Saturday, March 23, 2019

Politik Uang

with 0 Comment
Dasar Hukum politik uang :

Pasal 73 ayat 3 Undang Undang No. 3 tahun 1999 berbunyi:

"Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu."

Ini marmut, bukan tikus pengerat

Well.. misalnya ada satu kampung menerima politik uang dari timses, apa trus orang sekampung itu harus diancam penjara? Tua-muda, laki-perempuan.. dari seluruh RT, semuanya dipidana 3 tahun? 

Atau hanya tokoh-tokohnya aja? Semacam sesepuh atau perangkat desa yang secara simbolis menerima uang haram itu (yang harus bertanggung jawab)? 

Soalnya, di dalam satu kampung pasti ada sebagian orang yang menolak (bahkan antipati) sama politik uang itu. 

Masak iya suruh ikut tanggung jawab juga?

Ini contoh aja :

Jadi, misal ada timses ngasih dana bantuan (baca : uang haram), dan ternyata memang benar-benar cair sebelum masa pemilihan. Dan uang haram ini diberikan atas nama kampung (bukan personal). Artinya dana akan dialokasikan untuk kepentingan kampung. 

Apa semua (warga kampung) ikut tanggung jawab?

"Sekali lagi, ini di kampung, kalau ada warga nggak ikut andil, banyak hukuman sosial yang bakalan dihadapi"

Taruhlah memang sebagian besar orang menerima dengan bahagia, sedangkan sebagian kecil warga antipati. Sayangnya warga minoritas ini tak kuasa melawan mayoritas orang-orang mata duitan itu, sehingga (mau nggak mau) melakukan pembiaran. 

Cuma bisa membatin "nggak ikut-ikut deh, ya Allah saya berlepas diri dari uang haram itu.

Tapi memang (walau udah jijik duluan), namun pasti ada sebagian lagi TERPAKSA ikut mengelola dana haram itu.


Ini gimana urusannya?

Definisi Politik uang

Politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum.  (Wikipedia)

Politik uang biasanya dilakukan simpatisan, kader, tim sukses atau bahkan pengurus partai politik menjelang hari H pemilihan umum. 

Praktik politik uang bertujuan untuk menarik simpati masyarakat agar mereka memberikan suaranya untuk partai (atau calon peserta pemilu) yang bersangkutan.

Kek contoh kasus di atas :

Pada masa kampanye, ada tim sukses mendatangi suatu kampung. Bisa secara diam-diam, bahkan terang-terangan. Mereka menemui tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap vocal, diharapkan tokoh-tokoh ini bisa menggiring warganya.

Tim sukses menjanjikan donasi untuk kepentingan kampung. Kali ini bukan hanya donasi kaos partai ataupun kaos tim sepak bola, tapi donasi berupa sejumah uang yang nominalnya luar biasa (untuk ukuran kampung). 

Syaratnya cuma satu.. kampung ini memenangkan calon tertentu dari timses tersebut.

Bahkan tim sukses ini mengabarkan.. seandainya calon mereka kalah (dalam pemilihan) pun, donasi nggak bakal ditarik.

"Wah.. nothing to lose" alias bener-bener nggak ada ruginya, begitu gumam para tokoh masyarakat.

Lalu diadakan rapat dadakan, pertemuan warga. Tokoh masyarakat menyampaikan kepada warga bahwa ada timses pemilu akan memberikan bantuan dana, dst, dst dengan syarat seperti di atas.

Memang tidak semua warga hadir, mau ditaruh dimana, ya kan?

Belum lagi, pasti ada warga yang sibuk, berhalangan, atau bahkan malas datang ke pertemuan itu.

Lingkaran setan

Hampir berlaku di semua organisasi.. orang yang tidak hadir dalam rapat, maka artinya sepakat, atau menyetujui apapun hasil rapat. Ini lingkaran setan.

Begitupun contoh kasus ini, tokoh masyarakat yang memang dikaruniai kemampuan persuasif yang tinggi (baca : manipulatif), mereka berhasil mengajak warga untuk menyetujui penawaran timses. Menerima dana haram dari timses untuk kepentingan kampung (baca : kepentingan partai).

Seluruh peserta rapat akhirnya tersihir, mengamini saran tokoh masyarakat.  Sedangkan warga yang tidak hadir, wajib menyetujui keputusan laknat itu.


To be continue..

Wednesday, March 20, 2019

Manusia Pusat Alam Semesta

with 0 Comment
Namanya juga manusia, macem-macem bentuknya, macem-macem sifatnya. I know that. 

Beda lingkungan, beda pengalaman, beda pemikiran, beda bacaan, beda tontonan, beda umur, beda pendidikan, beda semuanya.. Akhirnya menghasilkan karakter manusia yang berbeda-beda. Ini yang bikin dinamis, bikin hidup meriah nggak monoton.



Tapi.. paling ngeselin kalau ketemu orang yang merasa dirinya adalah pusat alam semesta. Segalanya tentang dia, semua orang harus memperhatikannya,  melayaninya, menuruti kemauannya, memujinya, mengaguminya, bahkan wajib mendukung pendapatnya. 

Well.. mungkin dia menderita Gangguan Keprbadian Narsistik, atau ilmiahnya Narcissistic Personality Disorder (NPD). Egosentris setinggi langit. Ini susah.

Eh tapi sebenernya gampang deng, tinggal jauhin aja manusia model begini. Biar hidup lebih tenang. 

Cuma masalahnya, kadang-kadang terjebak di situasi yang nggak bisa dihindari, jadi terpaksa meladeni. Gile.. serasa waktu berjalan lama. 

Thursday, March 14, 2019

Bukalapak lagi Mabuk

with 0 Comment



Jumat pagi, 15 Maret 2019 pengen belanja di Bukalapak. Sesuai yang tertera di email masuk di atas, total biaya direkap jam 9.40 AM. Rencananya sih ntar dibayar abis Jumatan lah.

Lhakok batas pembayaran malah kurang dari sejam. 
"Hai ADMANDA,
Terima kasih atas kepercayaanmu telah berbelanja di Bukalapak.com.
 
Mohon segera lakukan pembayaran sebelum:
Jum’at, 15 Maret 2019 Pukul 10:32 WIB (1 x 0.9986111111111111 jam)"
Hehe.. lucu sekali, Bukalapak! Apa maksudnya 1 x 0.9986111111111111 jam?

Jadi saya cuma dikasih waktu berapa menit? Oke ane screenshot.


44 menit aja? 

Pak.. Bukalapak, nggak ada satupun masusia di dunia ini yang suka diburu-buru. Kecuali atlit sprinter kali ya. 

Mudah-mudahan ntar ada perpanjangan waktu. Biasanya sih gitu.

Sunday, March 10, 2019

Sh!t Happen

with 0 Comment
Semalam tadi, pergi ke Indomaret. Sebenernya udah dini hari sih. Anyway, rencananya mau beli telur ayam. 

I know, walau lebih mahal dibanding beli di warung, tapi yang penting udah melewati kualiti kontrol, ya kan?

Minimal, beli telur ayam 'nusantara' di Indomaret itu secara fisik, bersih (cangkangnya). 

Beberapa kali pengalaman beli telur ayam di warung bentuknya jorok sekali. Jadi males, gimana kalau gueh kena bakteri salmonela? Kan kacau masa depan, hehe..


Itu adalah penampakan telur ayam yang terakhir kali kubeli di warung. Yuck..

Sebagian cangkang telur masih terlihat indah dibalut kotoran ayam mengering. Belepotan nggak jelas, kan jadi nggak nafsu makan.

This might be how the world works

Ada kemungkinan penjual emang sengaja milih telur yang jelek-jelek duluan. Bungkus telur dan timbang di dalam warung, sehingga pembeli nggak liat, nggak bisa milih, apalagi protes.

"Hmm.. nih yang banyak lapisan telek, buat eluh.." Guman si penjual.

Sisain telur yang bagus buat pembeli emak-emak besok, jadi minimalisir resiko kena omel.

Well ini cuma imajiner, nyatanya mana tau lah. Tapi jika emang bener si penjual sengaja milih telur yang jelek duluan buatku, terkutuklah. 

Yang jelas, mau sengaja atau enggak.. udah kuputuskan, kapok beli di warung situ. He has no respect for his buyer, that's the point.

Tapi mungkin (bisa jadi) gitu cara kerjanya.. sering kan ada penjual ngasih bungkusan dagangan, yang busuk taruh bawah biar nggak kelihatan, yang bagus taruh paling atas biar nyolok mata. Seolah representatif, padahal scam.

Penjual model begini, dia nggak butuh pelanggan jangka panjang. Dia cuma mikir pendek. Good luck deh..

Sh!t happen..

Back to the topic, dini hari, dingin, keluar cuma pengen beli telur di Indomaret. Abis nyampe indomaret, malah stok telur abis. Yada.. yada.. kesialan pertama.

Pulang dengan tangan hampa.. nggak jadi sarapan telur ayam disambelin dueh... Mau pergi ke indomaret lain, males ah.. soalnya Indomaret (24 jam) berikutnya itu lokasinya lumayan jauh.

Anyway, yaudah pulang aja. Eh tapi perjalanan pulang, mendadak kepikiran pulsa mepet. Yowes mampir ke ATM (BNI) dulu, itung-itung udah terlanjur keluar, biar ada hasilnya. So.. lanjut isi pulsa di ATM.

Di depan ATM, muncul ide brilian. Gimana kalau sekalian bikin video, lumayan buat nambah materi YouTube.

"Tutorial Cara Isi Pulsa Telkomsel Via ATM BNI"

Wuih, iya lumayan. Walau kemungkinan sepi penonton (karena tutorial ini udah basi sekali), tapi minimal trus bisa update channel, ya kan?

FYI, ada peraturan baru Youtube : Channel nganggur beberapa waktu, bisa kena demonetized, atau dismonetisasi.

Walaupun nggak jelas juga aturannya, nganggur berapa lama? Nggak ada lanjutannya. Yang pasti, ada satu channelku yang hangus gara-gara dianggurin. Lama nggak dibuka, malah monetisasinya dicabut. Dipecat dari YPP (YouTube Partner Program). Yowes! Ini mah bukan kesialan, tapi udah level apes.

Padahal channel itu udah ditawar orang (viewer video) seharga 6 juta, sekarang malah udah nggak ada nilainya.

"Kenapa nggak dijual aja 6 Juta?"

Pertama, emang nggak ada rencana untuk dijual. Kedua, harga pasarannya 15 juta, Buos! Walau channel sepi bukan main nggak ketulungan, asal udah monetisasi, harganya minimal 15 juta. Ini nawar 6 juta yah mending nyebur laut aja sana.

Sebenarnya ini udah lumayan sih ditawar 6 juta, ada juga yang cuma mau gantiin pulsa malah. Yes, nggak salah baca. Channelku yang udah termonetisasi.. mau ditukar pulsa. How the fak!

Bayangin kita misal lagi jual emas sekilo, tiba-tiba ada orang bilang "emasnya tuker pulsa mau nggak?" 

Wait.. what? Situ sehat mas? 

"Hehe seriusan, saya gantiin pulsa 100 ribu boleh nggak?"

Wahahahahahahahahahaha very funny, Gunawan!

OK, back to the topic, nyampe ATM, ngisi pulsa 100 ribu, sekalian rekam psemuanya (bikin video step by step tentang cara isi pulsa via ATM). Dari awal masuk ATM, masukin kartu, masukin pin, pencet ini, pencet itu, dst..

Ternyata tinggal final take, alias final result mau nunjukin pulsanya udah masuk atau belum, malah sh!t happen, yap.. pulsa nggak masuk-masuk.

Sampai ditungguin beberapa menit di depan ATM, pulsa tetep belum masuk.

Well, aneh sekali..

Biasanya cuma butuh hitungan detik, nggak pernah trouble (mau isi jam berapapun) pulsa langsung masuk. Ini kok lama..

Yoweslah lanjut pulang, mungkin nanti pulsa masuk pas udah di rumah. "No big deal" batinku.

Nyampai rumah, nyalain laptop sambil refresh berkali-kali aplikasi Telkomsel di HP, tetep aja pulsa nggak masuk-masuk.

Tiba-tiba firasat buruk menguasai otak "Jangan-jangan salah nomor, pulsa nyasar".

Cek struk. Daaaaaaaaaaaan.. Yes! Ternyata salah nomor! Hore.. 100 ribu hilang sia-sia.


Itu di atas 081228343100, bukan nomorku. FFFFFUUUUUUU....!!!! Ada nomor yang kebalik.

Masih belum putus asa, coba hubungi nomor itu, siapa tau pemilik nomor itu mau berbaik hati mengembalikan pulsaku yang nyasar, bahkan dalam hati 50:50 nggak masalah deh. 

Eh ternyata ditelfon nggak nyambung, alias nomor nggak aktif. Oh mungkin HP nya mati, orangnya masih tidur. Coba add WA, nggak masuk juga, nomornya tidak terdaftar di WA.
.
Coba hubungi lagi, ternyata nomornya emang nggak terdaftar sama sekali. Di sms pun gagal. Yowes lah, kesialan lagi. Duit 100 ribu hangus.

Kesialan selanjutnya..

Tadi kan di ATM sempat bikin video (pake kamera HP). Pikirku, walau pulsa nggak masuk, tapi minimal udah mencakup semua proses, alias tutorial cara isi pulsa via ATM. Tinggal kasih tulisan.. pastikan jangan sampai salah nomor, dst. Intinya file video udah cukup lengkap untuk diedit-edit.

Nah pas mau mindah data dari HP ke laptop, ((((jeng.. jeng.. jeng..))) mendadak SD Card ngambek. Nggak kedetek. 

Coba restart HP sekali - dua kali, masih aja Micro SD tetap nggak mau terbaca di laptop. 

Restart HP sekali lagi, malah lebih parah. SD card nggak mau terbaca di HP. Pas dicek file videonya di galeri, malah hilang semua, nggak ada jejaknya (yaiyalah orang SD card nggak terbaca). 

Jadi di dalam galeri cuma ada foto-foto yang tersimpan di memory internal HP aja.

Great!!! Just... great!!!

Coba copot SD card, trus pake adapter biar bisa colokin ke laptop langsung.. tetap nggak terbaca. Sama sekali nggak kedetek.


Yasudahlah emang dasar lagi sial. Mungkin tadi malam emang bener-bener lagi kena azab. Yah mudah-mudahan gara-gara semua kesialan (dan keapesan) tadi, dosa-dosaku gugur semuanya.

No problem, nggak jadi sarapan telur disambelin, nggak dapat pulsa, video ilang sia-sia, no problem at all.. ASAL..... itu tadi.

Saturday, March 9, 2019

Hipnotis atau Hipnosis

with 0 Comment
Menurut KBBI, hipnotis artinya dalam keadaan hipnosis; atau berhubungan dengan hipnosis.

Sedangkan hipnosis artinya keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Ah mosok toh??

Menurut Wikipedia (yang entah siapa penulisnya), ilmu hipnosis udah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Awalnya hanya istilah, walau bisa dibilang  hipnosis sama aja artinya memang cuma sugesti. Indeed, sekedar sugesti.

Kemudian ilmu hipnosis ini berkembang, menjadi hipnoterapi (baca : takhayul). Menurutku sih ini justru kemunduran, karena prakteknya disertai mantra-mantra dan terapi (baca : ritual-ritual pagan). Mungkin biar lebih meyakinkan pasiennya (baca : mangsa korbannya).

Jadi ahli hipnosis ini membuka praktek seperti dukun (baca : pengobatan alternatif). Yep, mereka bukan hanya mengklaim bisa hipnosis, tapi juga merangkap sebagai psikiater dan dokter sekaligus. 

Lalu ketika agama lagi trending pada jamannya, para dukun ini berusaha mengikuti pop culture. Alhasil, yang tadinya mantra-mantra, diganti menjadi doa-doa. Walaupun ritualnya masih sama, intinya sih cuma cari duit dengan membuka praktek penyembuhan penyakit dan konsuling.

Udahlah abis itu ilmu hipnosis ini semakin ngaco. Isinya cuma orang yang mengaku-ngaku bisa ini dan itu. Cuma klaim pribadi, yang nggak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Ada yang mengaku bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan menyentuh, menepuk, bahkan cuma bertatap muka. 

Biasalah, kalau jaman sekarang sering denger dukun ngaku punya kekuatan gaib. Kadang-kadang untuk nipu orang kampung(an), dengan kata-kata yang seolah ilmiah, seperti gelombang elektromagnetik, pancaran energi, aura, dll atau dibungkus dengan istilah-istilah keagamaan, biar orang kampung(an) yang religius, langsung tercuci otaknya.

Bottom line

Hipnostis, hipnosis, maupun hipnoterapi sama aja nggak bisa diukur, maupun dibuktikan.

Jika ada orang mengaku sebagai ahli hipnotis, maka orang itu adalah pendusta.

Jika ada orang mengaku menjadi korban hipnotis, maka itu cuma pembodohan alibi. Yes, karena nggak bisa dibuktikan sama sekali.



Kadang denger ada orang ngaku sebagai korban hipnotis di jalan. Dompet ilang, tas ilang, bahkan kendaraan ilang.

Plis lah, biasanya orang yang mengklaim dirinya menjadi korban hipnotis, alasannya cuma karena malu, nggak sanggup ngomong kejadian yang sebenarnya.

Bisa jadi karena keluguan maupun kedunguan, kena tipu orang di jalan, endingnya cerita jadi korban hipnotis. Malu lah kalau cerita abis dibegoin.

Kena bius, ngakunya terhipnotis. Takut karena diancam pelaku kriminal, diperas orang, dipalak, atau cuma diintimidasi penjahat, ngakunya kena hipnotis.

Atau emang ada orang yang punya kemampuan persuasif tinggi, kek salesman door to door jaman dulu, akhirnya entah karena perasaan nggak enak atau gimana, nurut aja diminta ini dan itu. Begitu pulang, daripada dimarahin orang rumah, ngakunya kena hipnotis untuk menjaga reputasi.

Atau misal di dalam bus ketemu penjahat yang pintar beracting, pura-pura miskin, ekting memelas, nangis minta tolong, dsb. Karena kasihan akhirnya berusaha ngasih bantuan. Begitu penjahatnya turun dari bus, baru sadar kalau barusan kena tipu pengemis. Yowes daripada malu keliatan bodohnya, akhirnya ngakunya terhipnotis. As simple as that.

In the real world, misal diproses secara hukum sebagai korban hipnotis, mau sampai mahkamah tertinggi juga pasti bakalan ditolak dan diketawain doang.
ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending