Friday, June 17, 2016

Deposito Bank Vs Menanam Singkong

with 0 Comment
Posting ini adalah lanjutan dari artikel kemarin : Gaji Tiap Bulan dari Bunga Deposito Bank

Deposito Bank
Seperti dijelaskan pada artikel kemarin. Bank nasional, hampir semua mempunyai kisaran bunga deposito sekitar 5% per tahun. 

Jadi misal kita punya deposito 10 juta, maka dalam setahun kita bisa mendapat bunga sekitar 500 ribu. Dan itu berbanding lurus, berlaku kelipatannya. 

Deposito Bank adalah cara mendapat pasive income (penghasilan tambahan) yang benar-benar bikin ngiler. Resiko super minim (hampir gak ada), dengan pendapatan bunga setiap bulan yang stabil.

 Deposito Bank Vs Menanam Singkong
Abaikan foto ini
Beda dengan koperasi-koperasi amatir, cenderung memiliki persentase bunga deposito yang jauh lebih tinggi dibanding bank besar. Namun resiko bangkrut juga masih tinggi, seringkali direkturnya kabur gak jelas, meninggalkan investornya menangis seperti bayi. Ha ha..

Menanam Singkong (cassava)
Setiap petani mempunyai trik masing-masing. Selain menggarap tanaman inti sebagai sumber utama penghasilan, petani juga biasanya mempunyai tanaman pendukung (bisa di lahan yang sama). Ini adalah salah satu cara petani agar bisa mendapat pasive income. Tanaman pendukung ini juga berfungsi sebagai back up tanaman inti. Jika seandainya tanaman inti mengalami kegagalan, maka minimal.. tanaman pendukung diharapkan bisa jadi hiburan. 

Tanaman pendukung yang paling popular dan paling minim resiko (khususnya di daerahku) adalah tanaman singkong. 


Singkong sebagai benteng pembatas lahan
Mendengar kata "singkong", mungkin orang bakal ketawa. Tapi percayalah, jangan pernah meremehkan tanaman satu ini. Dibawah ini kukasih gambarannya.. 


Menanam Singkong tidak Membutuhkan Modal
Tongkat kayu jadi tanaman, analogi yang bagus dari Koes Plus. Yup, hanya perlu menancapkan potongan kayu (dugel) lalu tanaman singkong bakal berkembang dengan sendirinya. 

Tanaman singkong adalah tanaman yang super keren. Dia adalah tanaman “abadi”, setelah panen – ditanam lagi, setelah panen – ditanam lagi (seperti halnya pohon pisang, yang selalu regenerasi tanpa henti). Selain itu, tanaman singkong juga anti hama, anti bacok, bisa hidup tanpa mengenal musim, kebal penyakit, kebal peluru, dst, dst. 


Memang membutuhkan waktu agak lama, yaitu 6 - 8 bulan agar umbi (singkong) siap panen. Tapi gak masalah, karena tanaman singkong tak butuh perawatan. Prinsipnya, setelah tanam – lupakan. Kecuali mau bikin daunnya untuk sayur nasi padang. He he..

Berapa Duit Hasil Panen Singkong?

Jika tanaman singkong hanya berperan sebagai tanaman pendukung. Maka biasanya hanya ditanam di sisi tepi (pinggiran) mengelilingi lahan (sebagai benteng – pembatas lahan - tidak full lahan). Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu tanaman inti, tidak menghalangi masuknya sinar matahari, tapi juga melindungi tanaman inti dari predator luar (hama).

Jika demikian, tanaman singkong mengelilingi lahan seluas 1000 m bisa menghasilkan uang sekitar 1 juta rupiah per 6 - 8 bulan. 

Hari Jumat (17/6/2016) kemarin tanaman singkongku (status : tanaman pendukung) menghasilkan uang 1.1 juta setelah 7 bulan tanam. Gak banyak, tapi lumayan untuk THR. He he.. 


Comparing


Taruhlan penghasilan 1 juta per 6 bulan masa tanam singkong. Artinya 2 juta per tahun. Maka ini sama dengan hasil bunga deposito bank dengan modal sebesar 40 juta selama setahun. 

Padahal status tanaman singkong ini masih "tanaman pendukung". Namun bagiku, ini udah gila !!

Bayangkan jika lahan 1000 meter itu full kutanami singkong semua. Bukankan udah jauh sekali mengalahkan bunga deposito bank senilai ratusan juta? Silahkan ikut gila, he he..



 Deposito Bank Vs Menanam Singkong
Foto singkongku masih kecil (full di lahan 1300 meter)

Apa baru kali ini menanam singkong? 
Enggak, tapi udah beberapa tahun belakangan, dan di beberapa lokasi. Itulah kenapa aku berani membandingkan deposito bank VS menanam singkong.

Bahkan udah kuputuskan, masa tanam selanjutnya, bakalan kutambah lagi kuantitas tanaman singkong di kebunku.

Kenapa Tanaman Singkong Tidak Dijadikan Tanaman Utama?

Jawabannya simpel : Nanti petani bisa kehilangan pekerjaan. Tanaman singkong terlalu membosankan, karena gak ada tantangan, gak butuh perawatan.

"Masak sih cuma itu?"

Jadi gini, petani biasanya mempunyai beberapa lahan garapan. Dari beberapa lahan itu dia bagi menjadi dua.. lahan produktif dan lahan tak produktif. Klasifikasi ini dia bikin berdasarkan banyak faktor, misalnya faktor lokasi lahan, kualitas tanah, kontur lahan, dsb, dsb. 

Lahan produktif adalah lahan utama. Dia bakalan menggarap tanaman utama di situ. Biasanya diisi dengan tanaman cepat panen, tapi memiliki nilai jual tinggi. 

Sedangkan lahan tak produktif. Pertama.. dia bakal menanam tanaman kayu (pepohonan) sebagai investasi jangka panjang. Kedua.. biasanya dia bakalan menanam singkong untuk penghasilan tahunan (atau tanaman lain yang minim perawatan). Lalu lahan sisanya dia bakalan eksperimen dengan mencoba tanaman baru.

Iya,  petani memang bukan DIKTI atau LIPI. Tapi pada kenyataannya mereka juga suka bereksperimen. Entah karena sosialisasi LIPI yang gak jelas, atau karena petani gak mau percaya dengan hasil riset mereka. Lagipula, penelitian paling canggih pun, belum tentu cocok diaplikasikan untuk semuanya. 

Bahkan seringkali mendapat bantuan bibit tanaman dari pemerintah (dinas terkait) pun malah mereka jual lagi. Ha ha.. kita lagi tanam apa, dikasihnya apa.

 Deposito Bank Vs Menanam Singkong
Lahan non produktif disulap menjadi tambang batu belah
FYI, aku sendiri pernah dikasih bantuan bibit kayu jenitri dari pemerintah.. aku buang. Pertama, karena aku gak minta. Kedua, ngapain juga menanam kayu jenitri. 

Nih kukasih tau.. jenitri itu, perusak lahan. Pohon yang masih kecil aja, akarnya bisa menjalar radius lebih dari 10 meter. Gedean  akarnya daripada pohonnya. Akibatnya, gak ada tanaman lain yang bisa selamat dari pohon jenitri, semua wasalam.

Jika pohon lain cukup ditebang lalu mati seakar-akarnya. Jenitri enggak, melainkan harus dibakar atau potong juga satu per satu akarnya. Lebih menjengkelkan lagi, akar pohon jenitri ini juga keras bukan main, pokoknya susah dimatiin. Udah gitu, pohon ini lama panen, bisa puluhan tahun. 

Intinya, pohon ini paling cocok hidup di hutan.

Ane curiga, proyek ini adalah hasil kerjasama oknum pemerintah dengan oknum penjual bibit jenitri yang hampir bangkrut. Bibit gak laku jual kemudian ditembusin oknum pemerintah untuk dijadiin proyek. Karena ternyata gak hanya aku yang dikasih “bantuan” bibit sampah itu, tapi juga buanyaaak banget petani lain

Logikanya simpel.. “Daripada ngasih bantuan 100 bibit jenitri, mending ngasih 10 bibit pete (petai) or 5 bibit durian (duren) .”

Kembali ke Singkong

Sebenarnya masih banyak tanaman pendukung lain yang bisa ditanam besamaan singkong, misalnya tanaman jagung or kacang-kacangan. Jagung bisa dipanen 3 - 4 bulan. Kacang-kacangan bisa dipanen tiap bulan. Lumayan bisa dapet tambahan penghasilan lagi.


Sisa-sisa panen jagung di kebunku
 Deposito Bank Vs Menanam Singkong
Sayur juga bisa dijadikan tambahan, tanam aja di pojokan..

Bunga Deposito VS Menanam Singkong
Sebagai seorang muslim yang berusaha taat agama, aku gak berminat (lagi) membuka rekening deposito. Tapi sebagai manusia mata duitan sejati, kadang suka iri melihat orang lain bisa gajian tiap bulan dari bunga deposito ini. 

Maka untuk mensiasati hal itu, aku pilih alternatif pengganti deposito, yaitu menanam singkong. Hasil memang relatif, tapi yang jelas.. di jamin halal.

Mau hasil yang lebih banyak? Tinggal nambah stasiun, tambahin kuantiti tanaman maupun lokasi tanam. Mau panen tiap bulan? Tinggal atur masa tanam. Gak percaya? Silahkan hitung sendiri dan buktikan hasilnya. Banyak cara halal, ngapain pake yang haram.


Ilustrasi

Daripada duit ratusan juta dipakai untuk membuka rekening deposito, mendingan dipakai untuk membeli lahan, lalu menanam singkong. He he..

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending