Monday, July 25, 2016

Maling Jahanam !!

with 2 comments
Suatu hari ane kehabisan odol (pasta gigi) di rumah. Daripada keluar rumah gak berani mangap. Terpaksa sikat gigi pake sabun mandi. Lumayan lah, mulut jadi wangi. 

Lagipula siapa tau di jalan ketemu orang.. trus dikira abis nyemil sabun.. atau mungkin dikira over dosis karena mulut masih berbusa. Itung-itung bisa jadi bahan cerita di blog. Ha ha..

Pagi itu ada janji ketemuan dengan seorang kawan lama, Indah namanya. Namun sebelum itu, ada janji lain yang harus dipenuhi duluan, yaitu kencan dengan ikan-ikanku di kolam untuk ngasih mereka makan.

Berangkat ke Kolam
 
Perjalanan menuju kolam ikan. Biar gak ketagihan sabun, mampir warung kelontongan dulu untuk membeli odol. Lanjut ketemuan dengan ikan-ikanku dalam misi untuk membuat mereka kenyang.


Dukung hukum potong tangan untuk maling (pencuri)
Pembuatan Kolam Baru
Abis itu langsung pergi ketemuan dengan kawanku tadi. Tapi daripada pergi kemana-mana membawa odol di dalam tas, lebih baik kutaruh odol itu di kabin (baca : gubuk) kolam.

Skip Udah Sore

 
Sebelum pulang ke rumah, mampir ke kolam untuk ngasih makan ikan lagi.. sekalian ngambil odol yang tadi pagi kubeli. 


Emang lagi sial.. ternyata odol itu hanya disisain kotak kosong kemasannya aja. Kali aja aku bisa sikat gigi pakai kertas karton bungkus odol.. yakali..

Kemana isinya? Digondol maling bedebah pecinta gratisan. Dikiranya nemu mungkin.. Masak odol di dalam kabin dikira nemu. 


Dasar mental bobrok !! 

Jangan emosi..

Nyuri odol, apa untungnya cobak? 

Apa dia gak mikir.. saat ngambil hak milik orang lain tanpa ijin, nantinya dia bakalan kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar. Berapa nilai odol, harganya paling sepuluh ribu rupiah.

(MUNGKIN) besok rumahnya bakal kena angin puting beliung, lalu menghabiskan duit ratusan juta untuk renovasi. Cuma terkadang dia gak sadar bahwa rumahnya hancur gara-gara nyuri odol.

Lebay ah..

Tapi emang, nyuri odol gak harus dibalas sakit gigi, atau mendadak ompong. Bisa juga jatuh dari motor, walau gak punya motor. Bisa ketabrak mobil walau lagi tidur di rumah, bisa apapun. Yang jelas.. balasannya sama sekali gak sepadan.


Dukung hukum potong tangan untuk maling (pencuri)
Kolam Setengah jadi
Semakin gak rela barangnya dicuri, semakin berat balasannya. Semakin penting barang yang dicuri, semakin besar ancamannya. Semakin tinggi nilai barang itu, semakin pencuri sengsara. 

Minimal senilai hukuman potong tangan. 

Camkan itu, POTONG TANGAN, Ndes !!

Udah paten hukum langit, kejahatan pasti lebih berat balasannya. Perbuatan sekecil zarah (lebih kecil dari butiran debu) aja, udah pasti dibalas. Itu udah jaminan 100%, kok masih nekad aja. 


Dasar sampah masyarakat !! 

Sabar, Gan !

Bikin Pagar Kolam

 
Gak mau menyalahkan maling sepenuhnya. Lagipula gak ada saksi. Mau apa lagi..


Sementara, biarin dia berurusan dengan Sang Pembalas yang adzab-Nya sangat pedih. Lagipula ane juga kudu introspeksi. Apa mungkin karena kolamku terlalu terbuka lalu memancing orang berpikiran buruk. 

Mungkin aja kolamku terlalu menarik orang untuk berbuat jahat.

Lalu kuputuskan untuk membuat pagar bata mengelilingi kolam. Mungkin dengan begitu, orang jadi semakin sadar bahwa kolamku adalah area pribadi. Teritori properti yang gak boleh diterobos sembarang orang.

Gudang Peralatan Kolam Lama

 

Ada satu kolam kecil (beda lokasi namun) dekat dengan kolamku yang baru. Di dalam area kolam itu ada mata air alami yang mengalir sepanjang tahun. Udah bertahun-tahun dipagar rapat setinggi 3 meter bahkan mempunyai atap. 

Di sana ada kabin lawas yang kujadiin gudang menyimpan inventaris (peralatan dan perlengkapan) kolam, karena (Insya Allah) aman dari maling. 

Dukung hukum potong tangan untuk maling (pencuri)
Ada Mata air di dalam situ
Disamping itu, kolam ini juga kujadiin hatchery (kolam penetasan) untuk ikan kecil (yang mahal-mahal), karena cocok untuk bayi-bayi ikan, aman dari paparan cuaca (panas dan hujan) maupun predator.

Gudang Peralatan Kolam Baru

 

Namun setelah aku bikin pagar keliling di kolam yang baru, daripada capek mondar-mandir.. aku mulai menaruh peralatan di kabin yang baru. 

Satu per satu kubeli peralatan untuk melengkapi fasilitas kolam baru. Secara bertahap sesuai kebutuhan. Dari mulai pipa-pipa, hapa, karamba, keramat besi, seser, ember, alat grading, jaring sekat, linggis, palu, arit, pisau, cuplik, sepatu boot, cetok, cangkul, jas hujan, payung, dsb.. dsb.. sampai urusan pakan (por/voor/pelet), packaging, dan obat-obatan ikan semua ada di kabin yang baru.

Dasar Maling Jahanam
 

Saat proses pembangunan pagar sedang dilakukan, ada satu ember hilang. Ember yang biasanya dipakai untuk menampung anakan ikan (setelah induk memijah) ini lupa disimpan di tempat aman. 

Teledor, ceroboh dan gegabah, ha ha.. alat lain di simpan di kabin, ember ketinggalan di luar lalu pagi hari udah lenyap.

Bayangin, cuma semalem ditinggal udah raib.

Dukung hukum potong tangan untuk maling (pencuri)
Masih ada pagar setinggi 1 meter
Status pagar udah selesai sementara, kubikin setinggi 2 meter lebih, namun sayangnya ada satu sisi yang lain hanya setinggi 1 meter (maklum.. pembangunan juga bertahap tergantung cash flow). 

Walaupun predator udah gak bisa masuk, namun manusia (intruder) masih bisa melompat dengan mudah.

Alhasil.. pada suatu pagi, aritku raib digondol maling. Mustahil keslimpet karena kemarin sore (sebelum pulang) aku masih melihat arit itu di tempat biasanya. 


Arit di kolamku adalah alat super penting. Untuk memotong segala sesuatu.

Untuk mencari pakan alami ikan-ikanku, untuk dipakai kawanku membabat rumput di tepian kolam biar gak dijadiin tempat sembunyi kadal maupun ular (amit-amit deh ada ular di kolamku, jangan sampai), bahkan arit bisa digunakan untuk menyembelih saat pengen bikin ikan bakar di kolam. 

Karena begitu pentingnya arit, maka langsung beli yang baru. Namun aku masih dendam sama si maling. Suatu saat kalau ketemu, bakal kuhabisin sehancur-hancurnya. 


Whatever it takes !!

Jika orang dari luar kampung yang nyolong, gak mungkin hanya membawa arit, karena banyak alat lain yang jauh lebih berharga. Lagipula aku paham penampakan aritku setiap detailnya. 

Siapa tau.. suatu saat si maling ketemu.

Lagian udah fixed, si maling adalah tukang ngarit (translation : pencari rumput).

Dukung hukum potong tangan untuk maling (pencuri)
Situasi kolam sebelum dipagar (lagi ujan)
“Pake sok-sokan, memang harga arit berapa?”

Memang harga arit hanya 50 ribu rupiah, namun ini soal harga diri. Dan harga diriku tak terukur nilainya. He he.. bagaimanapun.. harta dan kehormatan wajib dijaga dan dipertahankan sekuat tenaga.

Kasus Kemalingan

 

Kasus 1
Adalah tetanggaku, Kang Besut. Dia bertahun-tahun punya kolam ikan. Ada ikan nila, gurameh, grass carp (braskap), dll. Sampai sekitar tiga bulan lalu kolamnya dikuras maling. Hanya disisain sebagian ekor ikan, disisain sedikit katanya. 

Dia marah-marah sendiri, tapi gak mau lapor polisi. Padahal dia punya orang yang diduga menjadi malingnya. Seminggu kemudian, Si Maling beroperasi lagi, menghabiskan ikan Kang Besut sampai tuntas dari kolamnya. Tak ada seekor ikanpun tersisa. 

Kasus 2
Adalah tetanggaku, Si Yatman. Dia baru bikin kolam baru untuk pembesaran ikan. Lalu kolamnya diisi dengan berbagai jenis ikan seharga jutaan rupiah. Dua hari kemudian kolamnya bersih dikuras maling, tak ada satupun ikan tersisa. Diapun pasrah tanpa perjuangan. 


Bayangin aja, cuma hitungan hari, Gan !!

Kasus 3
Adalah Si Behel. Setahun lebih dia punya kolam (air dalam) berisi ikan-ikan kualitas super. Ada ikan nila, ikan mas, ikan koi, comet, dll. Ukurannya udah di atas rata-rata. Bahkan gak ada satupun ikanku yang bisa menandingi kualitas ikannya Si Behel ini. 

Namun dia gak tau bahwa ternyata kuantitas (jumlah) ikan di kolamnya berkurang sedikit demi sedikit (dugaan : dipancing secara bertahap).

Sempat kupinjam satu indukan ikan mas betina untuk kupijahkan. Setelah berhasil memijah, kubalikin indukan ikan itu. Ternyata itulah kali terakhir si ikan terlihat.

Setelah itu dia mulai sadar bahwa banyak ikannya yang juga ikut menghilang. Dia berusaha (ekting) berfikir positif, mungkin ikannya kabur satu per satu.

(Padahal kolamnya rapat, suer deh rapet banget. Kolamnya dalem soalnya. Saluran pembuangan cuma satu dan sangat kokoh, tanpa ada tanda-tanda kerusakan. Kalau mau buka saluran juga harus berendem di dalam kolam, kan syusyah). 

Alhasil beberapa waktu kemudian, kolamnya benar-benar kosong tanpa ikan. Si maling sukses besar.

Dukung hukum potong tangan untuk maling (pencuri)
Kolam lama
Kasus 4
Adalah Si Har. Dia membeli puluhan ikan mas dan belasan ikan koi ukuran sedang (bernilai jutaan jugak). Pertumbuhannya pesat karena tiap hari dikasih makan roti tawar (kadaluarsa) sisa pabrik. Aman-aman aja untuk beberapa waktu. 

Giliran ditinggal ke luar kota 2 minggu untuk urusan bisnis. Pulang-pulang.. ikan koi miliknya habis, disisain ikan mas aja. Ada satu orang yang dicurigai.

Sayangnya, si Har juga pasrah tanpa perlawanan, tanpa usaha, tanpa perjuangan. Bukan rekjeki dia, katanya.

Itu hanya 4 kasus. Belum soal Naskuru, makwar, dll, dll. Kalau kutulis semua bakalan panjang kek skripsi. Karena masih buanyaaaaaak kasus lain.



Sayang..
 

Masalahnya, gak ada satupun korban pencurian yang mau menempuh jalur hukum. Takut keluar biaya, katanya. Gak sempat karena terlalu sibuk kejar setoran tiap hari. Kuatir prosesnya ribet. Sisanya karena malas berurusan dengan polisi.

Padahal lapor tinggal lapor aja, gak ada biaya. Seandainya tak satupun orang yang dicurigai sebagai pelaku juga gak papa, apa susahnya lapor. Minimal polisi trus jadi rajin patroli di area situ. 

Jika ada yang orang yang dicurigai sebagai si maling, biarin aja dipanggil polisi untuk interograsi, atau diselidiki, atau apapun istilahnya itu

Jika ada tersangka, apalagi punya saksi, udah pasti masuk bui. 

Biarin polisi yang ribet, emang kerjaannya gitu. Mereka digaji uang rakyat buat apa. Pelapor mah sama sekali gak ribet. (Berani ngomong karena udah 2 x pengalaman lapor polkis atas kasus yang berbeda).

Nenek-nenek nerobos properti trus ngambil biji cokelat di tanah (hasil runtuh) aja bisa masuk penjara berbulan-bulan, apalagi maling ikan yang nilainya berjuta-juta.

Conclusion

 
Saat ini kolamku udah full pagar setinggi 2 meter lebih. Duit 12 juta amblas untuk bikin pagar aja. Ini belum urusan pondasi, dll, dll loh 


Sekali lagi (untuk reminder pribadi), 12 juta hanya untuk membangun pagar batako aja. Camkan !!

Jika masih ada orang nerobos juga, urusannya bakal panjang. Pokoknya siap-siap aja mendapat mimpi buruk, hidup ogah mati gak mau. He he..

Dukung hukum potong tangan untuk maling (pencuri)
Udah full pagar setinggi 2 meter lebih
Udah gak jaman main hakim sendiri, apalagi norak-norak sok preman. melainkan jika ada orang nyenggol kolamku, fixed bakalan aku usahakan  pake jalur hukum. 

Minta bantuan LBH atau nyewa pengacara kalau perlu. Soalnya kalau dibiarin aja, bakalan semakin banyak korban. Jangan biarin maling berlarut-larut bergelimang harta haram, kasian. 

Minimal jadi peringatan untuk maling jahanam biar dia tobat di penjara. Heuheu.. 

Jangan Dibuka :

Rusuh = BUI
Ora percoyo? Jajal wae.. !!

2 comments:

  1. Mas, kl pake tembok semen biayanya kan gede. kl pake pagar pohon salak gmn ? setelah baca blog nya mas thomas admanda jd pngin miara ikan jg. tapi ladang saya jauh dari rumah.

    ReplyDelete
  2. gatau deh gan, belum pernah nyoba pake pohon salak. yang jelas, berang2 kulitnya licin, dia makan ikan juga gak takut duri. jadi gatau duri salak mempan atau enggak di kulit berang2

    ReplyDelete

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending