Wednesday, January 16, 2019

Seharian Ujan Deres Full Mager di Rumah

with 0 Comment
Ngapain aja di rumah?

Nulis blog dapat 17 artikel, nulis di forum dapat 1 artikel, sisanya nulis komen-komen nggak jelas di forum satunya lagi.

Trus ngapain lagi?

Daftar Kaskus Creator diterima, daftar UC News ditolak (besok coba daftar lagi, kalau inget).

Apa itu?

Semacam mendaftar menjadi kontributor forum tapi dibayar. Jadi lain kali nulis-nulis artikel di sana juga bisa dapat duit. Selayaknya Google AdSense seperti di blog ini.

So.. untuk merayakan semua itu, akhirnya beli KFC abal-abal di pinggir jalan.


KFC palsu, tapi asli fried chikcen. Ini adalah porsi untuk sendiri. 6 potong harus habis, hehe.. paha 2 potong, sayap 2 potong, dada 2 potong.

Pamer?

Bodo amat, blog blog ku, sak karep karepku. Nek ora trimo, gari gawe blog dewe..

Yada yada.. oke apa lagi?

Oh tadi sempat buka FB. Ternyata ada salah satu Admin Grup Facebook (yang saya ikuti), lagi diperkarakan ke polisi. Grup Info Cegatan Jogja, admin namanya Yanto Sumantri. 

Sebenarnya dia orang baik, udah banyak menolong orang. Apalagi juga banyak orang yang mendapat manfaat dari grup yang dia dirikan. Banyak anggota grup yang bener-bener saling bantu membantu. Dari sekedar menolong orang apes tak dikenal yang mengalami ban bocor di tengah malam sepi, sampai kasus-kasus penipuan.

Pengen rasanya ikut sedih karena admin itu dituntut pencemaran nama baik oleh sekumpulan wartawan dan tim advokatnya, tapi kok nggak bisa (for some reasons).

Gimana ceritanya?

Jadi ada berita di MNC (dan atau inews) meliput demo di Jogja. Demo itu digagas grup FB bertema Jogja anti klitih (atau anti teror). Ternyata muncul di berita dengan headline Demo Pemilu Damai. Di mana seharusnya demo itu sama sekali nggak ada kaitannya sama politik.

Yowes sang Admin ngepost sesuatu di akun pribadinya mengomentari (disertai capture) tentang berita itu. Kurang lebih gini "Sekelas MNC lintas inews kok ngasih berita hoax. Judul beritanya hoax, isi beritanya nyaris hoax. Apa ada kontak yang bisa saya hubungi?".

Tak berapa lama, sang admin ketemuan sama pihak MNC untuk meluruskan  info soal kegiatan demo itu. Oke oke aja. Pihak MNC minta maaf. 

Awalnya dikira masalah kelar. Pulang ke rumah masing-masing, tidur nyenyak, mimpi indah.

Ladalah ternyata..

Ada pimpinan (atau senior) jurnalis (entah MNC, entah Radar) yang nggak terima. Namanya Kusno Utomo. Dia  pun mengumpulkan tim advokat dan komunitas wartawan Jogja untuk menindak lanjuti postingan Yanto Sumantri di social media (tentang hoax) itu secara hukum.

Dianggap udah menciderai kerja jurnalis, pencemaran nama baik wartawan, menodai karya jurnalistik, dst. Yowes akhirnya sang admin cuma bisa pasrah.

Kan awalnya damai, udah minta maaf juga, kok malah dituntut?

Well.. cuma ngasal asumsi pribadi, mungkin proses damai itu cuma dihadiri kroco-kroco MNC tanpa diketahui level atas. Memang udah minta maaf, tapi bisa jadi justru itu yang bikin pimpinan naik pitam. "Kok malah minta maaf?" mungkin gitu pertanyaannya.

Kasihan ya Mas Admin?

Sebagai orang normal, harusnya ikut sedih jika ada orang baik lagi dapet masalah. Sayangnya, untuk kasus ini ane mendadak abnormal.

Kenapa tanyamu?

Beberapa waktu lalu, saya posting sesuatu di grup.


Lagi rame-ramenya, ada ribuan notifikasi (literally), tiba-tiba dihapus admin (atau moderator) grup. Fak! Bahkan baru sedikit komen yang kubaca, udah dibumihanguskan tanpa warning.

Bukan cuma postingan itu, tapi juga semua komen dan postinganku sebelumnya juga ilang.

Jadi semacam.. jejak-jejakku di sana dihapus semua. Tanpa peringatan, tanpa basa-basi. Otoriter.

Sekarang sih udah normal, udah bisa komen lagi. Tapi udah nggak minat aktif di sana (di grup Info Cegatan Jogja). Cuih...

Soalnya percumah jugak, mirip jaman orde baru, jaman pak Harto di mana kebebasan berpendapat ditekan habis-habisan. 

Jadi kalau diminta ikut sedih, ya maap.. bener-bener nggak bisa.

Tuesday, January 1, 2019

This is Funny!

with 0 Comment
But also sad at once.

Overproud 

Terlalu bangga sama sesuatu yang absurd.

Misal ada bule ngomong bahasa Indonesia, pasti banyak orang Indonesia mendadak bangga nggak jelas. Langsung pada heboh, seperti kawanan monyet dilemparin pisang. Tak jarang langsung viral di social media, bahkan kadang sampai trending di semua platform. 

Kalau ada berita dari luar negeri menyebut tentang Indonesia atau ada seleb luar negeri yang mention Indonesia, langsung heboh juga. Gempar dimana-mana. Seolah ini adalah pencapaian Bangsa Indonesia yang sungguh luar biasa. Go Internasional.. dikenal manca negara.

Selugu itukah orang Indonesia?

Masih belum cukup. Misal ada orang populer (atau orang yang berhasil memetik kesuksesan) di luar negeri dan ternyata orang ini mempunyai garis keturunan orang Indonesia (baca : mempunyai leluhur orang Indonesia). Lagi-lagi heboh. Seolah Indonesia adalah ras tertinggi di seluruh dunia. 

Kebanggaan semu. Apakah orang Indonesia lainnya ikut andil membantu kesuksesan orang itu? Tentu tidak. Yang jelas, untuk kasus ini bukan hanya dijadiin headline berita nasional, tapi seringkali sampai masuk dijadikan bintang tamu maupun narasumber acara talk show di TV Nasional.

Kontradiktif

Lain halnya kalau ada orang Indonesia ngomong bahasa Inggris, salah dikit aja langsung dibully, diketawain, direndahin. Padahal (bisa jadi) dirinya sendiri nggak jago Bahasa Inggris. 

Ya kali kalau Bahasa Indonesia adalah Bahasa Internasional. Ya kan? Masih maklum. Lah ini...

Contoh lain, ada orang Indonesia sedang berbicara (atau menulis) menggunakan bahasa Arab. Dimana seharusnya ini lumrah dikarenakan 85% penduduk Indonesia adalah Muslim. Ya kan? Harusnya.

Namun apa responnya? 

"Ini Indonesia, Bung! Bukan Arab!"

Dasar Islamophobic. Ya kali nanti ada orang nyanyi bahasa Inggris aksen British, trus coba bilang "Ini Indonesia, Bung! Bukan London!".

Entahlah.. kenapa seringkali ada orang Indonesia yang ngomong bahasa Inggris itu suka dianggap sok-sokan. Sok pinter, sok jago, keminggris, pamer, dsb. Padahal (sekali lagi) orang yang nge-judge itu, kadang bahasa Inggrisnya sendiri juga masih terbata-bata. 

Mungkin ada semacam perasaan unggul, jika ada orang lain melakukan kesalahan, dia merasa mempunyai kasta lebih tinggi karena dia pikir udah menang poin. Merasa diri lebih baik.



Jadi seperti tak sadar diri aja sih jatuhnya. Harusnya ketika sadar ada orang lain salah dan butuh perbaikan, ya justru hal semacam itu menjadi sarana ybs memberanikan diri untuk mencontohkan praktik berbahasa Inggris yang baik dan benar. 

But hell.. yang terjadi justru sebaliknya. Orang salah wajib dipermalukan dulu. Urusan bantu meralat, ngasih tau salah dan benarnya itu nomor 17 sekian. 

Yang paling penting adalah membikin trauma dulu, biar orang yang salah itu kapok dan malu, trus akhirnya meninggalkan kebiasaan kemiggrisnya. 

Ingat waktu Pak Jusuf Kalla setelah memberi pidato di Asian Games? Beliau pidato menggunakan bahasa inggris dengan aksen indonesia yang kental. Yaudah wasalam, abis itu banyak netizen yang bully, bahkan sampai membelah portal berita nasional. Gimana perasaan Pak JK waktu itu, wallahu a'lam.

Nah, yang bikin penasaran disini, apakah netizen yang nge-bully itu memiliki British atau American accent, atau justru juga sama-sama memiliki Indonesian accent. Atau jangan-jangan malah nggak bisa bahasa inggris sama sekali, hanya sok-sok komen biar dikira pandai. 

Masalahnya, apa Pak JK trus jadi trauma berbicara bahasa Inggris?

Okelah lupakan soal Pak JK..

Di satu sisi, sebagian orang memang hobi mem-bully jika ada orang lain salah. 

Namun di sisi lain, ada juga sebagian orang baik hati yang memang ingin membantu. Memberikan masukan untuk perbaikan. 

Eh apa yang terjadi? Kadang malah dianggap Grammar Nazi, malah dengan arogan membalas "Hadeehh.. salah gitu aja, yang penting kamu paham maksudnya kan?".

Dikasih tau malah tersinggung. Okesip.. lain kali mending diam sajalah.

Monday, December 31, 2018

5 Negara Bangkrut Karena Utang

with 0 Comment
Argentina
Tahun 2001, negara yang kini menjadi negara bisnis ini pernah bangkrut karena tak mampu membayar utang sebesar 100 Miliar Dollar AS.

Uruguay
Negara yang kini menjadi The Great Power ini bangkrut pada tahun 2003 yang merupakan imbas dari bangkrutnya Republik Argentina. Ironis kan? Kebangkrutan suatu negara membuat negara lain ikut bangkrut.

Belize
Negara wisata ini pernah bangkrut juga tahun 2014 karena gagal membayar utang.

Dominika
Negara wisata lain di wilayah teluk Meksiko (selain Belize) ini juga pernah bangkrut pada tahun 2004, lagi-lagi karena gagal membayar utang.

Yunani
Yap.. Negara para Dewa ini pernah juga bangkrut pada tahun 2015. Bisa ditebak dong, karena apa? Yes, betul sekali. Utang. Jawaban yang tepat.

Kalau diingat beberapa tahun lalu, Yunani sering muncul dalam berita kan? Sering kerusuhan. Politik dan keamanan kacau, banyak demonstrasi, teror dan kriminalitas merajalela. Perekonomian nggak stabil, banyak orang kena PHK,  harga (barang dan jasa) otomatis juga kacau. Belum lagi soal intervensi negara asing yang (mungkin berdalih) ingin membantu, tapi pastinya hanya bertujuan mengeruk keuntungan.

Ya begitulah suasana di negara bangkrut, walaupun sebelumnya kelihatan bermewah-mewahan, pembangunan pesat, dan seterusnya. Eh berujung kerusuhan.

Dilematis utang

Utang? Apakah ini diperlukan? Atau tidak? Kenapa negara harus berutang? 

Sebuah negara biasanya berutang, karena ingin membuat proyek ambisius bagi negaranya. Mereka pikir bahwa jika proyek itu jadi, akan bisa menutup utang mereka. 

Faktanya, mereka malah terlena oleh utang dan terus menambah utang untuk proyek-proyek selanjutnya, padahal utang yang lalu juga belum terbayar.

Itulah mungkin yang disebut keserakahan manusia? Untuk apa Anda punya gedung-gedung tinggi, kereta dengan kecepatan 500 Kilometer per jam, jembatan di atas laut yang panjang, atau bendungan raksasa, jika anak cucu anda nantinya akan menanggung beban utang anda??

Jadi jika ditanya apakah negara bisa hidup tanpa utang? Jawabannya bisa. Tetapi jangan bermimpi pembangunan berjalan instant. Jangan harap ada kereta cepat, gedung tinggi atau teknologi super canggih, karena semua itu mesti diwujudkan secara perlahan jika tanpa utang..

Nah bukankah lebih baik begitu? 

Bukankah lebih baik teknologi sedikit tertinggal dibanding harus membebankan utang ke anak cucu kita? Saya yakin kok negara tanpa utang yang membangun secara perlahan, suatu hari juga tetap bisa mengejar “kenyamanan” negara-negara yang berutang.

Tidak usah takut dihina sebagai negara berkembang, negara dunia ketiga, dan omong kosong semacam itu. Toh bukankah yang paling penting adalah kebahagiaan rakyatnya? Jadi bangunlah sesuai kemampuan.

Karena ini demi generasi berikutnya, bukan hanya kita.



Utang Indonesia

Argentina menyatakan bangkrut ketika utang negara tembus 100 Miliar Dolar. Bagaimana dengan Indonesia?

Okelah itu terjadi pada tahun 2001. Tinggal konversi aja (dengan asumsi dan estimasi.. heee..) sampai ke tahun 2018 berapa, ya kan susah amat..

Anyway.. Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri Indonesia mencapai 358 Miliar Dolar AS pada akhir Juli 2018. Angka itu meningkat 4,1 persen dibanding periode sama di tahun 2017 (year on year). 

Jika dirupiahkan, utang luar negeri Indonesia itu setara 5.191 Triliun Rupiah dengan asumsi 14.500 per dolar AS.  

LIMA RIBU TRILIUN. Saya yakin kalian nggak bisa membayangkan uang 5K triliun jika dipakai untuk membeli salome. 

Nah penduduk Indonesia saat ini sekitar 265 Juta orang. Dibagi aja sendiri, berapa beban yang harus dibayar masing-masing orang jika harus patungan.

Ringan? Oke sekarang cari data berapa banyak orang Indonesia berusia produktif? Buang yang masih cabe-cabean labil (atau yang lebih buruk dari itu). Setelah itu (dari data usia produktif tadi) seleksi lagi yang termasuk golongan menengah ke atas. Ha ha.. pusing kan? Kaum menengah ke bawah mana mungkin mampu ikut patungan.

Mendingan Presiden minta bantuan Bos Djarum, Bos BCA, atau yang lainnya untuk melunasi utang negara. Oh ternyata nggak ngaruh juga. Udah kelewatan banyak utang negara ini.

But jangan salah.. ternyata...

BI menyatakan, utang Indonesia masih terkendali dan sehat.

Saya memang bukan Ekonom, but WHAT THE F"K, Broo..!! Sehat jare..

Iya kalau dari setiap tahun nilai utang negara berkurang (karena berusaha mencicil, ya kan?). Lah faktanya, dari tahun ke tahun beban utangnya justru selalu bertambah banyak. Bukan cuma bertambah karena kenaikan suku bunga, namun karena negara kita ini memang hobi sekali menambah utang setiap tahun.

Kalau konsisten terus aja gini sampai beberapa tahun ke depan, siap-siap aja negara bangkrut.

Jadi kangen Pak Habibie, beliau ini keren sekali saat menjadi Presiden RI menghadapi Krisis. Sayangnya terlalu singkat memimpin Indonesia, itupun malah ditolak pertanggung jawaban kerjanya oleh MPR cuma gara-gara Timor Timur lepas.

Anyway lagi.. saya baru tau kalau Negara pemberi Utang terbesar untuk Indonesia adalah Singapura. Sebesar 57an Miliar Dolar AS. HOW THE F"K!! Negara kecil mungil ngono..

Kesimpulan

Kemungkinan, saya baru akan ikut serta mencoblos pemilu, jika ada Calon Presiden yang menolak Utang Luar Negeri. Hehe kali aja ada. Biarin lah hidup sederhana, lagipula sejak dulu sampai sekarang juga Indonesia tetap berstatus Negara Berkembang. Nggak ada ruginya. Daripada banyak utang malah resiko bangkrut lalu status berubah menjadi Negara Miskin.

Lebih baik fokus melunasi hutang. Pembangunan bisa ditekan hanya di sektor inti. Sedangkan sektor pendukung bisa "diswastakan" dengan pengawasan, biar nggak terlalu banyak korupsi, nggak terlalu banyak proyek pemerintah yang macet di tengah jalan.

Pertanyaan yang sungguh bijak di pagi hari ini :
Apa kabar Pasar Induk Wonosobo? Udah berapa tahun terbengkalai? Siapa sih Bupatinya? Oh iya.. denger-denger Alun-alun Kota udah nggak boleh dipakai untuk jualan ya? Oke oke..

Malam Tahun Baru 2019

with 0 Comment
Oke malam tahun baru kali ini dimeriahkan oleh berita-berita pilu.

Iseng buka twitter, langsung muncul feeds dari Ketua BNPB (Badan Nasional Penangguangan Bencana), Pak Sutopo yang ane follow akunnya :

Bencana Longsor

Longsor perbukitan meluncur mengikuti lereng dan menimbun sekitar 34 rumah kampung adat di Kampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi pada 31/12/2018. Tim SAR gabungan masih menuju lokasi bencana. Evakuasi terkendala cuaca hujan, gelap dan komunikasi.

Update Korban Tsunami

Korban tsunami di Selat Sunda terus bertambah. Hingga H+9 (31/12/2018) tercatat:

- 437 orang meninggal dunia
- 14.059 orang luka-luka
- 16 orang hilang
- 33.719 orang mengungsi
- 2.752 rumah rusak
- 510 kapal dan perahu rusak
- Dll.

Diperkirakan korban masih akan bertambah.


Keluar dari Zona Nyaman

with 0 Comment
Heck.. i hate this words

Katanya langkah awal orang sukses adalah orang yang berani "keluar dari zona nyaman". 

Really?

Boleh aja mencari pengalaman baru yang lebih menantang, meninggalkan zona nyaman, biar lebih berkembang. Tapi bukan berarti harus ditinggalkan sepenuhnya. 

Bisa-bisa malah "kaget" lalu "gila", ujungnya "mengutuk diri sendiri". 

Keluar dari Zona Nyaman

Kalimat ini berbahaya. Biasanya dijadikan senjata andalan mentor-mentor bisnis, atau motivator-motivator (sok bijak) yang bicara tentang bisnis (bahkan tentang kehidupan). 

Ada satu lagi senjata lainnya yang selalu digembar-gemborkan, yaitu "Follow your passion".

Mungkin ada benarnya, tapi setiap kali saya mendengar ada orang berkata atau menulis dua kalimat ini, udah otomatis mulut ini langsung ketawa sinis. Minimal nyengir ataupun meringis.

Udah selesai ketawa sinis, langsung muncul dorongan untuk nyinyir. Untung biasanya masih kuat untuk menahan. Mending diam sajalah, daripada capek berdebat. Nggak ada gunanya. Lebih baik corat-coret di Blog, lumayan nambah artikel.


Entah udah berapa banyak orang yang "tertipu" dengan kata-kata "keluar dari zona nyaman". 

Orang udah enak punya pekerjaan tetap, misalnya. 

Job desc ringan, penghasilan bagus, malah diejek dengan kata-kata "hidup monoton, membosankan", "nggak akan maju/kaya jika hanya mengandalkan gaji pas-pasan", dan seterusnya. 

Akhirnya orang ini terprovokasi lalu keluar dari pekerjaannya, kemudian memulai bisnis. 

Dikiranya merintis bisnis itu enak. Bisa bebas waktu dan bebas uang. Nyatanya hampir semua bisnis membutuhkan trial dan eror. Nggak peduli startup maupun franchise, semua mempunyai resiko, semua butuh trial dan eror. Orang yang nggak kuat mental, nggak sabar, pasti bakal putus asa.

Kan hamsyong.. iya kalau masih bisa bangkit untuk diperbaiki, atau bahkan bisa banting setir. Lah kalau sampai menghabiskan seluruh sumber daya, atau bahkan sampai meninggalkan hutang usaha, kan tambah bahaya.

So, daripada nekad "keluar dari zona nyaman", mending "memperluas zona nyaman" itu sendiri. Nggak perlu bertindak ekstrim. Zona nyaman yang udah ada, diperluas lagi skalanya, kan lebih enak begitu.
ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending