosis sama aja artinya memang cuma sugesti. Indeed, sekedar sugesti.

Kemudian ilmu hipnosis ini berkembang, menjadi hipnoterapi (baca : takhayul). Menurutku sih ini justru kemunduran, karena prakteknya disertai mantra-mantra dan terapi (baca : ritual-ritual pagan). Mungkin biar lebih meyakinkan pasiennya (baca : mangsa korbannya).

Jadi ahli hipnosis ini membuka praktek seperti dukun (baca : pengobatan alternatif). Yep, mereka bukan hanya mengklaim bisa hipnosis, tapi juga merangkap sebagai psikiater dan dokter sekaligus. 

Lalu ketika agama lagi trending pada jamannya, para dukun ini berusaha mengikuti pop culture. Alhasil, yang tadinya mantra-mantra, diganti menjadi doa-doa. Walaupun ritualnya masih sama, intinya sih cuma cari duit dengan membuka praktek penyembuhan penyakit dan konsuling.

Udahlah abis itu ilmu hipnosis ini semakin ngaco. Isinya cuma orang yang mengaku-ngaku bisa ini dan itu. Cuma klaim pribadi, yang nggak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Ada yang mengaku bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan menyentuh, menepuk, bahkan cuma bertatap muka. 

Biasalah, kalau jaman sekarang sering denger dukun ngaku punya kekuatan gaib. Kadang-kadang untuk nipu orang kampung(an), dengan kata-kata yang seolah ilmiah, seperti gelombang elektromagnetik, pancaran energi, aura, dll atau dibungkus dengan istilah-istilah keagamaan, biar orang kampung(an) yang religius, langsung tercuci otaknya.

Bottom line

Hipnostis, hipnosis, maupun hipnoterapi sama aja nggak bisa diukur, maupun dibuktikan.

Jika ada orang mengaku sebagai ahli hipnotis, maka orang itu adalah pendusta.

Jika ada orang mengaku menjadi korban hipnotis, maka itu cuma pembodohan alibi. Yes, karena nggak bisa dibuktikan sama sekali.



Kadang denger ada orang ngaku sebagai korban hipnotis di jalan. Dompet ilang, tas ilang, bahkan kendaraan ilang.

Plis lah, biasanya orang yang mengklaim dirinya menjadi korban hipnotis, alasannya cuma karena malu, nggak sanggup ngomong kejadian yang sebenarnya.

Bisa jadi karena keluguan maupun kedunguan, kena tipu orang di jalan, endingnya cerita jadi korban hipnotis. Malu lah kalau cerita abis dibegoin.

Kena bius, ngakunya terhipnotis. Takut karena diancam pelaku kriminal, diperas orang, dipalak, atau cuma diintimidasi penjahat, ngakunya kena hipnotis.

Atau emang ada orang yang punya kemampuan persuasif tinggi, kek salesman door to door jaman dulu, akhirnya entah karena perasaan nggak enak atau gimana, nurut aja diminta ini dan itu. Begitu pulang, daripada dimarahin orang rumah, ngakunya kena hipnotis untuk menjaga reputasi.

Atau misal di dalam bus ketemu penjahat yang pintar beracting, pura-pura miskin, ekting memelas, nangis minta tolong, dsb. Karena kasihan akhirnya berusaha ngasih bantuan. Begitu penjahatnya turun dari bus, baru sadar kalau barusan kena tipu pengemis. Yowes daripada malu keliatan bodohnya, akhirnya ngakunya terhipnotis. As simple as that.

In the real world, misal diproses secara hukum sebagai korban hipnotis, mau sampai mahkamah tertinggi juga pasti bakalan ditolak dan diketawain doang.

Wednesday, March 6, 2019

Dunia Blogging Mulai Receh

with 0 Comment
Ngeblog untuk mencari penghasilan udah nggak sepadan. 

Antara waktu yang dihabiskan untuk mengelola blog dan dolar yang didapat bener-bener udah nggak layak dipertahankan.

Masih inget banget dulu nggak sedikit Blogger yang punya penghasilan ratusan juta setiap bulan. Well saya yakin penghasilan mereka sekarang tinggal recehan.

Blog kalah sama YouTube

Dulu baca-baca artikel yang ditulis travel blogger itu keren banget rasanya, sekarang mending liat videonya langsung. 

Blog tutorial kalah sama video tutorial. Review film, mending nonton cuplikannya langsung. Semua niche udah digeser YouTube. 

Bahkan niche hukum, berita, kesehatan, resep masakan, desain, musik, komedi, semua dikalahkan ke YouTube.

Intinya orang lebih suka audio visual dibanding baca-baca tulisan. 

Niche blog yang masih prospek

Mungkin niche blog yang masih prospek adalah meme-meme lucuk dan info lowongan kerja. Niche ini sepertinya mustahil dikalahkan YouTube.

Niche info lowongan kerja bukan bidangku, jadi pilihan yang tersisa cuma meme.

Ane sendiri bakalan melipat semua blog yang ada dan melakukan transformasi menjadi blog meme. Enak kali ya tiap hari cuma bikin meme (dan video YouTube).

Dari 8 blog TLD mungkin yang akan lanjut dikelola cuma 2 blog aja, plus satu blog personal buat nulis diary (baca : jurnal pribadi). 

Jadi ada 5 blog TLD yang bakal sengaja dihanguskan, biarin vakum jadi blog gratisan lagi. 

Biar lebih fokus.



Friday, February 15, 2019

Cara Membuat Video YouTube Menggunakan Kamera HP Smartphone & Laptop Tua

with 0 Comment
Ada pertanyaan untuk saya di Forum sebelah : 

Bagaimana saya membuat Konten Youtube dengan berbekal Ponsel Pintar dan Laptop tua?

Jawaban :

Saran saya, beli tripod dulu agar hasil video stabil

Kalau menggunakan selfie stick (tongsis), hasil video nggak stabil, tangan gampang goyang (shaky). Tripod murah banyak di toko online. Harga di bawah seratus ribu juga ada.

Tripod murah, saya sendiri punya

Kenapa tanyamu? Karena nggak ada orang yang doyan nonton video goyang-goyang (shaky). Bikin kepala pusing. 

Shaky video berbanding lurus dengan tingkat dislike video. 

Saat Merekam, posisi HP landscape

Jangan sampai membuat video potrait. Ini kesalahan FATAL. Putar HP 90 derajat agar sesuai dengan tampilan layar YouTube.



Video paling simpel adalah Vlog

Asal udah disiapin script matang, bisa ambil video durasi beberapa menit hanya sekali take memakai kamera HP. Cukup ambil dari satu atau dua angle. Jikapun ada kesalahan, bisa ulang adegan beberapa kali nggak masalah.

Tujuannya agar bisa minimalisir editing.



Pakai software editing versi pemula

Software editing video paling mudah versi pemula misalnya Videopad atau Movie Maker. Sangat ringan dan mudah dalam penggunaan. Tujuannya agar laptop nggak ngos-ngosan waktu edit video.

Untungnya, video vlog nggak butuh kualitas cinematic, jadi nggak perlu color correction, dll. Cukup potong sana-sini, kasih musik, gabungkan, lalu render.

Sisipkan B-roll video yang banyak

Utamakan B-roll video menggunakan video pribadi. Video ini tujuannya untuk menggambarkan narasi yang lagi kamu omongin dalam vlog kamu. Semacam video pendukung.

Selain video jadi nampak dinamis, juga jadi lebih menarik.

Banyak juga Vlogger malah cuma menggunakan foto-foto dari Google sebagai pendukung Vlog. Saran saya, jangan terlalu banyak foto. Orang buka YouTube untuk nonton video, bukan nonton power point presentasi.

Intinya, jangan sekali-kali bikin video (di mana) sejak awal sampai akhir, hanya disuruh nonton muka kamu sambil ngomong ngalor ngidul. 

Menurutku B-roll video hukumnya wajib.

Itu aja saran saya, mudah-mudahan bermanfaat.

Thursday, February 7, 2019

Nyampah!

with 0 Comment
Update pertama di bulan Februari, R dibaca samar, Febuari 2019.

Anyway, kemarin sekitar jam 11-12 malam beli nasi goreng kaki lima, tepatnya di pinggiran pasar Wonosobo, nama lapaknya (kalau nggak salah) "Mas Bowo". 

Walau sebelumnya udah beli nasi padang di dekat Plaza, tapi beli nasgor juga. Bukannya rakus, tapi rencananya cuma untuk sarapan esok pagi. Kalau dingin tinggal diangetin aja kan. 

Enak kali sarapan nasgor..

Sampai di lapak Mas Bowo, tiba-tiba dapat wangsit untuk beli bakmi  ayam juga (selain nasgor). Singkat kata, ternyata rasa bakminya luar biasa enak. Nasi gorengnya malah biasa aja, standar kek yang lain. Tapi bakminya, wuih.. mancing mania.. mantap!

Mudah-mudahan besok kalau beli lagi rasanya nggak berubah. Jikapun berubah juga maklum aja sih, namanya kaki lima, ukuran bumbu juga pakai metode estimasi, alias kira-kira belaka, hhe.

Sebungkus nasi goreng ayam dan sebungkus bakmi ayam, cuma 22 ribu rupiah. Murah meriah. 

Mudah-mudahan harga ini memang harga wajar, bukan harga kasihan karena melas liat saya jalan kaki ngos-ngosan, pake kaos compang camping (baca : parkir mobil jauh di ujung jalan, dan emang lagi sengaja jalan-jalan agak jauh untuk liat-liat menu kaki lima apa aja). Bahkan (walau cuaca dingin) kemarin itu cuma pake celana pendek. 

Tepatnya adalah celana bola, beli di Toko Priuk seharga 25 ribu. Beberapa waktu lalu, pagi-pagi setelah lari-lari di alun-alun mendadak pengen berenang di Kolam Pemandian Mangli. Jadi beli celana pendek dadakan.

Intinya, penampilanku mirip anak kosan lagi kelaparan tengah malam.

Skip skip.. balik ke topik sampah

Nah.. dalam masa menunggu nasgor (dan bakmi) dibikin, saya nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, liat kanan-kiri, liat kendaraan lalu lalang, dst.

Tiba-tiba mata tertuju di satu lapak. Saya liatin dari kejauhan (jarak sekitar 10 meter), ada lapak martabak (kaki lima juga). Penjualnya bapak-bapak yang lagi beberes, lagi packing-packing, saatnya pulang.

Biasa, dia jualan menggunakan gerobak dorong. Semua alat udah dinaikkan ke atas gerobak (yaiya dong, mosok dinaikkan ke bawah). Maksudnya semua peralatan kek terpal, kursi, kompor udah di atas gerobak. Tinggal jalan. 

Oh.. Kecuali ada satu keranjang sampah yang masih ada di bawah, di sebelah gerobak.

Saya liat di dalam keranjang sampah itu banyak cangkang telur, karena objek itu paling mencolok. Asumsinya, itu adalah keranjang pribadi dan sampah dia sendiri hasil sisa-sisa (limbah) jualan martabak.

Nah sebelum pulang, bapak-bapak penjual martabak ini kliatan lagi bersih-bersih dulu, nyapu area di sekitar gerobak. Karena memang di sekitar gerobaknya itu kotor sekali, masih banyak cangkang telur berserakan, banyak juga sampah kertas, plastik, dll.

Shocking moment-nya adalah.. 

Bapak ini menggiring semua sampah tadi (dengan sapu lidinya) dijadiin satu, dikumpulkan di satu titik. 

Tiba-tiba dia mendorong semua sampah itu KE DALAM LUBANG SELOKAN. Wathevak!!

Saya ulangi, bapak ini.. dengan tanpa dosa.. dia membuang semua sampah yang udah dia kumpulkan.. KE DALAM SELOKAN.. into a f"kin sewer hole!!

Ini contoh orang berakal sehat tapi super idiot. 

Jadi, selokan itu ada semacam lubang cukup lebar (mungkin lubang kontrol),  semacam lubang di bawah trotoar seperti di film IT tempat badut mengintip itu loh.

Nah bapak ini memasukkan setumpukan sampah tadi lewat lubang ini.

Kek orang sakit mental kan? Contoh kongkret ya bapak-bapak penjual martabak ini. Bersihin sampah di jalan tapi mengotori selokan.

Pop.. pop.. pop..

Awalnya kukira bakal dapat pencerahan jiwa dari seorang penjual martabak, restorasi moralku yang lagi bobrok. Bapak-bapak pencari rezeki yang sadar lingkungan.

Nyatanya malah twisted ending, justru pengen menampar bapak-bapak sialan ini.

Lagian kenapa dia nggak bawa sorokan?

Kenapa nggak dia angkat sampah yang udah dia kumpulkan, lalu masukkan ke dalam keranjang yang udah dia siapin. Untung aja sampah yang ada di keranjang nggak sekalian dibuang ke selokan.

Padahal kalau emang dia pemalas, tinggal biarin sampahnya berserakan di atas jalan, biarin disapu pasukan orange besok pagi. Lebih gampang gitu.

Kalau udah masuk selokan malah lebih merepotkan, susah dibersihkan, ujungnya menyusahkan banyak orang. Resiko bikin mampet, resiko banjir, dst. 

Dasar manusia jahanam

Cangkang telur itu susah terurai, nggak bisa membusuk. Ngapain dibuang ke selokan. Belum lagi plastiknya dan beberapa jenis sampah lain. 

Bayangkan jika kegiatan nyampah ini dilakukan setiap hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kan b!adap namanya. 

Etapi parahnya lagi, saya pribadi cuma diam aja, ngedumel sendiri, nggak berani negur. Malas aja sih pake jalan 10 meter, udah capek jalan jauh, belum lagi balik ke parkiran, haha.. lagian masih ada resiko diamuk massa. Atas nama solidaritas perkumpulan pedagang kaki lima, bisa aja kan. 

Misal sampai adu mulut, trus bapak penjual martabak ini terbersit ide untuk teriak "TOLOOONG!!" atau bahkan lebih ekstrim "MALIIIING!!" kan runyam urusannya..

Thursday, January 17, 2019

Lagi-lagi Gabut di Rumah

with 0 Comment
Walaupun seharian gabut di rumah (keluar cuma sebentar), dimeriahkan pula oleh hujan gerimis tak kunjung henti. But.. nyatanya rejeki tetap mengalir deras.

Pertama, di pagi hari dapat kiriman pisang ambon setengah karung dari hasil kebun.


Oke ini cuma sebagian, emang sengaja disiapkan untuk cemilan sambil ngeblog & edit-edit video malam ini.
Gile.. cemilannya pisang ambon..
Padahal pisang avendes (cavendish) hasil panen sebelumnya juga masih ada sisa. Haa.. ini udah mateng lagi pisang ambon. 

Nggak cuma itu, ada info pisang lagi. Ternyata masih ada pisang 'raja nangka' (semacam mirip pisang byar) yang masih dalam proses imbu (ngimbu) di cabin (translation : gubuk di kebun). 

Sepertinya suplai vitamin bulan ini udah melebihi kuota. 
FYI, barusan sempat mikir keras, ngimbu ki bahasa indonesane opo ya? ada yang bilang (blog sebelah) padanan kata indonesia untuk ngimbu adalah 'memeram', haha lagi krungu.. emange pitik, angkrem. Oh itu mengeram.

Oke demikian info tentang pisang. Next.

Rejeki kedua, di sore hari (hampir maghrib) dapat kiriman seonggok ayam goreng beserta lalapannya.


Sayangnya ini adalah ayam kampung. Di mana saya kurang begitu menyukai taste ayam kampung. Saya personal lebih suka ayam empuk (broiler) dibanding ayam kenyal (Jowo).

Berdasarkan riset resmi dari Dinas Pertanian (atau peternakan, ya? Lupa baca di web mana). Anyway.. disimpulkan bahwa kandungan  nutrisi ayam potong (broiler) dan ayam kampung, hampir mirip. Bahkan bisa dibilang "sama aja".

Info ini valid, riset ilmiah.

Jadi kalau ada yang masih ngotot bahwa ayam kampung lebih sehat (karena makanan alami), lebih bergizi, atau yang lainnya (dibanding ayam potong), itu adalah hoax semata, oke? Hanya takhayul cerita turun temurun yang dhaif (lemah), bahkan mungkin maudhu (palsu).

Yang benar adalah.. harga ayam kampung lebih mahal dibanding ayam broiler. Ini shahih. Ayam kampung dari COC sampai usia dewasa, butuh waktu pertumbuhan berbulan-bulan, sedangkan ayam broiler cuma butuh sebulan. Ini juga shahih.

Ayam broiler menggunakan hormon pertumbuhan, ini hoax, karena hormon pertumbuhan untuk ternak udah dilarang peredarannya oleh pemerintah sejak tahun 70an.
Ya begini kalau nulis tanpa topik, nggak terarah. Ngalor ngidul nggak jelas. Masuk kategori RANDOM. Kek posting terakhir kemarin. Seharian Ujan Deres Full Mager di Rumah..
Balik lagi ke foto seonggok ayam goreng di atas.

Sayangnya lagi, saya juga nggak suka makan lalapan. So paling ujungnya, lalapan di atas bakalan berakhir di dalam perut marmut peliharaan saya, hehe..

Namun yang pasti, apapun rejeki yang datang, wajib disyukuri. Mari bersama ucapkan hamdalah, alhamdu... lillah..

Wednesday, January 16, 2019

Seharian Ujan Deres Full Mager di Rumah

with 0 Comment
Ngapain aja di rumah?

Nulis blog dapat 17 artikel, nulis di forum dapat 1 artikel, sisanya nulis komen-komen nggak jelas di forum satunya lagi.

Trus ngapain lagi?

Daftar Kaskus Creator diterima, daftar UC News ditolak (besok coba daftar lagi, kalau inget).

Apa itu?

Semacam mendaftar menjadi kontributor forum tapi dibayar. Jadi lain kali nulis-nulis artikel di sana juga bisa dapat duit. Selayaknya Google AdSense seperti di blog ini.

So.. untuk merayakan semua itu, akhirnya beli KFC abal-abal di pinggir jalan.


KFC palsu, tapi asli fried chikcen. Ini adalah porsi untuk sendiri. 6 potong harus habis, hehe.. paha 2 potong, sayap 2 potong, dada 2 potong.

Pamer?

Bodo amat, blog blog ku, sak karep karepku. Nek ora trimo, gari gawe blog dewe..

Yada yada.. oke apa lagi?

Oh tadi sempat buka FB. Ternyata ada salah satu Admin Grup Facebook (yang saya ikuti), lagi diperkarakan ke polisi. Grup Info Cegatan Jogja, admin namanya Yanto Sumantri. 

Sebenarnya dia orang baik, udah banyak menolong orang. Apalagi juga banyak orang yang mendapat manfaat dari grup yang dia dirikan. Banyak anggota grup yang bener-bener saling bantu membantu. Dari sekedar menolong orang apes tak dikenal yang mengalami ban bocor di tengah malam sepi, sampai kasus-kasus penipuan.

Pengen rasanya ikut sedih karena admin itu dituntut pencemaran nama baik oleh sekumpulan wartawan dan tim advokatnya, tapi kok nggak bisa (for some reasons).

Gimana ceritanya?

Jadi ada berita di MNC (dan atau inews) meliput demo di Jogja. Demo itu digagas grup FB bertema Jogja anti klitih (atau anti teror). Ternyata muncul di berita dengan headline Demo Pemilu Damai. Di mana seharusnya demo itu sama sekali nggak ada kaitannya sama politik.

Yowes sang Admin ngepost sesuatu di akun pribadinya mengomentari (disertai capture) tentang berita itu. Kurang lebih gini "Sekelas MNC lintas inews kok ngasih berita hoax. Judul beritanya hoax, isi beritanya nyaris hoax. Apa ada kontak yang bisa saya hubungi?".

Tak berapa lama, sang admin ketemuan sama pihak MNC untuk meluruskan  info soal kegiatan demo itu. Oke oke aja. Pihak MNC minta maaf. 

Awalnya dikira masalah kelar. Pulang ke rumah masing-masing, tidur nyenyak, mimpi indah.

Ladalah ternyata..

Ada pimpinan (atau senior) jurnalis (entah MNC, entah Radar) yang nggak terima. Namanya Kusno Utomo. Dia  pun mengumpulkan tim advokat dan komunitas wartawan Jogja untuk menindak lanjuti postingan Yanto Sumantri di social media (tentang hoax) itu secara hukum.

Dianggap udah menciderai kerja jurnalis, pencemaran nama baik wartawan, menodai karya jurnalistik, dst. Yowes akhirnya sang admin cuma bisa pasrah.

Kan awalnya damai, udah minta maaf juga, kok malah dituntut?

Well.. cuma ngasal asumsi pribadi, mungkin proses damai itu cuma dihadiri kroco-kroco MNC tanpa diketahui level atas. Memang udah minta maaf, tapi bisa jadi justru itu yang bikin pimpinan naik pitam. "Kok malah minta maaf?" mungkin gitu pertanyaannya.

Kasihan ya Mas Admin?

Sebagai orang normal, harusnya ikut sedih jika ada orang baik lagi dapet masalah. Sayangnya, untuk kasus ini ane mendadak abnormal.

Kenapa tanyamu?

Beberapa waktu lalu, saya posting sesuatu di grup.


Lagi rame-ramenya, ada ribuan notifikasi (literally), tiba-tiba dihapus admin (atau moderator) grup. Fak! Bahkan baru sedikit komen yang kubaca, udah dibumihanguskan tanpa warning.

Bukan cuma postingan itu, tapi juga semua komen dan postinganku sebelumnya juga ilang.

Jadi semacam.. jejak-jejakku di sana dihapus semua. Tanpa peringatan, tanpa basa-basi. Otoriter.

Sekarang sih udah normal, udah bisa komen lagi. Tapi udah nggak minat aktif di sana (di grup Info Cegatan Jogja). Cuih...

Soalnya percumah jugak, mirip jaman orde baru, jaman pak Harto di mana kebebasan berpendapat ditekan habis-habisan. 

Jadi kalau diminta ikut sedih, ya maap.. bener-bener nggak bisa.

Tuesday, January 1, 2019

This is Funny!

with 0 Comment
But also sad at once.

Overproud 

Terlalu bangga sama sesuatu yang absurd.

Misal ada bule ngomong bahasa Indonesia, pasti banyak orang Indonesia mendadak bangga nggak jelas. Langsung pada heboh, seperti kawanan monyet dilemparin pisang. Tak jarang langsung viral di social media, bahkan kadang sampai trending di semua platform. 

Kalau ada berita dari luar negeri menyebut tentang Indonesia atau ada seleb luar negeri yang mention Indonesia, langsung heboh juga. Gempar dimana-mana. Seolah ini adalah pencapaian Bangsa Indonesia yang sungguh luar biasa. Go Internasional.. dikenal manca negara.

Selugu itukah orang Indonesia?

Masih belum cukup. Misal ada orang populer (atau orang yang berhasil memetik kesuksesan) di luar negeri dan ternyata orang ini mempunyai garis keturunan orang Indonesia (baca : mempunyai leluhur orang Indonesia). Lagi-lagi heboh. Seolah Indonesia adalah ras tertinggi di seluruh dunia. 

Kebanggaan semu. Apakah orang Indonesia lainnya ikut andil membantu kesuksesan orang itu? Tentu tidak. Yang jelas, untuk kasus ini bukan hanya dijadiin headline berita nasional, tapi seringkali sampai masuk dijadikan bintang tamu maupun narasumber acara talk show di TV Nasional.

Kontradiktif

Lain halnya kalau ada orang Indonesia ngomong bahasa Inggris, salah dikit aja langsung dibully, diketawain, direndahin. Padahal (bisa jadi) dirinya sendiri nggak jago Bahasa Inggris. 

Ya kali kalau Bahasa Indonesia adalah Bahasa Internasional. Ya kan? Masih maklum. Lah ini...

Contoh lain, ada orang Indonesia sedang berbicara (atau menulis) menggunakan bahasa Arab. Dimana seharusnya ini lumrah dikarenakan 85% penduduk Indonesia adalah Muslim. Ya kan? Harusnya.

Namun apa responnya? 

"Ini Indonesia, Bung! Bukan Arab!"

Dasar Islamophobic. Ya kali nanti ada orang nyanyi bahasa Inggris aksen British, trus coba bilang "Ini Indonesia, Bung! Bukan London!".

Entahlah.. kenapa seringkali ada orang Indonesia yang ngomong bahasa Inggris itu suka dianggap sok-sokan. Sok pinter, sok jago, keminggris, pamer, dsb. Padahal (sekali lagi) orang yang nge-judge itu, kadang bahasa Inggrisnya sendiri juga masih terbata-bata. 

Mungkin ada semacam perasaan unggul, jika ada orang lain melakukan kesalahan, dia merasa mempunyai kasta lebih tinggi karena dia pikir udah menang poin. Merasa diri lebih baik.



Jadi seperti tak sadar diri aja sih jatuhnya. Harusnya ketika sadar ada orang lain salah dan butuh perbaikan, ya justru hal semacam itu menjadi sarana ybs memberanikan diri untuk mencontohkan praktik berbahasa Inggris yang baik dan benar. 

But hell.. yang terjadi justru sebaliknya. Orang salah wajib dipermalukan dulu. Urusan bantu meralat, ngasih tau salah dan benarnya itu nomor 17 sekian. 

Yang paling penting adalah membikin trauma dulu, biar orang yang salah itu kapok dan malu, trus akhirnya meninggalkan kebiasaan kemiggrisnya. 

Ingat waktu Pak Jusuf Kalla setelah memberi pidato di Asian Games? Beliau pidato menggunakan bahasa inggris dengan aksen indonesia yang kental. Yaudah wasalam, abis itu banyak netizen yang bully, bahkan sampai membelah portal berita nasional. Gimana perasaan Pak JK waktu itu, wallahu a'lam.

Nah, yang bikin penasaran disini, apakah netizen yang nge-bully itu memiliki British atau American accent, atau justru juga sama-sama memiliki Indonesian accent. Atau jangan-jangan malah nggak bisa bahasa inggris sama sekali, hanya sok-sok komen biar dikira pandai. 

Masalahnya, apa Pak JK trus jadi trauma berbicara bahasa Inggris?

Okelah lupakan soal Pak JK..

Di satu sisi, sebagian orang memang hobi mem-bully jika ada orang lain salah. 

Namun di sisi lain, ada juga sebagian orang baik hati yang memang ingin membantu. Memberikan masukan untuk perbaikan. 

Eh apa yang terjadi? Kadang malah dianggap Grammar Nazi, malah dengan arogan membalas "Hadeehh.. salah gitu aja, yang penting kamu paham maksudnya kan?".

Dikasih tau malah tersinggung. Okesip.. lain kali mending diam sajalah.
ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending