Monday, May 30, 2016

Dilema Menjadi Blogger

with 0 Comment
Di luar negeri, blogger udah menjadi profesi yang dihargai. Di Indonesia, masih sekedar dianggap hobi. Banyak blogger sukses di Indonesia, namun jika dibanding dengan penduduk Indonesia yang over populasi, profesi ini masih minim persentasi. Mereka para blogger profesional, hanya menjadi superstar dalam dunia blogging. Diluar itu, pekerjaan mereka dianggap gak berarti.

Memang semua orang bisa menjadi blogger. Sebagian besar karena menulis adalah hobi. Sebagian lagi karena ingin berbagi informasi. Menciptakan prestasi maupun sensasi, atau hanya sekedar keinginan menghibur melalui blog komedi. Sedangkan sisanya, hanya copas sana sini.
 
Dilema Menjadi Blogger

Di Indonesia, yang dimaksud profesi adalah PNS dan Karyawan. Petani dan Nelayan, mereka hanya dijadikan bahan tertawaan. Buruh, mereka dianggap kaum rendahan. Sedangkan wiraswasta, masih dipandang miring, gak punya masa depan. Bahkan seringkali diantara mereka malah dianggap pengangguran. Padahal semua orang tau bahwa pengusaha sukses juga berawal dari usaha kecil-kecilan.

Memang banyak orang gak punya kerjaan yang mengaku-ngaku mempunyai bisnis ini dan itu, padahal serabutan. Mungkin mereka sedikit berbohong, tapi itu hanya untuk menjaga harga diri dan kehormatan dari hinaan kalian.

Di samping semua itu, banyak juga wirausahawan yang emang berjuang mati-matian. Seringkali bisnis baru mulai jalan, kalian yang mengaku kawan malah justru hobinya minta gratisan. Kawan dan lawan menjadi lebih sulit dibedakan.

Wirausaha, mempunyai bisnis barang dan jasa. Mereka punya produk yang nyata. Banyak godaan maupun rintangannya. Itupun masih dihina. Lalu bagaimana dengan blogger yang  hanya punya bisnis di dunia maya. Pasti semakin banyak mulut besar yang dihadapinya.

Skip.. skip.. skip.. Lalu Tamat. Daripada semakin ngelantur. 

BTW, keren kan puisinya.. he he.. huek..

Sunday, May 29, 2016

Cara Mengelola Puluhan Channel Youtube

with 2 comments
Udah kuhitung. Semua ada 27 channel youtube. Masing-masing punya topik yang berbeda, email berbeda dan akun adsense (hosted) yang berbeda-beda pula. Gimana cara mengelola 27 channel youtube, akupun masih bingung. Tapi rencananya mau kuapdet minimal 2 video per channel setiap bulannya. Jadi kurang lebih, aku kudu bikin 2 video tiap hari.

Mengelola 27 Channel Youtube
Salah satu channelku
Saat ini statusnya masih acak-acakan. Ada satu channel yang sejak dibikin (sampai sekarang) baru upload satu video. Dulu sih tujuannya cuma nambah koleksi akun adsense hosted aja. 

Sementara channel yang terbanyak baru berisi 90 video. Peminatnya cukup rame, jadi rajin update. Rata-rata udah ribuan viewer per videonya, ada beberapa video yang udah puluhan ribu viewer. Lumayan lah earningnya..

Nama profil di dalam akun adsense nya pun hampir semua imajinatif, alias ngarang. Besok gampang diganti satu per satu kalau udah hampir dikirimin PIN oleh google. Semoga semuanya selamat sampai PO (Pay-Out alias gajian). He he..

Satu-satunya channel youtube personal : Thomas Admanda

I know.. foto gak nyambung
Udah kuputuskan, mulai sekarang bakalan rajin bikin video, biar gak ada lagi channel yang terlantar. Kasian kalau tenggelem, dikiranya anak tiri. Soalnya kalau dipikir-pikir, prospeknya bagus juga jadi youtuber. Gajinya gede, kerjanya gak pake keringet (cuma pake otak.. dan kamera.. dan software editing video.. dan leptop.. dan kadang lighting.. kadang green screen.. dan tetek bengek.. banyak juga kalau ditulis semua.. ha ha..). 

Tapi yang jelas, jangan money oriented dulu, yang penting bikin karya. Niatnya berbagi, soal rejeki bisa mengikuti.

Katanya, kerjaan apapun, jika di kepala cuma mikirin duit mulu ntar gampang  stres, gampang putus asa. Termasuk main youtube. Jika orientasinya hanya duit, ntar kalau channelnya gak dapat viewer, jadi down, lalu ngambek, trus nyerah, kemudian bunuh diri.

Quote malam ini
"Kerja jangan untuk nyari uang, tapi nyari rejeki. Itu!"

Sunday, May 22, 2016

Senjata Udah Siap, Saatnya Berperang !!

with 0 Comment
Katanya, dunia adalah arena peperangan. Dan hidup adalah perjuangan. Masing-masing orang berjuang untuk memenangkan peperangannya sendiri. 

merampok  Google Adsense
I'm going to hug you.. on your neck.. with a big knife

Keren kan openingnya.. He he.. Huek..

Apalah arti kemenangan jika tanpa tujuan. Namun agar tujuan itu bisa tercapai, harus punya rencana yang matang. Harus punya strategi tempur agar serangan bisa terukur, terarah dan teratur. Ngemeng karo tembok.

Kali ini aku punya misi yaitu merampok Google, targetnya adalah Google Adsense. Misinya adalah mendapatkan Dollar sebanyak-banyaknya. Ha ha..

Sebenarnya caranya mudah, cukup dengan berkomitmen untuk mengelola website (blog) secara serius. Sayangnya, susah sekali untuk menjaga konsistensi. Walaupun udah dibikin jadwal, target waktu, skema, diagram, apapun istilahnya itu, dst, dst, tetep aja susah. Yang penting usahaaaaaa..

Tapi jangan dikira untuk menjadi blogger profesional hanya dengan nulis-publish.. nulis-publish. Gak akan bisa dapat duit kalau cuma gitu, itu hanya level blogger paling basic (gayanya..). Dibutuhkan banyak senjata agar bisa menaklukkan Google. Dan masing-masing senjata itu butuh kesabaran dan skill tingkat dewa agar bisa memakainya.

Apa artinya perang, jika ternyata lawan punya benteng beton yang tinggi, sedangkan kita hanya bersenjata bambu runcing dan anak panah. Nope, kita harus punya Tank, Peluncur Roket, Rudal, Granat, Laser, Pesawat Drone, Nuklir kalau perlu. Intinya, untuk menjadi blogger profesional, benar-benar dibutuhkan keahlian tingkat tinggi agar tidak kalah menanggung malu.

Saat melatih skill tempurku (wuih..), bahkan aku sempat kehilangan akun Google Adsense Non Hosted tiga kali. Sayang sih, tapi gak apa-apa, segala hal butuh pengorbanan.

Mengenai keahlian menulis, keahlian dalam hal SEO, dll, dll, itu urusan belakangan. Ternyata, berdasarkan pengalaman jutaan tahunku malang melintang di dunia blogging, yang paling penting adalah keahlian untuk menjaga akun Goggle Adsense agar tetap aman. Biar gak mati di tengah-tengah medan perang.

Cukup basa-basinya, gak nyambung lagipula. 


Cara meningkatkan visitor blog
RCTI oke..
Ngomong-ngomong soal Google Adsense, saat ini aku masih punya 8 akun Google Adsense. Ada puluhan blog (dan puluhan Channel Youtube) yang harus kuurus. Tepatnya ada 5 blog TLD (Top Level Domain), sisanya blog dummy (blog cepot - blog gratisan) untuk membangun jaringan. Semuanya anonim (karakter fantasi) dan mempunyai niche yang berbeda-beda. Maklum, bukan tipe orang yang gila popularitas, justru malah takut terkenal, makanya semua admin kubikin anonim (atau nama panggung?). Padahal tujuannya biar bisa bebas berekspresi aja. Ha ha..

Sebagiannya adalah blog luar (berbahasa Inggris), Sebagian lagi mixed blog (indo-luar), dan paling banyak adalah blog indo (berbahasa Indonesia). Tapi yang paling gencar kuurus paling hanya 10 blog (5 blog TLD, 5 blog cepot).

Di luar semua itu, blog ini (admanda.com) adalah satu-satunya official personal blog (pakai nama asli pula). Paling jarang kuurus, padahal TLD, kasian banget. Soalnya bingung juga mau posting apa. Mana ada orang yang mau baca diary orang lain. Ha ha.. Setiap ada ide (yang menurutku) bagus pasti kutulis di blog lain, blog ini khusus jurnal kehidupan aja.

tutorial-blogger-adsense
Seniman gagal

Did you know, hampir semua orang besar punya jurnal kehidupan. Sejak jaman dulu, dari penjelajah, petualang, ilmuwan, dll, semua punya jurnal kehidupan. Sebagian ditulis sendiri, sebagian lagi memakai co-writer. Marcopolo misalnya, dia bikin jurnal agar orang-orang generasi sesudahnya tau jalur-jalur pelayaran. Raja-raja bahkan menulis di atas batu bikin prasasti untuk kebanggaan anak cucunya. Bahkan Nabi pun punya jurnal kehidupan (hadist) yang awalnya ditulis para Sahabat sebagai co-writer Nabi. Dan Masih banyak lagi contohnya.

Empu Gandring pembuat keris, kenapa dia dikenal sampai sekarang. Padahal banyak Empu-empu lain yang mungkin skillnya lebih hebat dibanding Empu Gandring. Jawabannya karena Empu Gandring menulis jurnal kehidupan (kitab).

Para penemu menulis jurnal agar karyanya abadi, bisa juga untuk evaluasi agar karyanya bisa lebih dipelajari dan kesalahannya bisa disempurnakan generasi selanjutnya. Intinya, menulis itu penting. Jika gak bisa bikin history, minimal bisa bikin memory. Kan bisa untuk kenangan, dibaca-baca lagi besok kalau udah pensiun. Ha ha..

Yang penting jangan menulis hal-hal cengeng. Gak ada Raja-raja Jawa yang membuat prasasti isinya hal-hal cengeng. Tulislah hal-hal yang bagus. Tapi kalau mau bikin blog yang isinya diluar adat, bikinlah blog anonim, kek saya. Ha ha.. Bahkan saya punya blog khusus yang isinya cuma nggrundel dan ngedumel. You know, banyak hal bodoh di dunia ini yang perlu diluruskan (gayanya..). Ya Walaupun keluar dari koridor, asal gak melanggar hukum, tujuannya kan cuma berbagi ide dan pemikiran.

Enak jaman sekarang, bisa nulis di blog, gak kebayang susahnya nulis di batu. Kalau aku nulis di blog tujuannya jelas, selain sharing ide dan pengalamanku yang gak penting, juga dalam rangka merampok Google. Ha ha..

Saturday, May 21, 2016

Cara Menyemai Cabai Rawit Menggunakan Kotak Persemaian Portable

with 0 Comment
Cara Menyemai Cabai Rawit Menggunakan Kotak Persemaian Portable
Box semai bikinan si Anwar

Ada banyak cara menyemai cabe rawit. Salah satunya menggunakan kotak persemaian seperti pada foto di atas. Kelebihan dari cara semai seperti ini adalah kotak ini portable, alias bisa dipindah-pindah. Mudah dibikin sendiri dan bisa tahan lebih dari tiga tahun, cukup awet.

Selain mudah digunakan, kotak persemaian cabai portable ini juga hemat lokasi (box ukuran 0.5 m bisa muat entah berapa ribu bibit) dan juga lebih efisien dalam hal pemupukan awal (lebih irit). Mudah dalam perawatan dan aplikasi, yaitu aplikasi saat bibit cabe sudah siap tanam ke lahan terbuka. Bibit tidak perlu dicabut, cukup dengan mengiris tanah menggunakan pisau, seperti mengiris agar-agar di dalam nampan plastik.

Kita tahu bahwa ketika menyemai cabai di bedeng persemaian, maka bibit cabai harus dicabut saat dipindah ke lahan terbuka. Hal ini beresiko merusak akar bibit cabai itu sendiri, juga bisa mengakibatkan layu jika tidak langsung ditanam. Tapi dengan kotak portable ini, kita bisa menanam bibit cabai sekaligus tanahnya. Jadi selain tidak akan merusak akar, bibit cabai juga akan tetap segar, karena pasokan hara dari tanah tidak terputus.

Kelemahan lain saat pemindahan bibit ke lahan terbuka dengan sistem bedeng yaitu, petani memerlukan wadah untuk mengumpulkan bibit (bisa ember, bisa box seperti ini). Gak mungkin petani mau repot mondar mandir memindahkan bibit satu per satu (atau dalam jumlah minimum segenggam tangan). Pasti dia memerlukan wadah tampungan agar bisa membawa bibit cabai ke lokasi tanam dalam jumlah lebih besar. Beda dengan kotak portable ini, bawa aja sekalian kotaknya ke lokasi tanam, gak perlu dua kali kerja.

Satu kelemahan lagi persemaian sistem bedeng. Seperti terlihat pada artikel ini : Persemaian Bibit Cabai Rawit di Kebunku, persemaian sistem bedeng memerlukan top cover (penutup atas - mini green house) untuk melindungi bibit dari paparan cuaca (panas dan hujan), dan juga untuk menjaga suhu ruang agar tetap konstan. Bisa menggunakan plastik, 1 rol harga ratusan ribu (tergantung ketebalan), bisa juga menggunakan paranet, 1 rol harga ratusan ribu - jutaan (tergantung kerapatan jaring - persentase penyerapan sinar matahari). Artinya, top cover = butuh dana lagi. Tapi dengan kotak portable ini, kita bisa meminimalisir hal itu, karena bisa dipindah kemanapun. Cari tempat teduh, bisa samping kabin (gubuk), bisa muter di bawah pohon rindang, dsb, dsb.

Pernah lihat Green House Garden yang udah profesional? Kenyataannya, gak ada satupun green house yang kulihat membuat persemaian (tanaman apapun) menggunakan sistem bedeng. Semua green house memakai box portable seperti ini, bisa jadi karena memang lebih efektif dan efisien, siapa tau.

Wednesday, May 18, 2016

Perda Baru : Ayam Wajib Dikandang - atau Hilang

with 0 Comment
Ada Peraturan baru di kampungku (Wonosobo), barang siapa memelihara ayam, wajib dikandang. Jika ada ayam nekad main-main di jalanan, maka dianggap ayam liar. Pemiliknya siap-siap kehilangan binatang kesayangan. Siapa yang berhasil menangkap ayam liar, dia adalah pemilik baru dan ayam itu dianggap ayam temuan. 

Bagi pemilik baru yang tidak suka daging ayam, boleh menjualnya ke pasar (atau kemanapun). Bagi pemilik baru yang gak suka daging ayam dan tidak mengetahui dunia jual-beli ayam (trading chicken), boleh menyerahkan ayam temuan itu kepada pemilik sebelumnya dan berhak meminta uang tebusan. Pemilik lama wajib membayar tebusan jika ingin sang ayam kembali ke pelukannya.

Begitu kira-kira isinya. Peraturan ini berlaku untuk semua orang, tak pandang bulu. Sosialisasi dilakukan sejak 3 bulan lalu dan sudah ketok palu. Semua orang pemilik ternak (ayam - entok - kalkun, dll) sibuk membuat kandang.

Sedangkan aku, gak punya ayam, jadi aman. Tapi ortuku punya, dan pada masa-masa sosialisasi kemarin, ayam jago milik ortuku ada satu yang hilang. Peraturan belum berlaku tapi udah kehilangan ayam. Dikabari hal itu, akupun dendam. Sudah kuputuskan, besok kalau pulkam, aku mau berburu ayam liar. Yang penting dendamku sportif kan?

Bulan lalu aku pulang ke Wonosobo. Tugas pertama yang diberikan untukku adalah "Bikin kandang ayam, sebelum ayam lainnya ikut ilang".

Masalahnya, ketika aku di Wonosobo, biasanya kalau siang aku cuma sibuk main-main ke kolam atau ke kebunku, banyak kerjaan (baca : mainan) disana. Dan malam harinya pasti nongkrong-nongkrong bareng kawan-kawanku. Pulang ke rumah udah jam 1 malam, setiap harinya gitu, rutin. Kenapa sampai pulang dini hari? Daripada di rumah sendiri kesepian. Ha ha.. Sampai di rumah pun gak langsung tidur, pasti internetan dulu. Entah ngeblog, main youtube, dll. Sisanya paling nonton film di laptop.

Walaupun super (sok) sibuk begitu, selalu kuusahakan untuk sering pulang ke rumah ortuku meskipun 2 atau 3 hari sekali. Tujuannya pun paling nyari makanan bergizi untuk perutku, ha ha..

Kadang malas juga pulang ke rumah ortu, suka dapat kuliah dadakan, seringkali dapat kuis malah. Pertanyaan kuisnya : kapan nikah, kapan punya anak, dan kapan-kapan lainnya. Seperti waktu jaman kuliah : kapan sidang, kapan lulus, kapan mau naik haji dan kapan-kapan lainnya. Kuisnya susah, aku selalu dapat nilai buruk. 

Rumahku dan rumah ortuku masih satu RW, jadi kalau jarang pulang ke rumah ortu, takutnya dianggap durhaka. Percayalah, perkampungan di Wonosobo dan perkampungan di perumahan padat penduduk di kota besar itu beda jauh.

Kembali ke soal ayam. Aku punya misi, yaitu bikin kandang ayam secepatnya dalam rangka berbakti kepada ortu. Berat untuk memulai, tapi begitu action, lama-lama ternyata menyenangkan. Walaupun hanya project kecil-kecilan, dengan alat dan bahan seadanya, tapi saat kandang udah jadi, ada kepuasan tersendiri.

Perda Baru : Ayam Harus Dikandang - atau Hilang
Hasil capture  video

Kandang ini sengaja kubikin sehari jadi (secara umum sih, sisanya cuma tambahan-tambahan kulanjutin besoknya), soalnya daripada ayam yang lain keburu ilang lagi. Aku juga bikin video detik-detik saat aku bikin kandang ayam ini. He he.. Kubikin semacam video tutorial, step by step perjuanganku membangun kandang ayam (chicken house - chicken coop). Durasi cuma 4 menitan, emang kuedit-edit biar padat berisi. Cekidot videonya :
 
Kalau video di atas gak bisa nyala, klik ini aja (langsung dari channel youtube ku) :  How To - Build Chicken House (Coop) with Limited Hand Tool & Recycled Wood

Saat kutulis artikel ini, peraturan ayam wajib dikandang sudah diberlakukan. Mendadak gak sabar pulang ke Wonosobo dan membalaskan dendam ayam jago ortuku yang hilang.

Semarang, 18 Mei 2016 
ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending