Tuesday, December 11, 2018

Sekolah Formal itu Nggak Penting

with 0 Comment
Hanya subjekif, opini personal, alias ngedumel.

Menurut saya, sekolah formal hanya buang-buang waktu. TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 kuliah 4 tahun. Total 18 tahun makan bangku sekolahan. Iya kalau skripsi lancar, kalau enggak.. bisa lulus setelah 7 tahun kuliah. Banyak kejadian.

Belum lagi soal biaya & bagaimana kualitas tenaga pengajar? Guru atau dosen pendidiknya.

Berhubung saya nggak mengunyah bangku TK, maka hanya bisa menyebutkan beberapa poin tentang tenaga pendidik waktu mengenyam kursi SD, SMP, SMA, dan S1.
  • Semua jenjang pendidikan yang saya lalui selalu ada diantaranya guru yang abusive, alias kasar, suka kekerasan, menganiaya murid, atau sekedar hobi membentak-bentak tanpa sebab.
  • Selalu ada guru/ dosen yang pengetahuannya rendah, nggak layak jadi tenaga pengajar.
  • Ada guru / dosen yang hakikatnya nggak bisa ngajar.
  • Ada juga yang malas bukan main, walau sebenarnya ilmunya tinggi
  • Ada yang kombinasi malas plus tingkat keilmuannya juga rendah.
  • Ada yang suka bisnis jualan buku atau yang lainnya, memposisikan anak didik sebagai pelanggan / customer target.
  • Porsi terbesar adalah guru / dosen yang membosankan ketika mengajar, bikin ngantuk.
  • dan lain seterusnya masih banyak lagi.. sepertinya kurang layak disebutkan seperti guru / dosen m3sum, jorok, penyakitan, kemayu / sok ganteng, dll. Hehe.. disebutin juga. Atau sekedar pilih kasih, mata duitan, banci, hobi curhat, hobi bergosip, dll. Selalu ada dimana-mana.

Lagipula banyak ilmu yang didapat ternyata nggak bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, nggak bisa diamalkan dalam kehidupan nyata. 

Hal terbaik yang bisa didapatkan selama sekolah adalah punya banyak teman.

Kalau nggak sekolah nanti jadi generasi bodoh?

Kan saya bilang di awal.. sekolah formal. Kalau soal pendidikan, jelas sangat penting. Hanya menurutku sekolah persamaan, kejar paket, maupun home schooling jauh lebih baik dibanding sekolah formal. Lebih singkat, simpel, dan lebih murah. 

Ilmu bisa didapat seperlunya, hanya diambil intisarinya, yang penting-penting aja. Tenaga pengajar juga lebih fokus. Jauh dari guru / dosen nggak jelas seperti yang disebutkan di atas. Kalau ada yang menyimpang, tinggal ganti.

Bagaimanapun, pendidikan adalah vital.

Satu-satunya kekurangan yaitu tadi, temennya dikit.

Contoh produk gagal

Orang yang menulis "lg cri bji bgkul" adalah contoh orang NOL pendidikan. Sampai sekarang saya nggak paham, sebenernya dia nulis apa, maksudnya apa. 

Foto di atas hanya contoh sederhana betapa pentingnya pendidikan. 

Padahal dalam percakapan informal, nggak butuh EYD. Tapi kok masih aja ada yang suka menulis disingkat-singkat semacam model sms an tahun 90an. Waktu masih 350/sms.

Bisa jadi, orang yang bersangkutan sebenernya udah menguntal meja sekolahan. So.. entah karena dia malas, pekok, atau emang kualitas pendidikan yang dia dapat dulu terlalu rendah.

Monday, December 10, 2018

Perda Ongkos Parkir Pinggir Jalan di Wonosobo

with 0 Comment
PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM

BAB VI STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 8 ayat 1 :

Struktur dan besarnya tarif Retribusi untuk kendaraan ber motor ditetapkan sebagai berikut :
  • Kendaraan roda 2 (dua) sebesar Rp 500,00 (lima ratus rupiah)/3 (tiga) jam;
  • Kendaraan roda 4 (empat) sebesar Rp 1.000,00 (seribu rupiah) /3 (tiga) jam;
  • Kendaraan roda 6 (enam) sebesar Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/3 ( tiga) jam;
  • Kendaraan beroda lebih dari 6 (enam) sebesar Rp 5.000,00 (lima ribu rupiah) /3 (tiga) jam.

BAB X TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 12 :
  1. Pembayaran Retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus.
  2. Pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tanda bukti pembayaran.
  3. Setiap pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dalam buku penerimaan.

BAB XIV KEBERATAN Pasal 16 ayat 1 :

Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau Pejabat
yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

--------------------------------------

Personal Opinion :

Biar gampang dicerna, ongkos parkir motor 500, mobil 1000. Kalau udah bayar, maka berhak menerima bukti pembayaran. Kalau ada pelanggaran bisa lapor ke bupati atau pejabat yang ditunjuk.

Kenyataan di lapangan.. ya gitu dueh. Kalaupun nggak terima trus mau lapor atau bikin pengaduan, then how?? Apa ujug-ujug datang ke pendopo kabupaten, ya kalau nggak diusir. Haha..

SKIP

That's why saya benci politik. Saya yakin Bupati maupun pihak terkait tau (dengan sadar) kalau kejadian di lapangan (soal retribusi dan parkir) memang nggak sesuai perda. Nyatanya seolah tutup mata, melakukan pembiaran, entah ada upaya atau enggak, yang jelas.. sejak dulu nggak ada perubahan.

"Eh ada perubahan deng, semakin kesini semakin mahal. Apalagi pas weekend, wuih.. mantap biaya parkirnya.."

Padahal di pasal-pasal berikutnya juga ditulis dengan detail jika terjadi pelanggaran. Ada hukuman/sanksi dan konsekuensinya. Namun nyatanya.. yo ngono kui.. perda hanya sekedar perda.

Bahkan ane yakin, di kota lain juga ada kejadian serupa. Alias nggak hanya di Wonosobo yang begini.

FUN FACTS :

Di Indonesia, lulusan SMP bisa menjadi Bupati, Anggota Dewan, bahkan Menteri (melalui jalur politik). Giliran untuk menajdi PNS, hahaha syaratnya panjang dan ketat. Eh ada yang lebih parah, bahkan mantan narapidana juga bebas berpolitik. Yowes nggak heran banyak korupsi di Indonesia.



FUN FACTS LAGI (Nggak tau udah direvisi apa belum) :

Walau masa jabatan udah berakhir, mereka tetap mendapat uang pensiun, sampai mati. Ok jadi masuk akal, pantes Indonesia menjadi raja hutang, semakin miskin setiap tahunnya. Masa jabatan hanya beberapa tahun (4 atau 5 tahun sik), tapi menjadi beban APBN sampai puluhan tahun berikutnya.

Nggak heran banyak anak muda nyaleg. Iya kalau mereka ahli politik. Lah kerjaannya tiap hari nge-game, mau nyaleg. Lumayan kan dapat pensiun di hari tua. Bagi sebagian orang memang menggiurkan.

Sunday, December 9, 2018

Hidup Seperti Roda Berputar

with 0 Comment
Kalau ada orang lagi tertimpa kesusahan, biasanya ada orang mengeluarkan kalimat ajaib tentang roda "Kadang naik, kadang turun. Kadang di atas, kadang di bawah". 

Mungkin itu untuk sekedar menghibur. Kalau diri sendiri yang lagi susah, ya berarti untuk menghibur diri. Namun kalau orang lain yang kesusahan, yah berarti dalam rangka nyukurin.

Padahal pepatah itu cuma ngawur.

Tapi masih aja ada orang bilang "Ingat, Bos. Roda selalu berputar. Sekarang kaya raya, besok jatuh miskin, itu udah biasa. Makanya jangan sombong". 

"Ngomong aja, berarti selama ini kamu iri".



Roda berputar untuk mengibaratkan nasib itu terlalu sederhana, bahkan terlalu sempit nggak relevan. Banyak contoh kongkret di sekitar, dimana rodanya bener-bener macet, alias gancet nggak mau berputar.

Ada orang yang lahir dari keluarga miskin, sampai tua, bahkan sampai meninggal juga tetap miskin.

Ada pula yang lahir dalam keluarga kerajaan, dimana seumur hidupnya bergelimang harta. Bahkan sejak leluhur sampai keturunan generasi mendatang tetap kaya raya.

So, pepatah yang paling cocok adalah roda itu kadang macet, kadang juga berputar. Kadang perputarannya cepat, kadang juga perputarannya lambat. Atau bisa jadi diameter roda itu ada yang besar, ada yang sedang, ada pula yang kecil. Ukuran rodanya beda-beda, ada yang mini, ada yang raksasa. 

Bottom line : Memang ada orang yang seumur hidup ada di puncak, atau sebaliknya.. seumur hidup berasa di dasar, yang penting mah.. usahahahaha...



Last Words..
Nasib itu rumit, walaupun beberapa hal memang bisa diprediksi. Jadi kalau ada yang menghubungkan perjalanan hidup manusia itu ibarat roda, udah ketawain aja. Disamping udah terlalu klise, bukan hal baru, bahkan mungkin hampir semua orang udah pernah mendengarnya, juga nggak ada korelasinya.

Friday, December 7, 2018

Derita Lagi Gabut

with 0 Comment
Gabut adalah gaji buta. Oh bukan. Menurut terjemahan bebas, gabut artinya nggak jelas beut. Eh ngarang aja sih. Gabut bisa diartikan juga lagi bosen (bored) nggak ada kerjaan.

Yang jelas.. sungguh hina sekali orang yang menciptakan istilah gabut ini. Apalagi yang mengamalkannya.


Yes, saya punya FB lagi, alias fesbuk baru. Walaupun nggak ada satupun friend list yang dikenal, sama sekali. Tujuannya sih cuma untuk gabung di Grup Jual Beli dan komunitas hobi. Meski nggak terlalu aktif juga sih.

Tapi bukan itu yang mau dibahas. Namanya juga lagi gabut, kalau lagi nggak pengen jual-beli sesuatu di grup, yaudah berakhir keisengan. Buka ini itu cuma untuk nulis-nulis komen nggak jelas.

So, di salah satu grup FB yang saya ikuti. Ada satu seller yang posting dengan kalimat pembuka "Budayakan membaca". Mungkin tujuannya biar calon buyer nggak terlalu kebanyakan nanya. 

Logikanya, secara konsekuensi dari kalimat "budayakan membaca", maka seller akan menjelaskan deskripsi produk secara lengkap dan jelas. Ya kan?

Eh ternyata dia tidak menyertakan poin yang justru menurutku paling vital, yaitu harga barang yang dijual dan lokasi dimana barang itu bisa dipantau.

So, dikarenakan ke-gabut-an yang mendalam, walaupun nggak ada niat membeli, saya pun komen "Budayakan nulis sing jelas, infone seng lengkap termasuk harga & lokasi".

Terjemahan : Budayakan nulis (deskripsi produk) yang jelas, info (terkait produk) yang lengkap termasuk harga dan lokasi.

Btw, masih normal kan komentar saya?

Liat apa balesan seller kampret ini : "Budayakan komen kalau ada kependingan, kalo ngk ada ngk usah komen"

Wuih.. jangan-jangan orang ini bisa membaca pikiran. Kok bisa tau kalau saya nggak ada niat membeli, alias cuma komen gabut. He he.. mustahil ah. Tapi udah dibantu sundul, kok gitu jawabnya? Bukankah harusnya dia diuntungkan karena udah dibantu "UP".

Minimal ada 2 hal yang bikin gregetan dari jawaban si seller ini :
  1. Dia typo nulis kependingan. Kemungkinan besar (99%), maksudnya ingin menulis "kepentingan". Biarin lah, wajar typo. Saya juga sering.
  2. Seller ini punya ego tinggi dan mudah emosi. Arogan, cuma mau menang sendiri. Dia nggak mau menerima kritik dan masukan. Pokoknya harus menang. 
Padahal kupikir komentarku adalah kritik yang membangun, agar dia menyertakan harga dan lokasi, biar lebih lengkap. Ternyata justru dijawab dengan ketus.

Eh belum tentu ketus juga sih, bisa jadi dia jawab komentar sambil ngupil.

Tapi yang jelas, cuma dari satu jawaban komentar, udah bisa menilai karakter orang itu. Finally, seller ini resmi saya nobatkan sebagai manusia egois.

Yap, itu efeknya kalau saya lagi gabut. Hobinya scrolling.. scrolling.. judging.. judging.

Tulisan Random 8 Desember 2018

with 0 Comment
Beberapa hari belakangan lagi terjerumus dalam sisi aneh dunia per-youtube-pan. Tepatnya lagi ketagihan nonton video-video orang kepatuk ular cobra/ king cobra/ black mamba. 

Lol, wut?

Kebanyakan orang yang kena gigit ular cobra, endingnya meninggal. Tapi ada juga yang cuma bengkak. Setelah dikasih anti-venom, bisa sembuh normal lagi. Ini biasanya terjadi ketika ular mematuk tapi belum sempat memompa venomnya. Jadi waktu kena gigit langsung buru-buru ular ditarik spontan. Berawal dari kaget dan panik, lalu dengan sektika refleks menarik paksa gigitan ularnya. Jadi lumayanlah masih bisa hidup, masih bisa makan enak dan menyesali perbuatannya main-main sama ular paling berbisa.

Sedangkan orang yang berujung dengan kematian justru orang yang kalem. Pede-pede aja digigit ular cobra, berlagak sok tenang. Membiarkan si ular memompa venomnya ke dalam darah. Nunggu si cobra melepas gigitan itu dengan sendirinya, selah-olah dia lagi digigit ular air atau ular python. 

Yaudah ternyata telat. Walaupun abis itu dikasih anti-venom juga nggak mempan. Mati dueh..

Dan yang paling ngeri, ada yang membusuk dagingnya, padahal orangnya masih tetap hidup. 

Kena gigit di punggung telapak tangan, ternyata dagingnya membusuk sampai ke pangkal lengan. Nggak bisa bayangin gimana perasaan orang yang kena gigit. Melihat secara langsung detik-detik tangannya menjadi bangkai. Pelan-pelan tapi pasti. Kan ngeri.

Ada pula yang perutnya sampai berlubang gara-gara efek venom. Bener-bener bolong selebar bola tenis sampai jeroannya keliatan. Padahal orangnya masih hidup dan sadar.

Ada yang kulit lengan mengelupas. Bukan hanya kulit ari, tapi bener-bener kulitnya terbuka seperti korden sampai menganga lebar, dagingnya kelihatan jelas terbuka. Ngeri pokoknya.

Ah skip lah.. 

Kok bisa ketagihan nonton gituan. Padahal setiap kali nonton, dalam hati "modyar ora.. modyaaaar". Mendadak merasa diri lebih tinggi. Haha.. merasa labih beruntung maksudnya.

Mbarang og pekok mbanget, king cobra nggo dolanan. Emange kucing.

Beda kan, kalau kucing dieman (disayang), dia bakal membalas eman. Tapi ular kan binatang liar. Apalagi cobra atau black mamba, mustahil dijinakkan. Mau dielus-elus tiap hari, giliran laper atau lagi marah juga tetep nggak segan-segan nyakot majikannya dan mentransfer venom ke dalam darah.



Sooooooooo...

Selain bikin tegang, yang menarik dari konten ini adalah komentar-komentarnya.

Dijamin selalu ada orang yang nyukurin, nyepatani dan nggoblok-nggoblokke. Belum pernah liat ada komentar "RIP"  kepada orang yang mati digigit ular. seolah udah selayaknya orang begok terkena seleksi alam.


Yap, ujdah jadi kebiasaan. Nonton video youtube paling durasi semenit, tapi giliran baca komentar malah bisa sampai 10 menit. Soalnya lucu-lucu. Seringkali videonya jelek, tapi justru komen-komennya yang menghibur.

Tuesday, December 4, 2018

Bikin Kandang Marmut Minimalis

with 0 Comment
Belum puas bikin kandang ayam, lanjut bikin kandang marmut. 

Berhubung stok bahan dan material masih berlimpah ruah turah-turah. Stok kayu untuk dibikin kerangka masih banyak, stok jaring kawat strimin (translation : kramat) juga masih panjang. Ditambah hujan turun tak kunjung reda, so.. daripada bengong mager di rumah mendingan buang-buang waktu bikin kandang marmut.


Untungnya stok bahan kayu udah diangkut ke rumah di hari sebelumnya. Jadi  nggak perlu ujan-ujanan lagi, semua udah tersedia di rumah. Tinggal potong sana-sini, lalu rakit. 


Skip. Kandang marmut udah jadi. Lengkap dengan gupon, rumah marmut yang dibikin menggunakan sisa-sisa blabak (papan kayu). 

Rencananya mau kutaruh anakan marmut ukuran tanggung, biar lebih intensive aja sih. Trus soal penutup atas, paling nanti dikasih triplek bekas aja, nggak perlu dipaku paten, biar gampang dibuka kalau mau ngasih makan marmut.

Soalnya belakangan baru sadar kalau ternyata ukuran kandang kurang tinggi. Cuma sekitar 45 cm. Jadi takutnya marmut bisa melompat keluar kandang. Makanya perlu penutup atas.

Kalau suatu saat ternyata kandang ini nggak efektif untuk marmut, yah berarti masuk plan B, beli kelinci, heuheu... 


Hujan masih turun dengan meriah, belum bosen juga. Stok air di langit masih banyak keknya. Alhasil pesan makanan delivery order. Takut ilmunya luntur kalau keluar rumah kena air hujan (duh klise), jadi pesen makan via online.

Kebetulan ada beberapa makhluk kelaparan di rumah, jadi pesen tiga porsi. Satu ayam geprek dan 2 porsi nasi goreng.

Enak, tapi pedesnya minta ampun. Salah sendiri pesen pedes, haha.. besok-besok pesen yang sedeng aja lah..

Makanan delivery order ini dari Neng Idha, alamat Karangluhur, Kalianget. Bisa dicari di Grab.

Bikin Kandang Ayam Minimalis

with 0 Comment


Kerangka kandang ayam dibikin dari sisa-sisa kayu bekas dan paku bekas. Beli jaring kawat strimin (local name : kramat) satu rol, panjang 10 meter seharga 120 ribu di toko bangunan terdekat. Tepatnya di toko bangunan bunderan.


Kawat stimin mulai terpasang, ternyata masih sisa banyak. Lumayan besok-besok untuk bikin mainan yang lain. 

Berhubung kuatir nantinya ayam kedinginan (karena lagi musim hujan), akhirnya obrak-abrik gudang untuk nyari triplek bekas. Mendadak kasihan kalau kandang ayam cuma dikasih dinding strimin. Bisa-bisa malah ayam jadi cileren, a.k.a masuk angin.


Belum punya tempat makan ayam (biasanya berwarna kuning dari plastik). Jadi bikin traditional chicken feeder, alias bikin palang-palang bambu, dibikin sejajar, mirip penjara. Cukup besar untuk akses kepala ayam melongok keluar mematuk makanan, tapi terlalu kecil untuk ayam kabur dari kandang. Koyo ngono kui lah, delok fotone wae.


Wadah pakan ayam juga dibikin dari bambu, yang masih berbentuk tabung. Dikasih lubang panjang seperti bentuk kentongan siskamling. Dipaku diluar kandang di bagian bawah jeruji bambu. Jadi dueh kandang ayamnya...

Atap cuma ditaruh seng bekas tanpa paku, jadi gampang dibuka sewaktu-waktu untuk ganti air minum (chicken waterer). Ditaruh bata merah di atasnya biar seng nggak kabur dibawa angin.

Belakangan hujan turun lagi lucu-lucunya, jadi di bagian samping kanan-kiri-belakang dikasih tirai plastik. Pake plastik bekas juga, plastik pertanian ngambil di kebun. Kalau pagi hari, tirai dibuka, jadi ayam di dalam kandang bisa melihat pemandangan luar. Kalau pas ujan baru ditutup.


Masih punya stok kayu-kayu bekas di kebun. 

Monday, December 3, 2018

Pengeras Suara Masjid

with 0 Comment
Cuma pemikiran dan ingatan random. 

Tanggal 3 Desember 2018, pukul 9 malam lebih dikit. Dari rumahku terdengar nyanyian sholawat dari masjid seberang. Menggunakan pengeras suara, entah radius berapa meter suara ini bisa dinikmati. Sumber suara bukan berasal dari masjid kampung saya.

Masalahnya, udah berhari-hari kegiatan ibu-ibu sholawat itu rutin dilakukan. Setau saya, dimulai sejak sore hari. Belum pernah mencatat waktu pastinya.

Awalnya kukira (mungkin) lagi ada acara besar di masjid, mengingat beberapa minggu belakangan sering terdengar kabar ada perayaan (yang di-klaim adalah) maulud Nabi. 

Belakangan baru sadar, ternyata suara ibu-ibu sholawat itu (rame-rame dengan satu leader vocal) dilakukan konsisten tiap hari, selama beberapa hari belakangan. Dengan syair yang sama setiap harinya, hanya diulang-ulang.

What the F"K are they thinking??

Apa mereka nggak berfikir bahwa (mungkin) ada warga yang lagi sakit ingin istirahat? Atau ada anak sekolah yang harus konsentrasi belajar menghadapi ujian atau ulangan.

Atau (mungkin) ada blogger kacangan sedang mencari inspirasi. He he..

Apa (jangan-jangan) mereka berfikir, dengan bersholawat secara lantang bisa menggetarkan hati orang non-muslim sehingga tertarik masuk islam? Well jangan-jangan justru semakin membenci Islam.

Saya yakin, mereka nggak berfikir sejauh itu. Persetan lah sama bayi yang mau tidur. Persetan dengan orang-orang yang besok pagi buta harus berangkat kerja. Persetan semuanya..

"Suara saya merdu, kalian semua harus mendengarkan!!"

I know.. beberapa waktu lalu ada orang non-muslim yang memprotes pengeras suara masjid, malah masuk bui dengan tuduhan pelecehan agama. 

What the F"K is wrong with our society?

Semua orang diwajibkan berempati, tapi mereka sendiri nggak peduli lingkungan sekitarnya.



Pengeras suara masjid itu seharusnya keren

Dulu ketika belum ditemukan speaker dan microphone, bangunan masjid dilengkapi tiang tinggi, agar suara orang adzan bisa menjangkau lebih luas. 

Zaman sebelumnya, muadzin disebar ke beberapa penjuru, di pusat-pusat keramaian. Di pasar, di kebun, di sumur, di tempat gembala, dst. Untuk memanggil orang shalat, diperlukan banyak muadzin.

So, penemuan mic & speaker harusnya menjadi alat yang spektakuler untuk meng-cover semua itu. Seandainya dipergunakan dengan bijak.

Namun lihatlah sekarang.. masjid di kampung yang satu dengan masjid di kampung lainnya, jaraknya tidak terpaut terlalu jauh. 

Apa yang mereka lakukan? 

Mereka berlomba-lomba mengeraskan volume suara speaker. Alhasil suara adzan jadi terdengar nggak jelas, saling bersahut-sahutan antar masjid di waktu yang hampir bersamaan.

"Iya kalau kompak bareng.."

Pantas saja, di kampung sini nggak ada warga non-muslim, kecuali satu atau dua orang. Pendatang non-muslim saya kira nggak bakalan betah tinggal di sini.

Masih belum puas..

Bahkan beberapa menit sebelum waktu adzan tiba, speaker udah dinyalakan. Lagi-lagi bersenandung sholawat. Perang sholawat antar masjid satu dengan lainnya. Apakah itu bisa menambah keimanan? Saya yakin tidak.

Mungkin bagi sang vocalis, dia bisa trenyuh dan menangis saat bersholawat. Ingat bro, itu air mata palsu. Bukan karena makna yang terkandung dalam sholawat itu, melainkan tangisan dari artistik nada yang memang dibuat cenderung mengharukan.

Adzan adalah syariat yang agung

Saran saya, baca (lagi?) Sirah Nabawiyah terkait perumusan lafal/tekstual adzan. Adzan bukan hal main-main, bahkan Nabi dan para sahabatnya sampai rapat berhari-hari sampai akhirnya "ketok palu". Sehingga lafal adzan bisa sempurna. Tidak merugikan orang lain, tidak mengganggu kaum yang berseberangan.

Jangan sampai Rahmatan lil alamin justru menjadi ......... (nggak berani nulis, takut masuk bui.. he he..)

Belajar Memelihara Marmut

with 0 Comment
Berhubung udah tanggal 3 Desember, biar genap.. hari ini bikin 3 postingan. Siapa tau jadi nambah semangat, sehari satu postingan di blog ini.

Motivasi personal :
Setiap huruf yang kamu tulis di sini, berpotensi untuk menghasilkan uang. Jangan malas, OK?

Belajar Memelihara Marmut

Awalnya melihat banyak rumput di halaman rumah, tumbuh nggak terkendali. Alhasil kepikiran untuk memelihara binatang pemakan rumput. 

Nyari kelinci ternyata susah. Plus ditakut-takutin orang, bahwa miara kelinci itu susah. Banyak pantangan, kek takut air, nggak kuat suhu ekstrim, kandang harus eksklusif, dst. Soal makan, nggak semua jenis rumput doyan, dst.


Akhirnya coba memelihara marmut (guinea pigs), karena (katanya) cocok untuk pemula. 

Ternyata marmut bener-bener rakus, mereka memakan (hampir) semuanya. Organik tentunya. So urusan makan, bisa dibilang tidak susah. Bahkan nasi doyan, sayur doyan, pelet ayam doyan, apa aja doyan. 

Ternyata marmut juga kebal. Suhu panas atau dingin nggak masalah. Bahkan tempat kotor kandang becek (amit-amit cuih), juga nggak masalah.

Tapi yang paling bikin bahagia adalah. Mereka nggak kalah imut-imutnya dibanding kelinci. Bahkan saya selalu tersenyum lebar cuma gara-gara suara aneh yang dikeluarkan marmut. 

Guik.. guikkkk.. guiiiik.. uik.. uik.. uik.. 

Ini videonya :



Miara marmut, cocok sekali untuk hiburan. 

Cara memelihara marmut:

Bikin aja kandang besar, marmut dicampur jadi satu di situ nggak masalah, jadi semacam kampung marmut. Mereka bisa hidup berdampingan. Asal dibikin rumah-rumah kecil (gupon), jadi mereka tidak berebutan rumah. 

Plus perbandingan jumlah pejantan sedikit, jadi nggak ada yang berantem rebutan betina, apalagi rebutan makanan. Misal punya marmut 5 ekor, jantan 1 aja nggak masalah, biar poligami punya 4 istri. 

Self background story :

Akhir bulan november, beli marmut dari orang Andongsili, murah meriah. Harganya 15rb/ekor. Marmut lokal 13 ekor. Campur, ada yang bulu karpet, ada juga yang bulu jabrik. 

Sayangnya, ada beberapa marmut yang lecet-lecet punggungnya. Bekas brantem, tapi udah mengering. Bahkan ada satu marmut yang nggak punya bola mata sebelah. 

Paling sumpek menghadapi seller yang hobi menyembunyikan sesuatu. Nilai minus dari marmutnya nggak diceritakan. 

"Good luck bro, mudah-mudahan kamu memetik apa yang kamu tanam."

Jadi ceritanya COD malem-malem, di pinggir jalan andongsili dekat pabrik. Situasi gerimis dan gelap. Setelah nunggu sekitar setengah jam, seller baru datang. Tanpa dicek, marmut ada di dalam kardus (seperti terlihat dalam video unboxing) langsung saya masukkan ke dalam mobil, dan saya buru-buru pulang. 

Sampai rumah, ternyata gitu dueh..

OK SKIP..

Sayangnya (lagi) ada satu marmut mati, karena dengan bodohnya saya coba mandiin marmut itu. Pake air dingin pula. Gara-gara liat video di youtube. Padahal marmut itu yang paling ganteng, bulunya paling lucu. Malah mati. Sampai tulisan ini dibuat, saya masih merasa bersalah. Sedih kalau inget.

But guess what.. beberapa hari kemudian, ada marmut yang beranak.

Ane nggak sadar kalau salah satu marmut betinanya ada yang hamil. Ha ha.. jadi sekarang saya punya bayi marmut 2 ekor.

Ini videonya :



Kenapa View dan Subscriber Channel Youtube Nggak Nambah?

with 0 Comment
Jawaban jujur, silahkan tersinggung.

Subscriber nggak nambah :

Video kamu jelek, nggak lucu, nggak menarik, nggak informatif, dst. Upload nggak konsisten, nggak ada yang menarik untuk ditunggu.

Viewer nggak nambah :

Topik yang kamu pilih terlalu umum, kalah sama channel lain yang udah duluan tenar. Judul video yang kamu pilih terlalu banyak saingan.

Intinya, channel kamu tenggelam, video kamu tersisihkan. 



Ingin video kamu ditemukan viewer? Pemilihan topik dan judul video adalah vital. 

Agar lebih menarik orang untuk ngeklik video kamu juga diperlukan thumbnail yang membuat orang penasaran. 

Sisanya adalah konten, ini yang menentukan jumlah subscriber. Video yang berkualitas, berbanding lurus dengan jumlah subscriber. Namun ingat poin pertama, video kamu harus ditemukan viewer terlebih dahulu.

Banyak video berkualitas di Youtube tapi underrated, alias nggak punya viewer maupun subscriber dikarenakan pemilihan topik dan judul video yang opo anane.

Beda lagi kalau channel itu udah populer. Mau bikin judul hanya "This is Wrong" atau "This is Funny" dan sejenisnya, tetep aja yang nonton jutaan. Soalnya emang udah punya subscriber jutaan. Nggak perlu lagi main SEO.

Akan tetapi cek aja video-video yang diupload di awal-awal channel (populer) itu dikelola, pasti dia bener-bener memaksimalkan SEO channel (pemilihan topik, judul, deskripsi, tag, thumbnail, dst, sampai akhirnya memaksimalkan konten, dan promosi)

Sunday, December 2, 2018

Dunia ini Nggak Adil

with 0 Comment
Pertanyaan dari forum sebelah :

Kapan pertama kalinya kamu sadar kalau hidup itu tidak adil?

Beberapa tahun lalu. Lupa pastinya tahun berapa.

Saat itu saya sedang melihat foto-foto jadul (yang belum pernah saya lihat sebelumnya) di salah satu forum internet. Dokumentasi era dimana perbudakan masih legal. Terutama foto-foto kekejaman yang dialami para budak. Manusia dirantai seperti binatang, disiksa, dipaksa bekerja, diperjual-belikan, diperlakukan lebih rendah daripada binatang.

Yang paling menyedihkan, bahkan mereka sama sekali tidak punya keberanian untuk melawan. Yap, waktu itu hati saya sukses hancur lebur.

Abis itu saya mikir.. kasihan sekali anak yang lahir dari keluarga budak. Seumur hidupnya, dia juga akan menjadi budak.

Mereka sama sekali nggak ada kesempatan untuk menikmati hidup, karena hidupnya terpaksa dihabiskan untuk melakukan segala perintah tuannya.

Sebenarnya udah sejak lama saya mengetahui hal ini, hanya saja belum menyadari sepenuhnya. Foto-foto itu yang membuat saya terpicu. Kok bisa manusia diperlakukan seperti itu. Bahkan foto-foto itu masih terekam jelas dalam memori otak saya sampai sekarang.

Anyway, sejak saat itu saya sadar bahwa dunia memang nggak adil.



Pengen saya lampirkan foto yang dulu saya lihat, satu atau dua di sini. Sayangnya barusan saya cari nggak ketemu.

Contoh ketidakadilan lainnya, ada bayi lahir cacat, dibuang ortunya, dipungut pemulung, ujungnya menjadi pengemis/gelandangan juga, giliran udah tua malah mati ditusuk preman terminal. Bisa jadi ini kejadian fiktif, bisa jadi nyata, atau minimal ada kejadian mirip seperti itu. Iya kan?

Bagaimana kamu menanggapinya?

Jika diambil dari konteks perbudakan yang saya tulis di atas. Setelah berfikir keras, maka satu-satunya pelajaran/tindakan adalah berjuang. Jangan mau ditindas orang lain, jangan mau dibully, jangan mau diintimidasi, jangan mau dihina, jangan mau diperas, jangan mau dibodohi, apalagi ditipu, dst. Intinya, wajib memperjuangkan diri, jangan pasrah.

Contoh paling sederhana, jika ada orang mangkir membayar hutang. Saya bakalan pantang menyerah untuk menagih uangnya, itu hak saya. Enak aja minjem nggak dibalikin. He he.. kan biar adil.
ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending