Monday, December 3, 2018

Pengeras Suara Masjid

with 0 Comment
Cuma pemikiran dan ingatan random. 

Tanggal 3 Desember 2018, pukul 9 malam lebih dikit. Dari rumahku terdengar nyanyian sholawat dari masjid seberang. Menggunakan pengeras suara, entah radius berapa meter suara ini bisa dinikmati. Sumber suara bukan berasal dari masjid kampung saya.

Masalahnya, udah berhari-hari kegiatan ibu-ibu sholawat itu rutin dilakukan. Setau saya, dimulai sejak sore hari. Belum pernah mencatat waktu pastinya.

Awalnya kukira (mungkin) lagi ada acara besar di masjid, mengingat beberapa minggu belakangan sering terdengar kabar ada perayaan (yang di-klaim adalah) maulud Nabi. 

Belakangan baru sadar, ternyata suara ibu-ibu sholawat itu (rame-rame dengan satu leader vocal) dilakukan konsisten tiap hari, selama beberapa hari belakangan. Dengan syair yang sama setiap harinya, hanya diulang-ulang.

What the F"K are they thinking??

Apa mereka nggak berfikir bahwa (mungkin) ada warga yang lagi sakit ingin istirahat? Atau ada anak sekolah yang harus konsentrasi belajar menghadapi ujian atau ulangan.

Atau (mungkin) ada blogger kacangan sedang mencari inspirasi. He he..

Apa (jangan-jangan) mereka berfikir, dengan bersholawat secara lantang bisa menggetarkan hati orang non-muslim sehingga tertarik masuk islam? Well jangan-jangan justru semakin membenci Islam.

Saya yakin, mereka nggak berfikir sejauh itu. Persetan lah sama bayi yang mau tidur. Persetan dengan orang-orang yang besok pagi buta harus berangkat kerja. Persetan semuanya..

"Suara saya merdu, kalian semua harus mendengarkan!!"

I know.. beberapa waktu lalu ada orang non-muslim yang memprotes pengeras suara masjid, malah masuk bui dengan tuduhan pelecehan agama. 

What the F"K is wrong with our society?

Semua orang diwajibkan berempati, tapi mereka sendiri nggak peduli lingkungan sekitarnya.



Pengeras suara masjid itu seharusnya keren

Dulu ketika belum ditemukan speaker dan microphone, bangunan masjid dilengkapi tiang tinggi, agar suara orang adzan bisa menjangkau lebih luas. 

Zaman sebelumnya, muadzin disebar ke beberapa penjuru, di pusat-pusat keramaian. Di pasar, di kebun, di sumur, di tempat gembala, dst. Untuk memanggil orang shalat, diperlukan banyak muadzin.

So, penemuan mic & speaker harusnya menjadi alat yang spektakuler untuk meng-cover semua itu. Seandainya dipergunakan dengan bijak.

Namun lihatlah sekarang.. masjid di kampung yang satu dengan masjid di kampung lainnya, jaraknya tidak terpaut terlalu jauh. 

Apa yang mereka lakukan? 

Mereka berlomba-lomba mengeraskan volume suara speaker. Alhasil suara adzan jadi terdengar nggak jelas, saling bersahut-sahutan antar masjid di waktu yang hampir bersamaan.

"Iya kalau kompak bareng.."

Pantas saja, di kampung sini nggak ada warga non-muslim, kecuali satu atau dua orang. Pendatang non-muslim saya kira nggak bakalan betah tinggal di sini.

Masih belum puas..

Bahkan beberapa menit sebelum waktu adzan tiba, speaker udah dinyalakan. Lagi-lagi bersenandung sholawat. Perang sholawat antar masjid satu dengan lainnya. Apakah itu bisa menambah keimanan? Saya yakin tidak.

Mungkin bagi sang vocalis, dia bisa trenyuh dan menangis saat bersholawat. Ingat bro, itu air mata palsu. Bukan karena makna yang terkandung dalam sholawat itu, melainkan tangisan dari artistik nada yang memang dibuat cenderung mengharukan.

Adzan adalah syariat yang agung

Saran saya, baca (lagi?) Sirah Nabawiyah terkait perumusan lafal/tekstual adzan. Adzan bukan hal main-main, bahkan Nabi dan para sahabatnya sampai rapat berhari-hari sampai akhirnya "ketok palu". Sehingga lafal adzan bisa sempurna. Tidak merugikan orang lain, tidak mengganggu kaum yang berseberangan.

Jangan sampai Rahmatan lil alamin justru menjadi ......... (nggak berani nulis, takut masuk bui.. he he..)

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending