Tuesday, December 11, 2018

Sekolah Formal itu Nggak Penting

with 0 Comment
Hanya subjekif, opini personal, alias ngedumel.

Menurut saya, sekolah formal hanya buang-buang waktu. TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 kuliah 4 tahun. Total 18 tahun makan bangku sekolahan. Iya kalau skripsi lancar, kalau enggak.. bisa lulus setelah 7 tahun kuliah. Banyak kejadian.

Belum lagi soal biaya & bagaimana kualitas tenaga pengajar? Guru atau dosen pendidiknya.

Berhubung saya nggak mengunyah bangku TK, maka hanya bisa menyebutkan beberapa poin tentang tenaga pendidik waktu mengenyam kursi SD, SMP, SMA, dan S1.
  • Semua jenjang pendidikan yang saya lalui selalu ada diantaranya guru yang abusive, alias kasar, suka kekerasan, menganiaya murid, atau sekedar hobi membentak-bentak tanpa sebab.
  • Selalu ada guru/ dosen yang pengetahuannya rendah, nggak layak jadi tenaga pengajar.
  • Ada guru / dosen yang hakikatnya nggak bisa ngajar.
  • Ada juga yang malas bukan main, walau sebenarnya ilmunya tinggi
  • Ada yang kombinasi malas plus tingkat keilmuannya juga rendah.
  • Ada yang suka bisnis jualan buku atau yang lainnya, memposisikan anak didik sebagai pelanggan / customer target.
  • Porsi terbesar adalah guru / dosen yang membosankan ketika mengajar, bikin ngantuk.
  • dan lain seterusnya masih banyak lagi.. sepertinya kurang layak disebutkan seperti guru / dosen m3sum, jorok, penyakitan, kemayu / sok ganteng, dll. Hehe.. disebutin juga. Atau sekedar pilih kasih, mata duitan, banci, hobi curhat, hobi bergosip, dll. Selalu ada dimana-mana.

Lagipula banyak ilmu yang didapat ternyata nggak bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, nggak bisa diamalkan dalam kehidupan nyata. 

Hal terbaik yang bisa didapatkan selama sekolah adalah punya banyak teman.

Kalau nggak sekolah nanti jadi generasi bodoh?

Kan saya bilang di awal.. sekolah formal. Kalau soal pendidikan, jelas sangat penting. Hanya menurutku sekolah persamaan, kejar paket, maupun home schooling jauh lebih baik dibanding sekolah formal. Lebih singkat, simpel, dan lebih murah. 

Ilmu bisa didapat seperlunya, hanya diambil intisarinya, yang penting-penting aja. Tenaga pengajar juga lebih fokus. Jauh dari guru / dosen nggak jelas seperti yang disebutkan di atas. Kalau ada yang menyimpang, tinggal ganti.

Bagaimanapun, pendidikan adalah vital.

Satu-satunya kekurangan yaitu tadi, temennya dikit.

Contoh produk gagal

Orang yang menulis "lg cri bji bgkul" adalah contoh orang NOL pendidikan. Sampai sekarang saya nggak paham, sebenernya dia nulis apa, maksudnya apa. 

Foto di atas hanya contoh sederhana betapa pentingnya pendidikan. 

Padahal dalam percakapan informal, nggak butuh EYD. Tapi kok masih aja ada yang suka menulis disingkat-singkat semacam model sms an tahun 90an. Waktu masih 350/sms.

Bisa jadi, orang yang bersangkutan sebenernya udah menguntal meja sekolahan. So.. entah karena dia malas, pekok, atau emang kualitas pendidikan yang dia dapat dulu terlalu rendah.

Monday, December 10, 2018

Perda Ongkos Parkir Pinggir Jalan di Wonosobo

with 0 Comment
PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM

BAB VI STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 8 ayat 1 :

Struktur dan besarnya tarif Retribusi untuk kendaraan ber motor ditetapkan sebagai berikut :
  • Kendaraan roda 2 (dua) sebesar Rp 500,00 (lima ratus rupiah)/3 (tiga) jam;
  • Kendaraan roda 4 (empat) sebesar Rp 1.000,00 (seribu rupiah) /3 (tiga) jam;
  • Kendaraan roda 6 (enam) sebesar Rp 3.000,00 (tiga ribu rupiah)/3 ( tiga) jam;
  • Kendaraan beroda lebih dari 6 (enam) sebesar Rp 5.000,00 (lima ribu rupiah) /3 (tiga) jam.

BAB X TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 12 :
  1. Pembayaran Retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus.
  2. Pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tanda bukti pembayaran.
  3. Setiap pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dalam buku penerimaan.

BAB XIV KEBERATAN Pasal 16 ayat 1 :

Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau Pejabat
yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

--------------------------------------

Personal Opinion :

Biar gampang dicerna, ongkos parkir motor 500, mobil 1000. Kalau udah bayar, maka berhak menerima bukti pembayaran. Kalau ada pelanggaran bisa lapor ke bupati atau pejabat yang ditunjuk.

Kenyataan di lapangan.. ya gitu dueh. Kalaupun nggak terima trus mau lapor atau bikin pengaduan, then how?? Apa ujug-ujug datang ke pendopo kabupaten, ya kalau nggak diusir. Haha..

SKIP

That's why saya benci politik. Saya yakin Bupati maupun pihak terkait tau (dengan sadar) kalau kejadian di lapangan (soal retribusi dan parkir) memang nggak sesuai perda. Nyatanya seolah tutup mata, melakukan pembiaran, entah ada upaya atau enggak, yang jelas.. sejak dulu nggak ada perubahan.

"Eh ada perubahan deng, semakin kesini semakin mahal. Apalagi pas weekend, wuih.. mantap biaya parkirnya.."

Padahal di pasal-pasal berikutnya juga ditulis dengan detail jika terjadi pelanggaran. Ada hukuman/sanksi dan konsekuensinya. Namun nyatanya.. yo ngono kui.. perda hanya sekedar perda.

Bahkan ane yakin, di kota lain juga ada kejadian serupa. Alias nggak hanya di Wonosobo yang begini.

FUN FACTS :

Di Indonesia, lulusan SMP bisa menjadi Bupati, Anggota Dewan, bahkan Menteri (melalui jalur politik). Giliran untuk menajdi PNS, hahaha syaratnya panjang dan ketat. Eh ada yang lebih parah, bahkan mantan narapidana juga bebas berpolitik. Yowes nggak heran banyak korupsi di Indonesia.



FUN FACTS LAGI (Nggak tau udah direvisi apa belum) :

Walau masa jabatan udah berakhir, mereka tetap mendapat uang pensiun, sampai mati. Ok jadi masuk akal, pantes Indonesia menjadi raja hutang, semakin miskin setiap tahunnya. Masa jabatan hanya beberapa tahun (4 atau 5 tahun sik), tapi menjadi beban APBN sampai puluhan tahun berikutnya.

Nggak heran banyak anak muda nyaleg. Iya kalau mereka ahli politik. Lah kerjaannya tiap hari nge-game, mau nyaleg. Lumayan kan dapat pensiun di hari tua. Bagi sebagian orang memang menggiurkan.

Sunday, December 9, 2018

Hidup Seperti Roda Berputar

with 0 Comment
Kalau ada orang lagi tertimpa kesusahan, biasanya ada orang mengeluarkan kalimat ajaib tentang roda "Kadang naik, kadang turun. Kadang di atas, kadang di bawah". 

Mungkin itu untuk sekedar menghibur. Kalau diri sendiri yang lagi susah, ya berarti untuk menghibur diri. Namun kalau orang lain yang kesusahan, yah berarti dalam rangka nyukurin.

Padahal pepatah itu cuma ngawur.

Tapi masih aja ada orang bilang "Ingat, Bos. Roda selalu berputar. Sekarang kaya raya, besok jatuh miskin, itu udah biasa. Makanya jangan sombong". 

"Ngomong aja, berarti selama ini kamu iri".



Roda berputar untuk mengibaratkan nasib itu terlalu sederhana, bahkan terlalu sempit nggak relevan. Banyak contoh kongkret di sekitar, dimana rodanya bener-bener macet, alias gancet nggak mau berputar.

Ada orang yang lahir dari keluarga miskin, sampai tua, bahkan sampai meninggal juga tetap miskin.

Ada pula yang lahir dalam keluarga kerajaan, dimana seumur hidupnya bergelimang harta. Bahkan sejak leluhur sampai keturunan generasi mendatang tetap kaya raya.

So, pepatah yang paling cocok adalah roda itu kadang macet, kadang juga berputar. Kadang perputarannya cepat, kadang juga perputarannya lambat. Atau bisa jadi diameter roda itu ada yang besar, ada yang sedang, ada pula yang kecil. Ukuran rodanya beda-beda, ada yang mini, ada yang raksasa. 

Bottom line : Memang ada orang yang seumur hidup ada di puncak, atau sebaliknya.. seumur hidup berasa di dasar, yang penting mah.. usahahahaha...



Last Words..
Nasib itu rumit, walaupun beberapa hal memang bisa diprediksi. Jadi kalau ada yang menghubungkan perjalanan hidup manusia itu ibarat roda, udah ketawain aja. Disamping udah terlalu klise, bukan hal baru, bahkan mungkin hampir semua orang udah pernah mendengarnya, juga nggak ada korelasinya.

Friday, December 7, 2018

Derita Lagi Gabut

with 0 Comment
Gabut adalah gaji buta. Oh bukan. Menurut terjemahan bebas, gabut artinya nggak jelas beut. Eh ngarang aja sih. Gabut bisa diartikan juga lagi bosen (bored) nggak ada kerjaan.

Yang jelas.. sungguh hina sekali orang yang menciptakan istilah gabut ini. Apalagi yang mengamalkannya.


Yes, saya punya FB lagi, alias fesbuk baru. Walaupun nggak ada satupun friend list yang dikenal, sama sekali. Tujuannya sih cuma untuk gabung di Grup Jual Beli dan komunitas hobi. Meski nggak terlalu aktif juga sih.

Tapi bukan itu yang mau dibahas. Namanya juga lagi gabut, kalau lagi nggak pengen jual-beli sesuatu di grup, yaudah berakhir keisengan. Buka ini itu cuma untuk nulis-nulis komen nggak jelas.

So, di salah satu grup FB yang saya ikuti. Ada satu seller yang posting dengan kalimat pembuka "Budayakan membaca". Mungkin tujuannya biar calon buyer nggak terlalu kebanyakan nanya. 

Logikanya, secara konsekuensi dari kalimat "budayakan membaca", maka seller akan menjelaskan deskripsi produk secara lengkap dan jelas. Ya kan?

Eh ternyata dia tidak menyertakan poin yang justru menurutku paling vital, yaitu harga barang yang dijual dan lokasi dimana barang itu bisa dipantau.

So, dikarenakan ke-gabut-an yang mendalam, walaupun nggak ada niat membeli, saya pun komen "Budayakan nulis sing jelas, infone seng lengkap termasuk harga & lokasi".

Terjemahan : Budayakan nulis (deskripsi produk) yang jelas, info (terkait produk) yang lengkap termasuk harga dan lokasi.

Btw, masih normal kan komentar saya?

Liat apa balesan seller kampret ini : "Budayakan komen kalau ada kependingan, kalo ngk ada ngk usah komen"

Wuih.. jangan-jangan orang ini bisa membaca pikiran. Kok bisa tau kalau saya nggak ada niat membeli, alias cuma komen gabut. He he.. mustahil ah. Tapi udah dibantu sundul, kok gitu jawabnya? Bukankah harusnya dia diuntungkan karena udah dibantu "UP".

Minimal ada 2 hal yang bikin gregetan dari jawaban si seller ini :
  1. Dia typo nulis kependingan. Kemungkinan besar (99%), maksudnya ingin menulis "kepentingan". Biarin lah, wajar typo. Saya juga sering.
  2. Seller ini punya ego tinggi dan mudah emosi. Arogan, cuma mau menang sendiri. Dia nggak mau menerima kritik dan masukan. Pokoknya harus menang. 
Padahal kupikir komentarku adalah kritik yang membangun, agar dia menyertakan harga dan lokasi, biar lebih lengkap. Ternyata justru dijawab dengan ketus.

Eh belum tentu ketus juga sih, bisa jadi dia jawab komentar sambil ngupil.

Tapi yang jelas, cuma dari satu jawaban komentar, udah bisa menilai karakter orang itu. Finally, seller ini resmi saya nobatkan sebagai manusia egois.

Yap, itu efeknya kalau saya lagi gabut. Hobinya scrolling.. scrolling.. judging.. judging.
ADMANDA. Powered by Blogger.

Connect With Me

Artikel Acak

Lagi Trending