Saturday, October 6, 2018

Kalau Bukan Ahli Politik Gak Usah Debat Pilpres di Social Media

with 0 Comment
Disclaimer Only : 

Serius. Saya gak tau pilpres berikutnya diadakan tahun 2019 atau tahun berapa. Bahkan saya gak tau capresnya siapa aja. Denger-denger sih Pak Prabowo sama Pak Jokowi. So, kalau salah ya dimaapin. He he.. bahkan ane ogah googling sedikit aja. Maklum blogger pemalas.

Trus untuk cawapres, i swear.. ane bener-bener blank. Gak tau sama sekali siapa cawapres dari masing-masing kubu.




Dulu, pernah ngikutin politik (baca : berita politik via social media). Tapi berhubung cuma bikin emosi (baca : banyak berita hoax dan bot spammer), akhirnya memutuskan untuk berhenti total ngikutin info-info politik. Bikin hidup lebih tenang, i think. 

Lagipula, banyak saya lihat kawan-kawan sendiri yang saling serang, saling debat dengan kata-kata kasar (merendahkan), bahkan saling bermusuhan cuma gara-gara beda kubu. Sayang sekali pertemanan hancur cuma gara-gara pemilu.

Lebih parah lagi, banyak orang tua ikut-ikutan dan mendadak kehilangan kehormatan, dicaci maki anak-anak remaja usia labil. Dikatain "dangkal", "keblinger", dsb. Kan gak keren sama sekali.

Lebih parah lagi (dari sebelumnya), seringkali (di tengah-tengah perdebatan) argumen yang mereka bawa adalah berita hoax (baca : sesat dan menyesatkan). Mereka malas cari referensi, cuma memakan bulat-bulat info gak jelas validitasnya, asalkan berita itu mendukung argumen yang dia bawa. Apalagi cuma modal pesan broadcast dari grup whatsapp.  Hmm...

Tapi yang paling bikin cedih. Mereka sama-sama bukan lulusan ilmu politik, bukan ahli politik, bahkan gak ada pengalaman sama sekali dalam dunia politik. Tapi kok bisa mendadak berubah sedemikian rupa menjadi dewa dalam bidang politik.

But, hey.. mungkin mereka butuh panggung untuk berekspresi, mungkin mereka butuh pengakuan publik (baca : pengakuan user sosmed yang notabene kawan-kawannya sendiri jugak) bahwa mereka "cerdas" dan "patut diperhitungkan". And so.. and so.. and so...

Katanya social media bertujuan untuk "Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat". Kenapa pas masa kampanye jadi "Jauh dekat semuanya musuh".

Whatever..

Bagi saya, politic is not my thing. Daripada menghabiskan energi di social media, mending bikin panggung sendiri via Blog, bisa dapat duit pula.

Walaupun bulan kemarin cuma dapet 60rb dari blog ini, lumayan buat beli gorengan seminggu 2x, ha ha.. Bulan sebelumnya malah cuma 30rb. tapi tetep lumayan buat beli martabak telor satu kotak. Ya kan?

Pengen bebas berekspresi tapi dapat duit lebih banyak? Bikin channel Youtube aja. Ada satu video ane bisa menghasilkan duit 50$ per bulan :

Baca : 50$ Per Bulan CUMA dari 1 Video Youtube

Ngapain debat gak jelas di social media, gak ada untungnya. Kalau tujuannya pengen "mencerdaskan bangsa", bikin konten kreatif di youtube. 

Nih ane kasih video ane, walau sepi penonton tetep dapat duit jugak.



Debat di social media, cuma bikin jijik orang. Harus sadar, social media biasanya cuma berkutat di lingkaran orang-orang terdekat. Jangan sampai kawan sendiri malah menjauh jijik. 

Kalau gak bisa bikin video, alias cuma bisa menulis, yaudah bikin blog aja.

"Blog ini juga menjijikkan, bre.."

Minimal ane belum pernah tau ada kawan sendiri nyasar ke blog ini. Ane gak pernah nyebar link blog ini kemana-mana. Jadi kalaupun ada orang mampir kesini trus muntah-muntah, kemungkinan besar juga orang tak dikenal, cuma iri karena gak punya blog sendiri. He he... peace!

Channel youtube ane juga channel bule, jadi biarkan bule yang jijik. Itu!

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending