Friday, November 2, 2018

Mengapa banyak Muslim Indonesia membenci Sufi tapi juga menyanjung Turki dan Erdogan?

with 0 Comment

Postingan ini juga cuma copas dari forum sebelah. Berhubung udah 2 hari cuma dapet 105 tayangan dan gak punya dukungan naik. Kan kesian, mending copas di sini. Lumayan nambah coretan, kali aja bulan ini bisa apdet tiap hari di blog ini, biar gak semakin tenggelam.



Pertanyaan aslinya :
Mengapa banyak umat Islam di Indonesia yang membenci aliran Sufi namun di saat yang sama menyanjung Turki dan Erdogan?
 
Jawaban ane (no edit):
Saya pribadi termasuk orang yang menganggap tasawuf adalah aliran sesat. Istilah mudahnya, sufisme adalah aliran lebay.

Bayangkan ada orang gila di pinggir jalan, atau gelandangan, atau pengemis, tiba-tiba dipanggil kyai atau syeh. Lalu beberapa anak muda berpakaian santri cium tangan kepada orang gila ini.

Sayangnya kejadian di atas bukan imajiner, tapi kenyataan.

Orang gila ini ternyata adalah seorang sufi, yang meg-klaim sudah berhasil meninggalkan keduniawian. Kan gila beneran itu namanya, he he..

(Skip)

Contoh lain adalah tarian sufi (yang muter-muter memakai rok dan topi panjang itu). Apa maksudnya? Bahkan dalam majelis ibadah, yang mereka lakukan hanya bernyanyi dan menari bersama. Apa itu bisa menambah keimanan. Saya yakin tidak.

Intinya, saya belum pernah mendapati satu hadist pun dimana Nabi ber-acting gila, menjadi pengemis, ataupun riwayat para sahabat nabi berkumpul dan berjoget-joget dalam satu ritual keagamaan.

(Skip lagi)

Soal menyanjung Turki dan Erdogan (saya tidak termasuk, btw). Namun sependek pengalaman saya, terutama berkaca dari kawan-kawan sendiri (yang nge-fans) sama Erdogan. Intinya, mereka menjelaskan bahwa Erdogan adalah seorang pemberani. Dalam artian berani menantang “musuh” Islam, disaat pemimpin (islam) lain “cari aman”. So, simpulkan aja sendiri.

Tambahan :
Kaum sufi adalah kaum over-acting. Terutama yang meng-klaim udah sampai derajat hakikat, ma'rifat dan lohjinawi (opolah). 

Mengaku zuhud (sederhana), menginggalkan gemerlap duniawi, padahal ngisin-ngisini. Aslinya kaya raya, tapi rumah bobrok, pakaian compang camping. Kalau ketemu orang salaman sambil merendahkan diri, nunduk-nunduk sampai hampir mau tiarap. Berlebihan.

Belum lagi kalau bicara soal manunggaling kawulo gusti, alias wihdatul wujud, alias bersatu dengan Tuhan. Apa-apaan. Ini lebih parah daripada Fir'aun.

Nih, fir'aun mengaku dirinya tuhan, tapi sebenarnya dia sadar kalau dia bukan Tuhan. Jadi tujuannya cuma mau sombong buat nakut-nakutin biar disembah anak buahnya (dan rakyatnya). Kalau orang sufi ngaku dirinya tuhan (seperti pendiri sufi yang mengaku dirinya tuhan), dia bener-bener merasa kalau dirinya tuhan. Kan lebih edan daripada Fir'aun.

Dia menyangka Tuhan udah bersatu dengan dirinya, akibatnya dia menganggap udah gak perlu lagi menjalankan syariat agama. udah gak perlu sholat, puasa dan seterusnya. Begitu somplaknya pemikiran orang sufi dengan level tertinggi. Entah ma'rifat atau hakikat yang lebih tinggi, sori ane bukan anak tarikat (baca : torekoh).

Closing :
Efek dari pemikiran sesat "Tuhan ada dimana-mana". Artinya Tuhan ada di Jakarta, ada di Semarang, ada di samping rumah, ada di kebon, dst. Lebih ekstrim lagi, Tuhan ada di kamar mandi, di dalam septic tank, di dalam kotoran babi, dan ujungnya Tuhan ada di dalam tubuhmu, menyatu dengan dirimu. Kan bahaya.

PS : Tuhan berada di atas langit (Ini yang bener.)

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending