Wednesday, June 1, 2016

Dilema Hutang Piutang

with 0 Comment
Ada seorang kawan ingin meminjam sejumlah uang. Tapi dia gak mau ngasih tau alesannya untuk apa. Dia cuma bilang bahwa dia lagi butuh uang. Oke, semua orang juga butuh, pikirku. 

Tetapi, sebagai seorang teman yang baik budinya, akupun langsung membuka aplikasi M-Banking di HP ku. Siap transfer.

Walaupun bodoh, tapi aku bukan orang idiot. Aku harus bisa belajar dari pengalaman. Disini, aku punya aturan pribadi, semacam protokol yang kubikin sendiri. Jadi walaupun sesama kawan, tetap kutanya kira-kira kapan bisa dibalikin.

Ternyata dia gak bisa ngasih target waktu (walaupun hanya waktu perkiraan). Kalau udah punya uang pasti dibalikin, gitu doang katanya. 

Sekali lagi kuminta kejelasan duit untuk apa dan kira-kira berapa lama. Biar aku juga bisa ikhlas minjemin duitnya. Masih gak ada jawaban yang berarti, alias cuma ngeles. Hmm..

Walau begitu, atas nama setia kawan, akupun ingin membantu. Tapi karena serba gak jelas, aku hanya bersedia meminjamkan sepertiga dari sejumlah uang yang dia mau. Kuminta rekening untuk transfer, ternyata gak ada balasan. Yaudah. 

Dilema Hutang Piutang
Duit dari ngeblog - digaji Google

Pembelaan
Bukannya berprasangka buruk, tapi ini hanya pembelaan. Jika duit pinjaman itu dipakai buat mabok (misalnya), kan aku juga ikut kena cipratan getahnya. Atau duit itu dipakai untuk nambahin koleksi kelinci anggora dan kucing persia di rumahnya, kan gak masuk akal juga.

Aku adalah tipe orang yang paling malas ngasih pinjem duit ke orang yang gak bener-bener butuh (darurat). Karena kemungkinan besar dia juga gak akan serius untuk berusaha ngembaliin. 

Soal jangka waktu, coba dia bilang sebulan, atau dua bulan, atau setahun kan bisa. Kalau cuma nunggu dia punya uang untuk balikin, kan gak jelas, bisa 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, dst. Capek nunggu, bisa kalah sama inflasi dong.
 
You know, ini masalah duit, bisa berbahaya. Berapa banyak tindak kriminal di luar sana yang bermotif duit, gak kehitung kasusnya. Perampokan, pencurian, penipuan, bahkan bunuh-bunuhan, sebut aja semuanya ada. Banyak keluarga hancur gara-gara masalah duit. Musuh-musuhan antar anggota keluarga, perselisihan antar saudara gara-gara duit sering kejadian, apalagi sekedar pertemanan. 

Intinya, ini bukan soal pelit, bukan juga soal percaya gak percaya antar sesama kawan. Tapi mana ada bank yang mau ngasih pinjaman, tanpa tau tujuannya buat apa dan jangka waktu berapa lama.

Berhubung ini statusnya pertemanan, bahkan gak kuminta jaminan, atau melihat slip gaji untuk menilai kemampuan melunasi. Sekali lagi, ini bukan soal kepercayaan, tapi hanya gak mau kehilangan kawan.

Skip.. skip.. skip.. 
Like I said, aku coba belajar dari pengalaman. Udah beberapa kali kehilangan teman karena perkara hutang-piutang. Bukan sebab temanku gantung diri karena gak bisa ngelunasin hutangnya.

Ada teman yang minjem uang, lalu menghilang entah kemana. Padahal kalau emang belum bisa bayar, kok ya ndak bilang aja.

Ada teman pinjam uang, lalu lupa, atau pura-pura. Dia gak kabur kemana-mana. Mungkin emang bener amnesia.

Ada yang pinjam uang, belum dibalikin tapi bilangnya udah. Kan pusing jadinya. Masak iya ane yang lupa? Padahal ada catatannya.

Ada juga yang alesannya selalu belum punya, padahal aktif di social media tanpa dosa. Kenapa tanpa dosa? Karena hobinya jalan-jalan kemana-mana, wisata kuliner kemana-mana. Kan bikin mual ngelihatnya. Bikin kotor pikiran aja. Jadi malas pula bergaul sama teman model begini. Udah kehilangan respect duluan.

Kalau emang beneran belum punya, ya gak papa juga sebenernya. Asal kasih alasan jujur dan minta tenggang waktu baik-baik kan bisa. Ane juga gak mungkin tega nagihnya. Kalau emang belum bisa sportif, setidaknya berusaha.

Karena beberapa kejadian itu, jadilah aku harus lebih hati-hati dalam perkara hutang piutang. Soal nominal uang, gak begitu bikin sengsara. Tapi kan sayang, satu per satu temanku berguguran.

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending