Sunday, June 12, 2016

Lampu HID - Pengendara Egois Gak Tau Diri

with 0 Comment
Naik motor kesayangan. Berangkat jam 12 malam. Jalanan agak ramai karena saat itu malam minggu. Sempat dihadang razia, untung bawa surat-surat. 

Matiin motor, lalu polisi mendekat, tiba-tiba dia seperti ngajak ngobrol, tapi aku gak paham. Cuma kubalas senyum, berusaha ramah. 

Not sure, mungkin justru malah kelihatan seperti ketawa sinis. Siapa yang tau..

Suara headset di telingaku terlalu kenceng. Gak bisa denger yang lain, pak polisi kek charlie chaplin lagi pantomin. Agak deg-degan sebenarnya, takut kena tilang gara-gara dengerin musik sambil berkendara.

Kutarik tas ransel ke depan, untuk nutupin kabel headset di dada. Lalu buru-buru ambil SiM dan STNK dari dalam tas. Menunggu polkis lengah lalu buru-buru matiin musik player di dalam kantong jaket. Yes, aman! Pikirku.

"Tumben razia, abis ada garong?

"Kenapa, Pak?

"Abis ada yang kemalingan motor?"

"Oh, gak ada Pak, hanya pemeriksaan rutin"

"Tiap bulan lewat, perasaan baru kali ini saya ketemu razia?"

"Oh kita selektif, Pak"

"Oke, tapi jalanan aman kan?"

"Iya, aman. Silahkan melanjutkan perjalanan"

Polisi sengaja kuajak ngobrol sok akrab, biar dia gak nyari masalah lain. Padahal gak ngerti juga, selektif apa maksudnya. Juga biar konsentrasi sang polisi pecah saat ngecek surat maupun kelengkapan kendaraan. Lagipula tadi di awal aku gak nyambung diajak ngobrol, cuma iseng aja biar dia gak tersinggung.

Entahlah kenapa polisi sukanya melakukan razia dibanding mengatur lalu lintas. Apa karena mau lebaran. Ah ini bisikan setan, mereka yang nyari THR di jalanan itu hanya oknum. Lagian, dini hari ngapain ngatur lalu lintas. Kasian mereka harusnya tidur, malah lembur. He he..

Lampu HID
Keluar dari jalanan Rumah Sakit Temanggung (Parakan), lampu perkotaan mulai hilang, kabut tebal mengurangi jarak pandang, night vision on. Bulu mata mulai mengembun. Udara dingin mulai bikin badan jadi auto vibrate mode (alias bikin gemeteran tanpa kendali). Ah yang penting pelan-pelan namun konstan. 

Tapi selalu jengkel saat ketemu mobil (atau motor) lawan arah menggunakan lampu sorot HID (atau LED?). Pokoknya itu lampu sumber celaka, bikin petaka. Ada yang warna biru, merah, hijau, dan yang paling popular adalah warna putih. 

Lampu HID - Pengendara Egois Gak Tau Diri
- Lampu motorku masih standar halogen -
Saya yakin, semua pengendara lain juga terganggu dengan lampu HID itu. Karena bikin silau, mungkin juga merusak mata. Khususnya mataku yang bener-bener gak kuat menerima intensitas cahaya sebesar itu. Menyipitkan mata bisa membuat pandangan jadi semakin kabur. Apa harus merem?

Sorot Lampu Putih Tajam Menusuk Mata
Papasan dengan HID user di jalanan. Dari jarak jauh masih bisa direspon dengan dim (kode kedipan lampu). Walaupun sorotan lampu putih itu masih tetap menusuk tajam, tapi minimal mata kita bisa sedikit adaptasi. Otak kita bisa pelan-pelan mengambil komando untuk mengurangi kecepatan laju kendaraan yang kita naiki.

Walaupun seringkali juga banyak sopir bedebah gak peduli dengan dim. Mereka tetap aja menggunakan lampu HID jarak jauh tanpa dosa. Persetanlah dengan pengendara lain, aku orang kaya. Ini jalanku, aku harus tampil sangar dan mobilku harus keren bercahaya menyilaukan. Ini caraku melawan gelapnya malam, kalian bodoh kalau gak punya lampu HID. Mungkin begitu pikir mereka.

Tapi yang bahaya adalah saat papasan mendadak dengan pengguna lampu HID. Entah di tikungan atau abis tanjakan. Udah dijamin mengalami buta mendadak (buta sementara - blank), maka rem pun harus mendadak pula. Kan bahaya.

Googling aja berapa banyak pengguna jalan yang udah sukses nabrak trotoar, nyungsep di got, pelukan sama pohon, ciuman sama aspal, atau glosoran di bebatuan kerikil pinggir jalan. Gak kehitung. Betapa lampu HID bisa menjadi sumber petaka, bahkan seringkali mencabut nyawa.

Bagi kalian pengguna lampu HID
Bukannya menjadikan kalian terlihat cerdas dan keren, justru kalian terlihat cupu dan bego gak punya otak. Bukannya kalian dicap orang kaya banyak duitnya, tapi malah dicap egois, kelihatan aslinya. Kalian gak menghormati pengendara lain, gak peduli keselamatan pengguna jalan yang lain. 

Percayalah, bahwa setiap malam kalian disumpahin banyak orang. Iya, karena kalian hanya orang bangsat gak tau diri.

Skip skip..
Nyampe Wonosobo jam 02.30. Hampir waktu sahur, pikirku. Lalu mendadak lapar. Langsung deh menuju rumah ortu. Sepanjang jalan udah aja kebayang teh panas dan makanan bergizi lainnya.

Gedor-gedor pintu depan dan pintu belakang gak ada yang denger. Nyoba gedor jendela juga gak ada respon.
I know, ucapkan salam 3x, jika gak ada jawaban, maka pulanglah. Bagaimanapun, rumah adalah aurat. Walaupun tuan rumah ada di rumah, tapi ketika diucap salam 3x gak ada respon, maka hendaknya balik kanan bubar jalan. Siapa tau tuan rumah lagi tidur, lagi sibuk, atau emang lagi gak mau menerima tamu. Itu aturannya, tamu harus tau diri. FYI, bahkan tuan rumah berhak menusuk (mencongkel) mata sang tamu jika sang tamu itu ketahuan ngintip-ngintip ke dalam rumahnya. Ngeri kan..
Sayangnya, logikaku belum nyampe ke situ. Badanku udah gemeteran setengah ampun. Seolah ada delusi teh panas di depan mata. Perut kelaparan ditipu otak, dan gigi udah gak sabar pengen ngunyah. Emang kalau lagi panik suka gak fokus. Ha ha..

Dengan berat hati, akupun pulang ke rumah. Naruh tas, nyopot headset, slayer, kaos tangan, ganti sendal jepit. Kemudian meluncur ke kota nyari makan sahur. Entah apa yang ada di benakku melakukan itu, bener-bener buyar konsentrasi. Mungkin ini akibat ngakalin Pak Polisi tadi (maapin, Pak). Alhasil, nyampe di warung makan langsung menggigil dan siang harinya mendadak demam. Ha ha.. TAMAT !!

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending