Saturday, October 10, 2015

Riwayat Horor Dibalik Motor Suzuki Satria Hiu Dua Tak

with 0 Comment

Suzuki Satria Hiu 2 Tak
Sadya tepar
Date taken:
19 March 2009
Location:
Teluk Awur, Jepara

Motor Suzuki Satria Hiu ini dibeliin orang tuaku saat aku masih SMA kelas dua dan bertahan sampai aku lulus kuliah. Awet, enak dipake. Dan yang paling menarik, sangat irit bahan bakar. Banyak mitos beredar bahwa motor dua tak adalah motor yang boros bensin maupun oli samping. Nyatanya, itu gak berlaku untuk motor ini. 

Banyak kawanku gak percaya. Sampai beberapa kali aku test keluar kota, semacam touring dengan kawan-kawanku, mereka mengendarai berbagai macam merk motor. Kuras tank lalu diisi dengan kuantitas bahan bakar yang sama. Buktinya mereka mampir pom bensin lebih duluan dibanding aku. Motor ini memang bukan yang terakhir mampir Pom, tapi masih belakangan, lupa urutan pastinya. Entah apa sebabnya. Bisa jadi hal ini tidak berlaku secara umum untuk motor dua tak, tapi hanya "kebetulan" terjadi khusus motorku.

Mengenai oli samping, isi ulang 2 bulan sekali. Kadang-kadang sebulan sekali, tapi sangat jarang. Paling sering 2 bulan sekali. Super irit. FYI, Saat masih kuliah, motor ini kupakai pulang-pergi Semarang-Jepara tiap minggu, dan Semarang-Wonosobo tiap bulan. Itulah kenapa Motor Suzuki Satria Hiu ini bertahan sampai bertahun-tahun ditanganku. Sempat beralih ke motor Honda Tiger (di posting ini : Modifikasi Tiger Street Fighter), tapi hanya beberapa waktu, ujungnya balik lagi ke motor Hiu ini.

Konon motor Hiu ini hanya sekali produksi, jadi limited edition. Karena abis itu Suzuki sukses menerbitkan Satria F, Satria FU, dst. Satria Hiu ini jadi gak dapat perhatian.

Keanehan Motor Suzuki Satria Hiu dua Tak
 
Naik motor ini gak boleh pelan. Berasa kudu ngebut, karena emang kuenceng larinya. Jika ada yang nyalip kudu balas disalip. Kalau gak gitu berasa gagal punya motor 2 tak. Waktu SMA pernah dimodif sedikit, tapi gak ada dokumentasi. Dan sekarang udah gak tau gimana nasib motor ini. Terakhir ditebus orang Banjarnegara.


Sedikit cerita mengenai motor Satria Hiu..

Walaupun dulu motor ini dibeliin ortu, namun aku mendapatkannya gak secara cuma-cuma. Dimana aku harus memeras keringat membantu bisnis sampingan ortuku. Sejak aku SMP, ortuku punya bisnis sampingan ternak sapi. Ada beberapa ekor (8 atau berapa?) sapi semental (sapi pedaging yang gede-gede dan mahal itu). Sebenarnya aku hanya dikasih seekor anak sapi yang paling kecil untuk diurus. Ngasih makan, mandiin, bersihin kandang, dsb dsb. Ngenes banget nasibku. He he..


Tapi mungkin itu trik ortu, dimana-mana yang namanya ortu lebih berpengalaman dibanding anaknya. Yang awalnya ngurusin satu sapi, ujungnya ngurusin semuanya. Masak iya ada sapi lapar semua tapi yang dikasih makan hanya spesial satu sapi. Apalagi kandangnya jadi satu. Yang satu dimandiin yang lain iri. Yang satu kandangnya bersih yang lain berisik.

Tepatnya kelas dua SMP aku dikasih tanggung jawab seekor anak sapi itu. Rencananya kalau sapi ini udah gede, hasil penjualan untuk beliin aku motor. Ada orang yang dibayar ortuku bertugas nyari rumput untuk semua sapi, sesekali bersihin kandang juga. Tapi urusan yang lain, itu bagianku. Yang jadi persoalan, sapi semental ini gak hanya makan rumput, tetapi juga ada pakan tambahan yaitu ampas tahu (sisa-sisa olahan kedelai). Urusan ampas tahu ini juga menjadi tanggung jawabku.

Ini yang paling kuingat, setiap hari abis maghrib, aku harus pergi ke tempat penggilingan kedelai (di kampung sebelah - 3 km) untuk mengambil sekarung besar ampas tahu. Setiap hari, apapun yang terjadi. Gak peduli aku lagi main bareng kawan-kawanku, nongkrong di pinggir jalan, di alun-alun, dimanapun, aku harus pulang dulu dan meluncur ke tempat penggilingan kedelai menggunakan motor kakakku. Dan selanjutnya aku harus nyuci motor kakakku itu (karena kotor abis ngangkut ampas tahu), daripada dimarahin. Lalu baru ngasih menu spesial ampas tahu itu kepada para sapi tersayang. Dan semua kawanku pasti ketawa mendengar alasanku pulang. Ha ha..

Para sapi di kandang silih berganti. Jual yang besar, beli yang kecil. Saat anak sapiku udah gede dan dijual. Ternyata aku belum bisa mendapatkan motor impianku, entah apa sebabnya. Yang jelas, ortu pasti punya alasan yang bagus kenapa aku belum boleh mempunyai sepeda motor sendiri. Aku hanya diperbolehkan mengendarai motor dalam rangka mengambil ampas tahu sehari-hari dan jalan-jalan sesekali menggunakan motor kakakku itu.

Walaupun sapiku udah dijual, tapi tugasku ngurusin para sapi masih tetep berlanjut setiap harinya. Sering aku melakukan semacam unjuk rasa kepada ortu karena kecewa gak jadi dibeliin motor. Namun berlalu gitu aja. Namanya juga masih ABG labil, belum bisa menerima kenyataan. Ha ha..


Sampai aku kelas dua SMA, akhirnya aku baru dibeliin motor Satria Hiu ini. Waktu itu agak nyesel sebenarnya, karena sebulan kemudian Satria F keluar.

0 comments:

Post a Comment

ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending