Friday, December 7, 2018

Derita Lagi Gabut

with 0 Comment
Gabut adalah gaji buta. Oh bukan. Menurut terjemahan bebas, gabut artinya nggak jelas beut. Eh ngarang aja sih. Gabut bisa diartikan juga lagi bosen (bored) nggak ada kerjaan.

Yang jelas.. sungguh hina sekali orang yang menciptakan istilah gabut ini. Apalagi yang mengamalkannya.


Yes, saya punya FB lagi, alias fesbuk baru. Walaupun nggak ada satupun friend list yang dikenal, sama sekali. Tujuannya sih cuma untuk gabung di Grup Jual Beli dan komunitas hobi. Meski nggak terlalu aktif juga sih.

Tapi bukan itu yang mau dibahas. Namanya juga lagi gabut, kalau lagi nggak pengen jual-beli sesuatu di grup, yaudah berakhir keisengan. Buka ini itu cuma untuk nulis-nulis komen nggak jelas.

So, di salah satu grup FB yang saya ikuti. Ada satu seller yang posting dengan kalimat pembuka "Budayakan membaca". Mungkin tujuannya biar calon buyer nggak terlalu kebanyakan nanya. 

Logikanya, secara konsekuensi dari kalimat "budayakan membaca", maka seller akan menjelaskan deskripsi produk secara lengkap dan jelas. Ya kan?

Eh ternyata dia tidak menyertakan poin yang justru menurutku paling vital, yaitu harga barang yang dijual dan lokasi dimana barang itu bisa dipantau.

So, dikarenakan ke-gabut-an yang mendalam, walaupun nggak ada niat membeli, saya pun komen "Budayakan nulis sing jelas, infone seng lengkap termasuk harga & lokasi".

Terjemahan : Budayakan nulis (deskripsi produk) yang jelas, info (terkait produk) yang lengkap termasuk harga dan lokasi.

Btw, masih normal kan komentar saya?

Liat apa balesan seller kampret ini : "Budayakan komen kalau ada kependingan, kalo ngk ada ngk usah komen"

Wuih.. jangan-jangan orang ini bisa membaca pikiran. Kok bisa tau kalau saya nggak ada niat membeli, alias cuma komen gabut. He he.. mustahil ah. Tapi udah dibantu sundul, kok gitu jawabnya? Bukankah harusnya dia diuntungkan karena udah dibantu "UP".

Minimal ada 2 hal yang bikin gregetan dari jawaban si seller ini :
  1. Dia typo nulis kependingan. Kemungkinan besar (99%), maksudnya ingin menulis "kepentingan". Biarin lah, wajar typo. Saya juga sering.
  2. Seller ini punya ego tinggi dan mudah emosi. Arogan, cuma mau menang sendiri. Dia nggak mau menerima kritik dan masukan. Pokoknya harus menang. 
Padahal kupikir komentarku adalah kritik yang membangun, agar dia menyertakan harga dan lokasi, biar lebih lengkap. Ternyata justru dijawab dengan ketus.

Eh belum tentu ketus juga sih, bisa jadi dia jawab komentar sambil ngupil.

Tapi yang jelas, cuma dari satu jawaban komentar, udah bisa menilai karakter orang itu. Finally, seller ini resmi saya nobatkan sebagai manusia egois.

Yap, itu efeknya kalau saya lagi gabut. Hobinya scrolling.. scrolling.. judging.. judging.

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending